Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Al-qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-qur'an. Tampilkan semua postingan

Melakukan Amal Shalih Sebanyak-Banyaknya

Melakukan Amal Shalih Sebanyak-Banyaknya
Taujih oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz
“Mereka itu tidak sama. Di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu

di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang yang shalih.” (QS Ali ‘Imran [3]: 113-114

 

Tidak Tartil dalam Membaca al-Quran. Bolehkah?


Semenjak mendekati bulan Ramadhan ini saya biasakan untuk mengaji sendiri di rumah. Saya sudah mengenali huruf dan tanda baca al-Qur'an. Tetapi saya mengajinya kurang fasih. Bagaimana hukumnya bila saya salah melafalkan ayat-ayat suci al-qur'an tanpa saya sengaja? mohon jawaban.

Kakung widada


Jawab:

Mas Kakung widada, saya ucapkan selamat atas keberhasilan mas Kakung yang sudah mengenali huruf dan tanda baca al-Qur'an.

Dalam membaca al-Qur'an disunnahkan membacanya dengan tartil, yaitu pelan dan membaguskan bacaannya (sesuai tuntunan tajwid) serta bertadabbur (mengangan-angan maknanya) dalam hati akan isi setiap ayat yang dibaca. Allah SWT berfirman. "Bacalah al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan" (QS. Al-Muzammil:4) dan firman-Nya "Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya". (QS. Shad:27)

Adapun apabila kurang fasih membacanya, atau sering salah melafalkan dengan tanpa sengaja, maka hukumnya tidak apa-apa. Namun bukan berarti boleh terus membaca apa adanya. Anda harus berlatih terus demi meningkatkan kemampuan membaca, sampai akhirnya bisa fasih sesuai dengan tuntunan tajwid. Karena kesalahan membaca (hurufnya dan panjang-pendeknya) tentu akan merubah makna dan tujuan yang tersirat. Juga hendaknya tidak melupakan hal lain yang paling urgen dalam membaca al-Qur'an yaitu bertadabbur (mengangan-angan) akan makna dan maksud setiap ayat.

Mutamakkin Billa


pesantrenvirtual.com


 

KAIFA NATA’AMALU MA’A AL QUR’ANI AL-AZHIM


Adab-adab seorang Muslim terhadap Al-Qur’an :
1.A. ADAB I : MEMBACANYA DAN MEMILIKI TILAWAH YAUMIYAH
Tilawatul Qur’an merupakan aktivitas ibadah yang sangat baik untuk memberi kedamaian dan ketenangan hati. Dengan memiliki tilawah harian yang rutin, baik dan stabil, maka akan membuat shahihul ibadah pada diri seseorang dan dimilikinya mutsaqqaful fikr.
Ibadah yang baik tidak hanya pada aspek kuantitatifnya, tapi keistiqamahan atau konsistensi seseorang melakukannya, meskipun sedikit.
“Beramal, berbuatlah semampu kalian! Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah amal perbuatan yang terus menerus walaupun sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim)
1.a.i. Fadhail Membaca Al-Qur’an
Abu Umamah ra. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Bacalah Qur’an karena ia akan datang pada hari qiamat pembela pada orang yang mempelajari dan menta’atinya. (Muslim)
Usman bin Affan ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sebaik-baik kamu yaitu orang yang mempelajari Qur’an dan mengajarkannya. (Bukhari)
Aisyah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Orang yang mahir dalam membaca Qur’an akan berkumpul dengan para Malaikat yang mulia-mulia ta’at. Sedang orang yang megap-megap dan berat jika membaca Qur’an, mendapat pahala lipat dua kali. (Bukhari, Muslim)
Allah telah menghargai kerajinan dan kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh untuk dapat membaca, karena itu diberinya pahala berlipat.



Abu Musa Al-Asy’ary ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang mu’min yang membaca Qur’an bagaikan buah limau (jeruk) baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak dapat membaca Qur’an bagaikan kurma, rasanya lezat tetapi tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Qur’an bagaikan bunga, berbau harum tetapi rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca Qur’an bagaikan buah handhol tidak berbau dan rasanya pahit. (Bukhari, Muslim)
Umar bin Alkhotthob ra. berkata: Bersabda Nabi saw.: Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab Qur’an dan akan merendahkan kaum lain dengannya juga. (Muslim)
Kaum yang mengikuti dan mempercayai ajaran-ajarannya akan diangkat tingkat derajatnya, sebaliknya yang mengabaikan ajarannya akan dihinakan dan direndahkan-Nya.
Ibnu Mas’ud r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (Attirmidzi)
Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya seseorang yang di dalam dadanya tiada Qur’an, maka ia bagaikan rumah yang rusak kosong. (Attirmidzi)
Mengenai pahala membaca Al Qur’an, Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa, tiap-tiap orang yang membaca Al Qur’an dalam sembahyang, akan mendapat pahala lima puluh kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya, membaca Al Qur’an di luar sembahyang dengan berwudhu’, pahalanya dua puluh lima kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya dan membaca Al Qur’an di luar sembahyang dengan tidak berwudhu’, pahalanya sepuluh kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya.
Al-Qur’an adalah salah satu rahmat yang tak ada taranya bagi alam semesta.
Setiap orang yang mempercayai Al Qur’an akan cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, cinta untuk mempelajari dan memahaminya serta pula untuk mengamalkan dan mengajarkannya sampai merata rahmatnya dirasa oleh penghuni alam semesta.
Membaca Al Qur’an (saja) sudah termasuk amal yang sangat mulia. Al Qur’an adalah sebaik-baik bacaan (baik dikala senang ataupun susah) dan membaca Al Qur’an juga dapat menjadi obat dan penawar kegelisahan.




Pada suatu ketika datanglah seseorang kepada sahabat Rasulullag yang bernama Ibnu Mas’ud r.a. meminta nasehat, katanya: “Wahai Ibnu Mas’ud, berilah nasehat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang gelisah. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tenteram, jiwaku gelisah dan fikiranku kusut; makan tidak enak, tidur tak nyenyak.”
Maka Ibnu Mas’ud menasehatinya, katanya: “Kalau penyakit itu yang menimpa-mu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ke tempat orang membaca Al Qur’an, engkau baca Al Qur’an atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya; atau engkau pergi ke Majlis Pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah; atau engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat menyembah Allah, umpama di waktu tengah malam buta, di saat orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, meminta dan memohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketentraman fikiran dan kemurnian hati. Seandainya jiwamu belum juga terobat dengan cara ini, engkau minta kepada Allah, agar diberi-Nya hati yang lain, sebab hati yang kamu pakai itu, bukan lagi hatimu.”
Setelah orang itu kembali ke rumahnya, diamalkannya nasihat Ibnu Mas’ud ra. itu. Dia pergi mengambil wudhu kemudian diambilnya Al Qur’an, terus dia baca dengan hati yang khusyu’. Setelah membaca Al Qur’an, berobahlah kembali jiwanya, menjadi jiwa yang aman dan tenteram, fikirannya tenang, kegelisahannya hilang sama sekali.
• Sunnat Berkumpul Untuk Mempelajari Qur’an
Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Dan apabila berkumpul suatu kaum dalam majlis untuk membaca kitab Allah dan mempelajari, maka pasti turun pada mereka ketenangan dan diliputi oleh rahmat dan dikerumuni oleh Malaikat dan diingati oleh Allah di depan para Malaikat yang ada pada-Nya. (Muslim)
Membaca Al Qur’an, baik mengetahui artinya ataupun tidak, adalah termasuk ibadah, amal shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya; memberi cahaya ke dalam hati yang membacanya sehingga terang benderang, juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga tempat Al Qur’an itu dibaca.
• Membaca Al Qur’an Sampai Khatam
Bagi seorang Mu’min, membaca Al Qur’an telah menjadi kecintaannya.
Tiada suatu kebahagiaan di dalam hati seseorang Mu’min melainkan bila dia dapat membaca Al Qur’an sampai khatam. Bila sudah khatam, itulah puncak dari segala kebahagiaan hatinya.
Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, Imam Al Ghazali menggambarkan bagaimana para sahabat, dengan keimanan dan keikhlasan hati, berlomba-lomba membaca Al Qur’an sampai khatam.



1.a.ii. Adab membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai Kalamullah, mempunyai adab-adab tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan sangat baik, untuk penghor-matan dan keagungan Al Qur’an.
Diantara adab-adab membaca Al Qur’an yang terpenting ialah :
1. Disunatkan membaca Al Qur’an sesudah berwudhu, dalam keadaan suci
2. Disunatkan membaca Al Qur’an di tempat yang bersih. Tetapi yang paling utama ialah di mesjid
3. Disunatkan membaca Al Qur’an menghadap ke qiblat
4. Sebelum membaca Al-Qur’an, disunatkan membaca ta’awwudz (QS. An Nahl 16:98)
5. Disunatkan membaca Al-Qur’an dengan tartil (QS. Al Muzzammil 73:4)
6. Disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya (QS. An Nisaa’ 4:82)
7. Sedapat-dapatnya membaca Al Qur’an janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai ke batas yang telah ditentukan, barulah disudahi
Imam Al Ghazali telah memperinci dengan sejelas-jelasnya bagaimana adab-adab membaca Al Qur’an itu. Malahan Imam Al Ghazali telah membagi adab-adab membaca Al Qur’an menjadi adab yang mengenal batin, dan adab yang mengenal lahir. Adab yang mengenal batin itu, diperinci lagi menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati di kala membaca sampai ke tingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan demikian kandungan Al Qur’an yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat bersemi dalam jiwa dan meresap ke dalam hati sanubarinya. Kesemuanya ini adalah adab yang berhubungan dengan batin, yaitu dengan hati dan jiwa.
• Mendengar Bacaan Al Qur’an
“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhati-kanlah dengan tenang, agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al A’raaf 7:204)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al Anfaal 8:2)
Mendengar bacaan Al Qur’an dengan baik, dapat menghibur perasaan sedih, menenangkan jiwa yang gelisah dan melunakkan hati yang keras, serta mendatangkan petunjuk.
Demikian besar mu’jizat Al Qur’an sebagai wahyu Ilahi, yang tak bosan-bosan orang membaca dan mendengarkannya, semakin terpikat hatinya kepada Al Qur’an itu.





1.a.iii. Kiat Praktis Tilawah Yaumiyah
Pembagian wirid Al-Qur’an sebagaimana dilakukan oleh generasi salaf :
1. Waktu tercepat mengkhatamkan Al-Qur’an adalah tiga hari. Para ulama menganggap makruh apabila seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari.
2. Batas pertengahan, jika memungkinkan hendaklah seorang da’i mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu satu pekan.
3. Seandainya tidak mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu satu pekan karena banyaknya aktifitas yang harus diselesaikan, hendaklah membacanya sesuai dengan kemampuan. Dengan catatan jangan biarkan satu haripun berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.
Kebiasaan sahabat “yang paling malas” adalah menghatamkan Al-Qur’an setiap sebulan sekali – yang berarti membaca Al-Qur’an setiap hari satu juz. Hal ini sebenarnya mudah kita lakukan jika kita memiliki motivasinya : cukup sediakan waktu untuk tilawah Al-Qur’an 2 lembar setiap sehabis shalat fardhu. Maka sehari kita telah membaca 10 lembar yang berarti satu juz.
1.B. ADAB II : MEMPELAJARINYA
1.b.i. Urgensi tadabbur Qur’an
Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk tidak hanya wajib dibaca tapi diikuti isinya. Maka, mengetahui isi dan menggali makna ayat-ayat Al-Qur’an menjadi kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim. Saat ini sudah banyak beredar terjemahan tafsir Al-Qur’an dengan bahasa Indonesia. Ada pula tafsir AL-Qur’an karya ulama Indonesia. Seorang muslim harus senantiasa melakukan pendalaman terhadap Al-Qur’an sehingga ia memiliki bashirah dalam memandang berbagai masalah.
1.b.ii. Amalan dalam tadabbur Al-Qur’an
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (Al Anfaal 8:2)
1. Mutakallim (Mengagungkan Allah)
Seorang pembaca harus menghadirkan dihatinya keagungan Allah dan mengetahui bahwa apa yang dibacanya bukanlah pembicaraan manusia dan membaca kalam Allah sangat penting.
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (al-Waqi’ah:79)
2. Kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa
“Wahai Yahya, ambillah al-Kitab dengan kekuatan.” (Maryam:12)
Yakni dengan serius dan sungguh-sungguh yaitu dengan berkonsentrasi penuh dalam membacanya, dan mengarahkan perhatian hanya kepadanya.



3. Tadabbur
Tujuan membaca adalah tadabbur, oleh karena itu disunnahkan membaca dengan tartil sedab di dalam tartil secara zhahir memungkinkan tadabbur.
Jika tidak bisa melakukan tadabbur kecuali dengan mengulang-ulang (bacaan) maka hendaklah ia melakukannya kecuali di belakang imam.
4. Tafahhum (memahami secara mendalam)
Yaitu mencari kejelasan dari setiap ayat secara tepat, karena al-Qur’an meliputi berbagai masalah tentang sifat-sifat Allah, perbuatan-perbuatan-Nya, ihwal para Nabi, ihwal para pendusta dan bagaimana mereka dihancurkan, perintah-perintah-Nya, larangan-larangan-Nya, sorga dan neraka.
5. Meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi pemahaman :
1. Taqlid kepada madzhab tertentu saja
2. Berterus menerus dalam dosa
3. Berpegang pada tafsir zhahir saja dan meyakini tidak ada makna lain bagi kalimat-kalimat al-Qur’an
6. Takhshish (menyadari bahwa dirinya merupakan sasaran yang dituju oleh setiap nash)
Jika mendengar suatu perintah atau larangan maka ia memahami bahwa perintah atau larangan itu ditujukan kepada dirinya.
7. Ta’atstsur (mengimbas ke dalam hati)
Hatinya terimbas dengan berbagai imbasan yang berbeda sesuai dengan beragamnya ayat yang dihayatinya – rasa sedih, takut, harap dsb.
8. Taraqqi (meningkatkan penghayatan sampai ke tingkat mendengarkan kalam dari Allah bukan dari dirinya sendiri)
9. Tabarriy (melepaskan diri dari daya dan kekuatannya)
Apabila membaca ayat-ayat janji dan sanjungan kepada orang-orang shalih maka ia tidak menyaksikan dirinya pada hal tersebut, tetapi menyaksikan orang-orang shiddiqin berada di dalamnya kemudian ia merindukan untuk disusulkan Allah kepada mereka. Apabila membaca ayat-ayat kecaman dan celaan kepada orang-orang yang bermaksiat dan orang-orang yang lali, ia menyaksikan dirinya berada di sana dan merasakan bahwa dirinyalah yang dimaksudkan oleh ayat-ayat tersebut.
1.C. ADAB III : MENGAMALKANNYA
Bila setiap kali membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan yang simpatik, “Hai orang-orang beriman!”, maka hendaknya seorang muslim betul-betul memperhatikan apa yang disebutkan setelah seruan ini untuk kemudian diaplikasikan seraya mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat, kami mengharap ampunan-Mu ya Allah, kepada-Mu lah kami akan kembali”.
Mengamalkan Al-Qur’an didasari mentalitas jiddiyyah (kesungguhan)
Jiddiyyah adalah lawan dari main-main, menyepelekan, lemah dan santai.
Jiddiyyah adalah pelaksanaan perintah syariat dan dakwah secara langsung disertai dengan ketekunan dan kegigihan, mengeluarkan segala kemampuan maksimal untuk mensukseskannya dan mengatasi segala hambatan dan rintangan yang menghadangnya.


Definisi ini meliputi lima syarat, yaitu :
1. Cepat dalam melaksanakan tugas
2. Kuat dan teguh hati
3. Tahan dan gigih
4. Mengerahkan segala kemampuan
5. Mengatasi rintangan
Generasi sahabat telah banyak memberikan keteladanan mengenai mentalitas jiddiyyah dalam mengamalkan perintah ini.
1.c.i. Kecepatan melaksanakan tugas
Ketika Allah swt. menurunkan ayat, “Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala dan undian adalah kotor dari perbuatan syaitan. Oleh karena itu jauhilah dia supaya kamu bahagia. Syaitan hanya bermaksud untuk mendatangkan permusuhan dan kebencian di antara kamu sebab khamar dan judi, serta menghalang kamu daripada ingat kepada Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mau berhenti?” (al-Ma’idah:90-91)
Ketika ayat itu turun dan kabar itu dibawa oleh sahabat sementara mereka sedang minum, saat itu juga mereka menghentikannya dan tunduk pada perintah Allah lalu berkata, “Kami telah berhenti kami telah berhenti.”
Contoh lain adalah sikap wanita Anshar ketika turun tentang ayat-ayat kerudung. Ketika itu para suami pulang ke rumah untuk memberitahukan tentang ayat tersebut, “… dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya”, mereka langsung merobek pakaian mereka dan menjahitnya untuk dijadikan kain kerudung. Sehingga ketika mereka melaksanakan shalat Shubuh, terlihat seakan ada yang aneh di atas kepala mereka. Tidak seorang pun tertinggal dalam melaksanakan perintah itu.
1.c.ii. Kekuatan dan Keteguhan
Adalah Ja’far bin Abi Thalib ra. dalam perang Mu’tah. Ketika tangan kanannya yang membawa bendera terpotong, ia pindahkan bendera itu ke tangan kirinya. Musuh memotong tangan kirinya, lalu ia memeluk bendera itu dengan kedua tangannya yang terputus. Dan bendera itu tetap kokoh berkibar hingga ia syahid.
Ada pula sahabat yang berjuang dengan berani dalam perang Hamra’ul Asad. Walaupun mereka terluka dan baru kembali dari perang Uhud, namun mereka tidak merasa lemah dengan apa yang menipa mereka dalam berjuang di jalan Allah. Mereka bangkit dengan kekuatan dan kegigihan para pejuang dan tekad para pemuda untuk mengejar orang-orang musyrik, meski mereka yang menderita luka ringan harus memikul saudaranya yang terluka parah.
1.c.iii. Ketahanan dan Kegigihan
Para sahabat ra terus mempertahankan kebenaran dengan kegigihan dan ketahanan, kepribadian dan kesungguhan yang tinggi, mereka meninggalkan tanah, rumah, keluarga, anak dan harta mereka. Mereka berjihad untuk mendapatkan nilai yang mahal dan murni dari Allah SWT. Mereka menghadapi kesulitan dan rintangan hingga Allah swt mengokohkan agama-Nya dan mengibarkan bendera Islam di setiap pelosok, memperbesar kekuasaannya dan memperluas wibawanya di hadapan raja-raja zaman itu.
1.c.iv. Mencurahkan Segenap Kemampuan
Yang dimaksud dengan kemampuan adalah jiwa, anak, harta, keluarga dan apa saja yang dimiliki manusia.
Inilah Ash Shiddiq ra. yang datang dengan seluruh hartanya untuk diinfaqkan dalam berjihad dan berkata, “Aku telah tinggalkan untuk mereka, keluargaku, Allah dan rasul-Nya”.
Utsman ra mempersiapkan tentara yang sempurna dalam perang Tabuk.
Dan Mush’ab ra. meninggalkan seluruh kehidupan mewahnya. Ia ridha dengan yang sedikit, bahkan dapat dikatakan ‘lebih sedikit dari yang sedikit’… dan dia berhijrah. Ia adalah duta besar dakwah. Dia berjihad dan akhirnya menemui Allah sebagai syahid, dalam keadaan yang membuat Rasulullah dan para sahabat begitu trenyuh hingga menangis.
1.c.v. Mengatasi Rintangan
Ada sahabat bernama ‘Amru bin Al-Jamuh ra. Ia ingin berjihad, namun dilarang oleh anak-anaknya karena ia pincang, namun ia tetap bersikeras. Maka Rasulullah saw memberitahu tentang rukhshah untuknya. Sahabat itu berkata, “Semoga aku masuk surga dengan kepincanganku.” Dan itulah yang terjadi.

Itulah lima rukun jiddiyyah dalam mengamalkan Al-Qur’an. Saat kita gagal menghadirkan kelima rukun jiddiyah dalam usaha kita mengamalkan Al-Qur’an maka kita belum terlepas dari kewajiban untuk mengamalkan Al-Qur’an tersebut.
1.D. ADAB IV : MENGHAFALKANNYA
1.d.i. Ahamiyah (urgensi) Hifzhul Qur’an
1. Menjaga kemutawatiran Al-Qur’an
Sehingga Al-Qur’an teriwayatkan secara mutawatir dan tidak mudah bahkan tidak mungkin diubah atau dipalsukan oleh tangan-tangan kotor, sebagaimana kitab-kitab suci sebelumnya.
Para ulama menetapkan bahwa hifzhul Qur’an hukumnya Fardhu Kifayah.
(Kifayah artinya cukup. Masuk akalkah kaum muslimin di Indonesia, misalnya, yang jumlahnya lebih dari 200 juta, namun yang hafal Al-Qur’an tidak ada satu persen pun? Sehingga andaikata para penghafal Al-Qur’an yang ada sekarang menangani pembinaan umat tertentu tidak akan memadai jumlahnya. Karena itu, pelaksanaan fardhu kifayah dalam hifzhul Qur’an perlu digalakkan.
2. Meningkatkan kualitas umat
Umat Islam telah dibekali Allah SWT, suatu mukjizat yang sangat besar, yaitu Al-Qur’an. Tidak terangkat umat ini kecuali dengan Al-Qur’an (QS. 21:10)
3. Menjaga terlaksananya sunnah-sunnah Rasulullah SAW
Sebagian ibadah yang dilakukan Rasulullah SAW., ada yang sangat terkait dengan hifzhul Qur’an dalam pelaksanaannya. Hafalan yang terbatas pada surat-surat pendek dalam juz 30 akan membatasi kita dalam mentauladani ibadah beliau secara sempurna.

• Shalat Jum’at yang ideal adalah yang dilakukan dengan memendekkan khutbah dan memanjangkan shalat. Rasulullah SAW., selain membaca surat Al A’la dan Al Ghasiyah, beliau sering juga membaca surat Al Jumu’ah dan Al Munafiqun
“Sesungguhnya panjang shalat seseorang dan pendek khutbahnya merupakan tanda kefahaman diennya.” (HR. Muslim)
• Pada hari Jum’ar Subuh dua surat yang dibaca adalah surat As Sajdah dan surat Al Insan
• Pada shalat Iedain (dua hari raya) selain membaca surat Al A’la dan Al Ghasiyah, beliau sering juga membaca surat Qaf dan Al Qamar.
• Dalam qiyamullail, beliau pernah membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisaa’.
Hal ini seakan memberi teguran kepada kita, betapa umat ini sangat kurang akrab dengan Al Qur’an. Surat-surat yang dibaca oleh para imam di masjid atau mushalla terbatas pada surat-surat di juz amma, sehingga surat lain menjadi asing di telinga kita. Kondisi ini telah berjalan bertahun-tahun tanpa ada usaha peningkatan.
Wajarlah jika generasi sekarang yang ingin menghafal Al-Qur’an harus berjuang ekstra keras, karena sang telinga tidak biasa dan terlatih sebelumnya mendengarkan ayat-ayat panjang.
Metode tarbiyah Rasulullah lebih banyak mengajak sahabat untuk langsung berinteraksi terhadap ayat-ayat Allah dengan frekuensi waktu yang cukup lama, dari pada mengajak mereka mendengarkan uraian-uraian yang panjang bertele-tele.
4. Menjauhkan mu’min dari aktivitas laghwu (tidak ada nilainya di sisi Allah)
Kembali kepada Al Qur’an adalah salah satu di antaranya. Dengan selalu membacanya apalagi menghafalnya, secara otomatis akan mendindingi kita dari perbuatan laghwu dan membuang-buang waktu. Seorang penghafal Al Qur’an dituntut untuk memiliki keterikatan yang tinggi dengan Al Qur’an, baik ketika ia dalam proses menghafal maupun ketika selesai menghafal.
5. Melestarikan budaya Salafus Shalih
Mereka memberikan perhatian dalam menghafal dan memahami Al-Qur’an. Proses mentahfizhkan anak-anak, mereka lakukan sejak dini. (Imam Syafi’i pd usia 10 th)
1.d.ii. Fadhail (keutamaan) Hifzhul Qur’an
1. Al-Qu’an menjanjikan kebaikan, berkah dan kenikmatan bagi penghafalnya
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat Al Qur’an bagaikan rumah yang rusak dan yang berpenghuni.” (HR. Atturmudzi)


2. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapat Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi Saw.)
Rasulullah menimbang kepribadian seseorang tergantung kuantitas hafalan Qur’annya.
Diantaranya adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an Rasul mendahulukan pemakamannya.
“Adalah nabi mengumpulkan diantara dua orang syuhada’ Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah diantara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)
Pada kesempatan lain Nabi SAW., memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi.
“Telah mengutus Rasulullah SAW., sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab, “Aku hafal surat ini … surat ini … dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabii lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pimpinan delegasi.” (HR. Atturmudzi dan An Nasa’i)
Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW., menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah.
“Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)
3. Hifzhul Qur’an merupakan ciri orang yang diberi ilmu (QS> 29:49)
4. Hafizh Al Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga diantara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR Ahmad)
5. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkannya dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)
6. Al-Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi para penghafal
“Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).” (HR. Muslim)
“Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat, ibadah puasa itu akan berkata, “Ya Allah aku telah mencegahnya dari syahwat pada siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.” Dan akan berkata Al Qur’an, “Aku telah mencegahnya tidur pada malam hari, maka izinkan aku memberinya syafa’at.” (HR. Ahmad)
7. Hifzhul Qur’an akan meninggikan derajat manusia di Surga
“Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
8. Para penghafal Al Qur’an bersama para Malaikat yang mulia dan taat
“Orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia mahir bersama para malaikat yang mulia dan taat, dan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia terbata-bata dan merasakan kesulitan, ia mendapat dua pahala.” (Mutafaqun ‘Alaih)
9. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan)
“Mereka akan dipanggil, “Dimana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku? Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. Jika kedua orang tuanya seorang muslim, maka keduanya akan diberi pakaian yang lebih bagus dari dunia dan seisinya, kedua orang tuanya akan mengatakan, “Bagaimana kami bisa mendapatkan ini? “Maka akan dijawab, “Ini karena anakmu berdua membaca Al Qur’an.” (HR. Attobarani)
10. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Quran
Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitu sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap hurufnya.
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (Attirmidzi)



1.d.iii. Persiapan dan cara menghafal Al-Qur’an
1. Merasakan keagungan Al Qur’an dan memiliki ihtimam (perhatian) terhadap Al Qur’an.
Mental ini sebagai penguat saat anda menghafal. Yakinkan diri bahwa anda sedang melakukan sesuatu yang sangat agung dan mulia, sesuai dengan keagungan Al Qur’an itu sendiri dan sanjungan Allah dan Rasul-Nya bagi orang yang menghafal Al Qur’an. Dengan mental ini anda akan merasakan tidak ada keterpaksaan ketika melakukan hifzhul Al Qur’an.
2. Pandai mengatur waktu
Kalau anda adalah calon hafizh Al Qur’an yang berjiwa da’i, tentunya anda memiliki banyak aktivitas. Namun kesungguhan anda dalam mengatur waktu insya Allah membuat anda mampu meluangkan waktu untuk hifzhul Al Qur’an. Anda harus siap untuk bekerja keras di tengah-tengah kesibukan yang selalu mendera. Kurangi waktu tidur atau waktu bersantai, bahkan bila perlu hiburan anda terdapat dalam hifzhul Qur’an.
Abdullah bin Mas’ud ra. : “Seyogyanya bagi seorang penghafal Al Qur’an dapat diketahui pada waktu malamnya, apabila manusia sedang tidur. (Ia berjaga untuk qiyamul lail dan tilawah Al Qur’an)”
Al Fudhail bin ‘Iyadh ra. : “Penghafal Al Qur’an adalah pembawa panji Islam, tidak pantas baginya bermain-main bersama orang-orang yang suka bermain, tidak lupa diri bersama orang yang lupa diri, tidak berkata yang laghwu (tidak ada nilainya) bersama orang-orang yang suka berkata laghwu. Itu semua perlu dilakukan untuk menjaga keagungan haq Al Qur’an.”
3. Tabah menghadapi masyaqat (kesulitan) menghafal
Perjalanan menuju cita-cita tersebut tidak semudah dan seindah yang anda bayangkan. Anda perlu bermental baja, tidak lekas futur apalagi putus asa.
Tabah dan sabar merupakan kunci sukses sebagian manusia untuk mencapai cita-cita yang sangat berat dilakukan oleh kebanyakan manusia, walaupun sesungguhnya pekerjaan itu tidak ada nilainya di sisi Allah. Kalau mereka bersabar dan tabah untuk aktivitas yang tidak ada nilainya, tentunya seorang penghafal Qur’an harus lebih sabar dari mereka mengingat Al Qur’an menjanjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
1.d.iv. Teknik Menghafal
1. Teknik memahami ayat-ayat yang akan dihafal
2. Teknik mengulang-ulang sebelum menghafal
3. Teknik mendengarkan sebelum menghafal
4. Teknik menulis sebelum menghafal

Teknik apapun yang dilakukan tidak akan terlepas dari pembacaan yang berulang-ulang sampai anda dapat mengucapkannya tanpa melihat mushaf sedikitpun.

Teknik-teknik diatas hanyalah langkah awal yang sering dilakukan para penghafal Al Qur’an ketika memulai menghafal agar mendapat kemudahan. Sedangkan cara mana yang paling ideal tergantung dengan selera penghafal itu sendiri. Yang paling baik adalah yang membuat kita betah dan merasakan kenikmatan ketika menghafal.
1.d.v. Kegiatan Penunjang Menghafal Al-Qur’an
1. Bergaul dengan orang yang sedang/sudah hafal Al Qur’an
Suatu saat kondisi futur alias kelesuan ketika menghafal akan datang. Faktor penyebabnya dapat hadir dari dalam atau dari luar diri.
Dengan bergaul dengan orang-orang yang sedang atau yang sudah hafal Al Qur’an, akan membantu anda konsisten dalam program menghafal Qur’an. Anda bertanya, mengapa dia mampu sementara saya tidak? Selain itu mereka juga berfungsi sebagai pemberi motivasi saat kelesuan menghafal datang menghampiri.
2. Mendengarkan bacaan hafizh Qur’an
Hal ini sangat berpengaruh pada anda untuk tetap bersemangat dalam menghafal Al-Qur’an. Perhatikan bacaan sang hafizh, sejauh mana ia menerapkan hukum-hukum tilawah dengan baik, ghunnah-ghunnahnya, panjang pendeknya, dan lain sebagainya. Perhatikan irama bacaan yang dikumandangkan, bagaimanapun masalah irama sangat berpengaruh untuk menghasilkan tilawah dapat yang menarik orang lain agar tertarik dengan Al Qur’an. Irama yang bagus yang dikumandangkan oleh seorang pembaca yang ikhlas dan taqwa kepada Allah SWT., akan mempunyai dampak yang sangat besar bagi para pendengarnya. Kemampuan menguasai suatu irama dapat anda capai setelah anda mendengarnya berpuluh-puluh kali. Perhatikan juga kekhusyu’an sang hafizh dalam membacakan ayat-ayat Allah, ketika merasakan sedih, usahakan anda juga merasakan kesedihan yang sama, karena hal ini akan membekas saat anda membaca ayat yang telah didengar tadi. Perhatian anda yang besar untuk melakukan hal ini sangat membantu tercapainya kesuksesan menghafal Al Qur’an.
3. Mengulang hafalan bersama orang lain
Ketika anda tidak lancar dalam membaca hafalan, sementara teman anda lancar, anda akan segera mengetahui kualitas bacaan anda selama ini, atau bahkan terjadi sebaliknya anda akan lebih bersemangat lagi untuk melanjutkan program tahfizh ini.
4. Selalu membacanya dalam shalat
Membaca Al Qur’an pada waktu shalat, suasananya lain dibandingkan dengan ketika anda membacanya di luar shalat. Suasananya lebih menuntut keseriusan dan konsentrasi penuh, terutama ketika anda menjadi imam suatu shalat berjama’ah. Membaca hafalan dalam shalat, merupakan tujuan hifzhul Qur’an itu sendiri.
1.d.vi. Problematika Menghafal Al-Qur’an
1. Cinta dunia dan selalu sibuk dengannya
Orang yang terlalu asyik dengan kesibukan dunia, biasanya tidak akan siap untuk berkorban, baik waktu maupun tenaga, untuk mendalami Al Qur’an. Semakin sibuk dengan dunia, anda akan semakin penasaran untuk meraihnya lebih banyak lagi. Dan sebaliknya, semakin lama bersama Al Qur’an, anda akan semakin merasakan kenikmatan yang sulit digambarkan.
2. Tidak dapat merasakan kenikmatan Al Qur’an
Besar kecilnya kenikmatan membaca Al Qur’an sangat tergantung kepada kualitas keimanan dan ketaqwaan pembacanya kepada Allah SWT.
Orang yang tidak beriman kepada Allah, mereka tidak akan merasakan nikmatnya ayat-ayat Allah SWT., jangankan disuruh membaca, mendengarkannya saja tidak akan mau, bahkan mereka bersikap kecut serta menjauhkan diri. (QS. 17:45, 46)
3. Hati yang kotor dan terlalu banyak maksiat
Menghafal Al Qur’an tidak mungkin dilakukan oleh orang yang berhati kotor. Rasulullah SAW., menjelaskan bahwa maksiat dan dosa sangat mempengaruhi hati manusia sehingga tercemar.
Jika hati sudah kotor, maka cahay kebenaran iman, Al Qur’an dan hidayah tidak mampu menembus kegelapan hati. Demikian pula, kekufuran dan maksiat yang telah mendarah daging, tidak lagi mampu keluar dari sarangnya.
Imam Ad Dhahak mengatakan : “Tidaklah seseorang itu mempelajari Al Qur’an kemudian ia lupa, kecuali disebabkan oleh dosa yang telah diperbuatnya.”
Agar hati tetap bersih dan suci (saliim), sangat perlu bagi penghafal Al Qur’an untuk memperbanyak amal-amal shalih dan istighfar kepada Allah. Selain itu, banyak-banyaklah berdo’a kepada Allah SWT.
4. Tidak sabar, malas dan berputus asa
Kerja keras dan kesabaran sesungguhnya telah menjadi karakteristik Al Qur’an itu sendiri. Isi Al Qur’an mengajak anda untuk menjadi orang yang aktif dalam hidup di dunia ini.
Karena itu sebelum menghafal anda harus meyakini benar-benar tujuan dan fadhilah menghafal. Apalagi jika anda seorang da’iyah, ini amat berpengaruh terhadap perkembangan dakwah.
5. Niat yang tidak ikhlas
6. Lupa
Seharusnya anda tidak menjadikan masalah ini masalah besar, yang penting bagi anda adalah ber-istiqamah. Suatu saat anda akan merasakan bahwa setelah anda hafal beberapa ayat/surat anda akan lupa, kemudian diulang lagi. Suatu saat, anda pun akan merasakan bahwa frekuensi lupa akan berkurang. Untuk sampai pada kondisi ini memerlukan proses, waktu dan istiqomah.
Lupa dalam menghafal dapat dibagi menjadi lupa manusiawi atau alami dan lupa karena keteledoran. Lupa yang alami adalah lupa yang biasa dialami ketika hafalannya berproses sampai menjadi hafalan. Sedangkan lupa karena keteledoran bersumber dari penghafal sendiri. Pada hakikatnya tidak akan terjadi lupa, kecuali karena tidak mau membaca lagi hafalannya, sesuai dengan frekuensi bacaannya.
7. Pengulangan yang sedikit
Terkadang ketika menghafalkan, anda merasa kesusahan dalam merekam ayat-ayat yang sedang dihafal. Sebenarnya, hal itu merupakan masalah yang sangat kecil. Ketahuilah bahwa frekuensi waktu dan pengulangan ayat-ayat yang anda lakukan masih sangat sedikit.


8. Tidak ada Muwajjih (pembimbing)
Muwajjih dalam dunia hifzhul Qur’an keberadaannya akan selalu memberi semangat kepada anda. Penghafal yang tanpa pembimbing dapat dipastikan banyak jatuh kesalahan dalam menghafal, dan biasanya kalau sudah salah akan susah diluruskan.
1.d.vii. Adab bagi Penghafal Al-Qur’an
Agar Al Qur’an ini mewarnai kehidupan anda, dan tidak mencelakakan anda pada hari kiamat, ikutilah beberapa adab bagi hafizh Al Qur’an berikut ini :
1. Selalu menjaga keikhlasan karena Allah dan menjaga diri dari riya’
2. Menjaga diri dari laghwu dan selalu bersegera melakukan ketaatan kepada Allah
3. Tawadhu’, jangan merasa dirinya lebih baik dari orang lain
“Diantara kalian nanti akan muncul sekelompok orang yang memandang rendah shalat kalian bersama shalat mereka, puasa kalian bersama puasa mereka, dan amal kalian bersama amal mereka. Mereka membaca Al Qur’an tetapi Al Qur’an itu tidak sampai melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari Islam, seperti keluarnya anak panah dari busurnya.” (HR. Bukhari)
4. Berhati-hati dari tergelincir kepada maksiat
5. Banyak berdo’a kepada Allah agar Al Qur’an menuntunnya ke Jannah
Mengingat sangat mungkin justru Al Qur’an itu akan mengantarkan kita ke neraka
“Al Qur’an itu merupakan buki menguntungkan kamu (sehingga mengawalmu ke surga) atau bukti yang mencelakakan kamu (sehingga menyeretmu ke neraka).” (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Majah)
6. Selalu bersama Al Qur’an sampai dia menghadap Allah
Sehingga hafalannya terjaga dari lupa. Dikhawatirkan orang yang melupakan Al Qur’an termasuk orang yang berpaling dari Al Qur’an. (QS. 20:124)

Maraji’
Imam Nawawi, Tarjamah Riadhus Shalihin II
Sa’id Hawwa, Tazkiyatun Nafs
Muhammad Abdul Halim Mahmud, Karakteristik dan Perilaku Tarbiyah
Abdul Aziz Abdul Rauf, Al Hafizh (Kiat Hafidz Qur’an Da’iyah)


 

Rahasia Ubun-ubun dalam Alquran

Rahasia Ubun-ubun dalam Alquran
Rabu, 09/12/2009 10:12 WIB Cetak | Kirim | RSS

Oleh Syaikh Zindani

Gambar otak manusia bagian depan yang disebut Allah dalam Al Qur’an Al Karim dengan kata nashiyah (ubun-ubun).

Al-Qur’an menyifati kata nashiyah dengan kata kadzibah khathi’ah (berdusta lagi durhaka). Allah berfirman, “(Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 16)

Bagaimana mungkin ubun-ubun disebut berdusta sedangkan ia tidak berbicara? Dan bagaimana mungkin ia disebut durhaka sedangkan ia tidak berbuat salah?

Prof. Muhammad Yusuf Sakr memaparkan bahwa tugas bagian otak yang ada di ubun-ubun manusia adalah mengarahkan perilaku seseorang. “Kalau orang mau berbohong, maka keputusan diambil di frontal lobe yang bertepatan dengan dahi dan ubun-ubunnya. Begitu juga, kalau ia mau berbuat salah, maka keputusan juga terjadi di ubun-ubun.”

Kemudian ia memaparkan masalah ini menurut beberapa pakar ahli. Di antaranya adalah Prof. Keith L More yang menegaskan bahwa ubun-ubun merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil di ubun-ubun.

Karena itu, undang-undang di sebagian negara bagian Amerika Serikat menetapkan sanksi gembong penjahat yang merepotkan kepolisian dengan mengangkat bagian depan dari otak (ubun-ubun) karena merupakan pusat kendali dan instruksi, agar penjahat tersebut menjadi seperti anak kecil penurut yang menerima perintah dari siapa saja.

Dengan mempelajari susunan organ bagian atas dahi, maka ditemukan bahwa ia terdiri dari salah satu tulang tengkorak yang disebut frontal bone. Tugas tulang ini adalah melindungi salah satu cuping otak yang disebut frontal lobe. Di dalamnya terdapat sejumlah pusat neorotis yang berbeda dari segi tempat dan fungsinya.

Lapisan depan merupakan bagian terbesar dari frontal lobe, dan tugasnya terkait dengan pembentukan kepribadian individu. Ia dianggap sebagai pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan memori. Ia memainkan peran yang terstruktur bagi kedalaman sensasi individu, dan ia memiliki pengaruh dalam menentukan inisiasi dan kognisi.

Lapisan ini berada tepat di belakang dahi. Maksudnya, ia bersembunyi di dalam ubun-ubun. Dengan demikian, lapisan depan itulah yang mengarahkan sebagian tindakan manusia yang menunjukkan kepribadiannya seperti kejujuran dan kebohongan, kebenaran dan kesalahan, dan seterusnya. Bagian inilah yang membedakan di antara sifat-sifat tersebut, dan juga memotivasi seseorang untuk bernisiatif melakukan kebaikan atau kejahatan.

صورة للبروفسور كيث ال مور عالم الأجنة الكندي

Ketika Prof. Keith L Moore melansir penelitian bersama kami seputar mukjizat ilmiah dalam ubun-ubun pada semintar internasional di Kairo, ia tidak hanya berbicara tentang fungsi frontal lobe dalam otak (ubun-ubun) manusia. Bahkan, pembicaraan merembet kepada fungsi ubun-ubun pada otak hewan dengan berbagai jenis. Ia menunjukkan beberapa gambar frontal lobe sejumlah hewan seraya menyatakan, “Penelitian komparatif terhadap anatomi manusia dan hewan menunjukkan kesamaan fungsi ubun-ubun.

Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarauh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memiliki otak. Seketika itu, pernyataan Prof. Keith mengingatkan saya tentang firman Allah, “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)

Beberapa hadits Nabi SAW yang bericara tentang ubun-ubun, seperti doa Nabi SAW, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu…”

Juga seperti doa Nabi SAW, “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya…”

Juga seperti sabda Nabi SAW, “Kuda itu diikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya hingga hari Kiamat.”

Apabila kita menyandingkan makna nash-nash di atas, maka kita menyimpulkan bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengendali perilaku manusia, dan juga perilaku hewan.

Makna Bahasa dan Pendapat Para Mufasir:

Allah berfirman,


كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعَ بِالنَّاصِيَةِ(15)نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ(16)

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang berdusta lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 15-16)

Kata nasfa’ berarti memegang dan menarik. Sebuah pendapat mengatakan bahwa kata ini terambil dari kalimat safa’at asy-syamsu yang berarti matahari mengubah wajahnya menjadi hitam. Sementara kata nashiyah berarti bagian depan kepala atau ubun-ubun.

Mayoritas mufasir menakwili ayat bahwa sifat bohong dan durhaka itu bukan untuk ubun-ubun, melainkan untuk empunya. Sementara ulama selebihnya membiarkannya tanpa takwil, seperti al-Hafizh Ibnu Katsir.
Dari pendapat para mufasir tersebut, jelas bahwa mereka tidak tahu ubun-ubun sebagai pusat pengambilan keputusan untuk berbuat bohong dan durhaka. Hal itu yang mendorong mereka untuk menakwilinya secara jauh dari makna tekstual. Jadi, mereka menakwili shifat dan maushuf (yang disifati) dalam firman Allah, “Ubun-ubun yang dusta lagi durhaka” itu sebagai mudhaf dan mudhaf ilaih. Padahal perbedaan dari segi segi bahasa antara shifat dan maushuf dengan mudhaf dan mudhaf ilaih itu sangat jelas.

Sementara mufasir lain membiarka nash tersebut tanpa memaksakan diri untuk memasuki hal-hal yang belum terjangkau oleh pengetahuan mereka pada waktu itu.

Sisi-Sisi Mukjizat Ilmiah:

Prof. Keith L Moore mengajukan argumen atas mukjizat ilmiah ini dengan mengatakan, “Informasi-informasi yang kita ketahui tentang fungsi otak itu sebelum pernah disebutkan sepanjang sejarah, dan kita tidak menemukannya sama sekali dalam buku-buku kedokteran. Seandainya kita mengumpulkan semua buku pengobatan di masa Nabi SAW dan beberapa abad sesudahnya, maka kita tidak menemukan keterangan apapun tentang fungsi frontal lobe atau ubun-ubun. Pembicaraan tentangnya tidak ada kecuali dalam kitab ini (al-Qur’an al-Karim). Hal itu menunjukkan bahwa ini adalah ilmu Allah yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, dan membuktikan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.

Pengetahuan tentang fungsi frontal lobe dimulai pada tahun 1842, yaitu ketika salah seorang pekerja di Amerika tertusuk ubun-ubunnya stik, lalu hal tersebut memengaruhi perilakunya, tetapi tidak membahayakan fungsi tubuh yang lain. Dari sini para dokter mulai mengetahui fungsi frontal lobe dan hubungannya dengan perilaku seseorang.

Para dokter sebelum itu meyakini bahwa bagian dari otak manusia ini adalah area bisu yang tidak memiliki fungsi. Lalu, siapa yang Muhammad SAW bahwa bagian dari otak ini merupakan pusat kontrol manusia dan hewan, dan bahwa ia adalah sumber kebohongan dan kesalahan.

Para mufasir besar terpaksa menakwili nash yang jelas bagi mereka ini karena mereka belum memahami rahasianya, dengan tujuan untuk melindungi Al Qur’an dari pendustaan manusia yang jahil terhadap hakikat ini di sepanjang zaman yang lalu. Sementara kita melihat masalah ini sangat jelas di dalam Kita Allah dan Sunnah Rasulullah SAW, bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarah dalam diri orang dan hewan.

Jadi, siapa yang memberitahu Muhammad SAW di antara seluruh umat di bumi ini tentang rahasia dan hakikat tersebut? Itulah pengetahuan Allah yang tidak datang kepadanya kebatilan dari arah depan dan belakangnya, dan itu merupakan bukti dari Allah bahwa Al Qur’an itu berasal dari sisi-Nya, karena ia diturunkan dengan pengetahuan-Nya.
 

Situs Islami

Berikut ini adalah situs-situs yang InsyaAllah akan bermanfaat bagi kita :
1. pesantrenvirtual
2. maqdis.s5
3. eramuslim
4. sabili
5. dell (maaf baru coba)
 

Mari Membaca Al-Quran

Kitab suci Al-Qur'an adalah petunjuk Allah bagi orang yang bertaqwa. Dengan membacanya dan memahami artinya kita akan mendapat petunjuk. Bagi yang belum memahami bahasa Arab, sebaiknya membaca terjemahannya atau tafsir Al-Qur'an, sehingga tetap dapat memahami fungsi Al-Qur'an sebagai petunjuk Allah.

Pada waktu pertama kali diturunkan, Al-Qur'an disampaikan Allah berupa wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian oleh Rasulullah Al-Qur'an itu disosialisasikan melaui ucapan atau gelombang suara kepada para Sahabat. Kemudian Al-Qur'an itu 'menjelma' menjadi memori yang bersemayam di dalam sel otak para Sahabat. Selanjutnya para Sahabat itu menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an yang ada diingatannya itu ke atas pelepah daun kurma, kulit binatang, dan lain-lain. Belasan tahun kemudian, setelah ditemukan kertas, Al-Qur'an ditulis di atas kertas dengan menggunakan tinta. Perkembangan selanjutnya Al-Qur'an 'ditulis' di atas pita magnetis dan CD ROM.

Jika dahulu sumpah jabatan dengan kitab Al-Qur'an di atas kepala, maka seharusnya sekarang menggunakan CD ROM, sesuai dengan perkembangan zaman. Namun demikian, pelaksanaan sumpah (jabatan dll) yang sebenarnya tidaklah seperti itu, tidak meletakkan Al-Qur'an atau CD ROM di atas kepala.

Sebenarnya yang seharusnya kita hormati dari Al-Qur'an adalah isinya. Kertas dan tinta cuma sarana untuk menuliskan (membukukan) Al-Qur'an. Jadi jika kita ingin menghormati Al-Qur'an, maka bacalah isinya, pahami artinya, dan amalkan. Karena Al-Qur'an itu merupakan petunjuk untuk manusia di dunia ini. Di akherat nanti kita tidak membutuhkan Al-Qur'an.

Banyak anjuran, perintah, dan larangan di dalam Al-Qur'an yang berguna jika diterapkan baik oleh perorangan maupun secara sistem. Kebanyakan ummat Islam membaca/belajar Al-Qur'an di waktu kecil, setelah dewasa jarang membacanya lagi. Padahal akan lebih efektif jika setelah dewasa membaca Al-Qur'an dengan artinya. Kita boleh membaca Al-Qur'an tanpa berwudhu lebih dahulu, dan boleh saja membacanya sambil berdiri, duduk atau tiduran.

Dengan membaca Al-Qur'an kita bisa mengetahui banyak hal, antara lain: bahwa yang imannya tanggung akan diujui setahun sekali atau dua kali; bahwa ada larangan mengikuti kelompok/organisasi yang kita tidak tahu betul visi dan misinya; bahwa pembagian umur cuma ada anak-anak dan dewasa (tidak ada remaja); bahwa kita diharuskan aktif pada kegiatan sosial/politik; bahwa kita diharuskan melakukan penelitian lebih lanjut terhadap hal-hal yang berhubungan dengan tehnologi; dengan membaca Al-Qur'an kita mendapat pengetahuan tentang roh dan alam gaib. Ilmu dan teori yang ada di dalam Al-Qur'an pasti benar, karena Al-Qur'an diturunkan oleh yang Maha Mengetahui, yaitu Allah SWT.

Oleh :
Muhammad Umar Alkatiri & Bambang AS
 

Keutamaan Menghapal Al Quran

Banyak hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghapal Al Quran, atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu Muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah SWT. Seperti dalam haditsyang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu`: “Orang yang tidak mempunyai hapalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mauh runtuh “

Dan Rasulullah SAW. memberikan penghormatan kepada orang-orang yang mempunyai keahlian dalam membaca Al Quran dan menghapalnya, memberitahukan kedudukan mereka, serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.

Dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW. mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al Quran mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hapalan Al Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hapal,hai pulan?” ia menjawab: aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya: “Apakah engkau hapal surah Al Baqarah?” Iamenjawab: Betul. Rasulullah SAW bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghapal surah Al Baqarah semata karena aku takut tidak dapat menjalankan isinya.

Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda: “Pelajarilah Al Quran dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari Al Quran dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hapalan Al Quran— adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik “

Jika tadi kedudukan pada saat hidup, maka saat mati-pun, Rasulullah SAW. mendahulukan orang yang menghapal lebih banyak dari yang lainnya dalam kuburnya, seperti terjadi dalam mengurus syuhada perang Uhud.

Rasulullah SAW mengutus kepada kabilah-kabilah para penghapal Al Quran darikalangan sahabat beliau, untuk mengajarkan mereka faridhah Islam dan akhlaknya, karena dengan hapalan mereka itu, mereka lebih mampu menjalankan tugas itu. Diantara sahabat itu adalah: tujuh puluh orang yang syahid dalam kejadian Bi`ru Ma`unah yang terkenal dalam sejarah. Mereka telah dikhianati oleh orang-orang musyrik.

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan “.

Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghapal dan ahli AlQuran saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al Quran.

Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca AlQuran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran”.

Kedua orang itu mendapatkan kemuliaan Tuhan, karena keduanya berjasa mengarahkan anaknya untuk menghapal dan mempelajari AlQuran semenjak kecil. Dan dalam hadits terdapat dorongan bagi para bapak dan ibuuntuk mengarahkan anak-anak mereka untuk menghapal Al Quran semenjak kecil.

Ibnu Mas`ud berkata: “Rumah yang paling kosong dan lengang adalah rumah yang tidak mengandung sedikitpun bagian dari Kitab Allah SWT ”.

Dan pengertian kata “ashfaruha” adalah: yang paling kosong dari kebaikan dan berkah. Al Munziri meriwayatkan dalam kitab At Targhib wa AtTarhib dengan kata: “ashghar al buyut” dengan ghain bukan fa. Dan maknanya adalah: rumah yang paling hina kedudukannya, dan paling rendah nilainya.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Syah Dasrun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger