Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

Amanah Cinta

Teruntuk Saudaraku Akhi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Aku ingin bercerita tentang cinta kepadamu Cinta yang dulu pernah kita rangkai dan kita ramu Sepakat dalam kata, cinta adalah anugerah Allah untukku juga untukmu Ada yang bahagia karena cinta Tapi juga banyak yang terluka karena cinta Akhi, Sebagai sahabat aku hanya ingin mengingatkan kita Untukmu, juga untukku sebagai peran utama dalam hal cinta. Maka, tahanlah lisanmu untuk mengatakan cinta Janganlah terlalu mudah mengatakan cinta Memberikan harapan tanpa kepastian semata Apalagi tanpa ikatan kesucian cinta Ketahuilah, Allah menitipkan cinta pada kita Tapi Allah juga menginginkan agar kita menjaganya Kita memiliki Izzah, pantang mengatakan cinta Bila nikah masih tak terlaksana dijalan-Nya Jika cinta maka nikahilah Jika menikahi maka cintailah Dengan setulus hati Sepanjang hidupmu sampai mati ………………………………………………… Teruntuk Saudariku Ukhti yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala Engkau adalah jendela dunia Tiang agama Bila rapuh, maka, hancurlah generasi peradaban dunia Ukhti, jangan kau mudah menerima cinta Dari seseorang yang hanya mengumbar cinta dusta tanpa kepastian dan tindakan yang nyata Ukhti, banyak di antara kami yang mengatasnamakan cinta Melibatkanmu tapi tanpa sebab dan alasan lalu meninggalkanmu Maka, berhati-hatilah dengan cinta bila engkau tak mau terluka sepanjang hidupmu Akhi Ukhti Janganlah mengatasnamakan ukhuwah Sehingga kita melanggar cinta yang sah Lalu ukhuwah itu terpecah Lantaran cinta yang salah tanpa panduan syariah Akhi Ukhti Bersabarlah dengan cinta, berserah dirilah kepada-Nya Kita akan dibuat bahagia oleh cinta jika kita menjaganya Karena cinta itu indah pada waktunya *Salam Amanah Cinta Ismiy Sutrisno Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15837/amanah-cinta/#ixzz1d05lu8Ss
 

Teruntuk Saudaraku akhi

Teruntuk Saudaraku Akhi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Aku ingin bercerita tentang cinta kepadamu Cinta yang dulu pernah kita rangkai dan kita ramu Sepakat dalam kata, cinta adalah anugerah Allah untukku juga untukmu Ada yang bahagia karena cinta Tapi juga banyak yang terluka karena cinta Akhi, Sebagai sahabat aku hanya ingin mengingatkan kita Untukmu, juga untukku sebagai peran utama dalam hal cinta. Maka, tahanlah lisanmu untuk mengatakan cinta Janganlah terlalu mudah mengatakan cinta Memberikan harapan tanpa kepastian semata Apalagi tanpa ikatan kesucian cinta Ketahuilah, Allah menitipkan cinta pada kita Tapi Allah juga menginginkan agar kita menjaganya Kita memiliki Izzah, pantang mengatakan cinta Bila nikah masih tak terlaksana dijalan-Nya Jika cinta maka nikahilah Jika menikahi maka cintailah Dengan setulus hati Sepanjang hidupmu sampai mati ………………………………………………… Teruntuk Saudariku Ukhti yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala Engkau adalah jendela dunia Tiang agama Bila rapuh, maka, hancurlah generasi peradaban dunia Ukhti, jangan kau mudah menerima cinta Dari seseorang yang hanya mengumbar cinta dusta tanpa kepastian dan tindakan yang nyata Ukhti, banyak di antara kami yang mengatasnamakan cinta Melibatkanmu tapi tanpa sebab dan alasan lalu meninggalkanmu Maka, berhati-hatilah dengan cinta bila engkau tak mau terluka sepanjang hidupmu Akhi Ukhti Janganlah mengatasnamakan ukhuwah Sehingga kita melanggar cinta yang sah Lalu ukhuwah itu terpecah Lantaran cinta yang salah tanpa panduan syariah Akhi Ukhti Bersabarlah dengan cinta, berserah dirilah kepada-Nya Kita akan dibuat bahagia oleh cinta jika kita menjaganya Karena cinta itu indah pada waktunya *Salam Amanah Cinta Ismiy Sutrisno Sumber: http://www.dakwatuna.com
 

Bekerja, maka keajaiban akan datang

Iman itu terkadang menggelisahkan. Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.” Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera. Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga. Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban? Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan. Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takan pernah menyia-nyiakan kami!” Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita. Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki. Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’. Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!” Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi. Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!” Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak. Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya. Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu. Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?” “Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!” Semua mengangguk mengiyakan. “Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya. “Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!” Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya; “..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur.” (Saba’ 13) salim a. fillah -www.fillah.co.cc-
 

Buah hati kita



Afdoal Al Bimani 07 Maret jam 12:59 Balas
Buah hati kita,mereka begitu mendamba perhatian dan kehadiran kita. Namun mereka tak pandai merangkai kata tuk mengungkap cinta. Mereka juga tidak mengerti cara membisikkan rasa rindunya.

Kalau Anda seorang ayah pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut ini: “Ayah, aku sudah mandi”. ”Aku sudah belajar lho, Pa,”. Apa aku boleh ikut abi pergi?” Kalau bapak pulang, bawakan aku es krim ya?” Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah respon kita saat itu? Apakah tanggapan kita seindah binar mata mereka? Apakah sikap kita semanis senyum mereka? Apakah jawaban kita sebesar harapan mereka?

Kalau kita seorang ayah, sungguh anak-anak kita itu memerlukan senyum gagah kita. Mereka juga membutuhkan belaian sayang kita. Buah cinta kita itu selalu merindu dekapan mesra kita. Yakinlah Anda bahwa tutur kata manis kita amat berarti bagi hatinya. Oleh-oleh yang kita hadiahkan begitu bermakna bagi jiwa mereka. Ketika kita mengajak mereka bepergian rasa bangga memenuhi ruang-ruang kalbunya.

Bagi anak-anak, kita para ayah adalah pahlawan. Menurut mereka kita adalah sosok gagah yang menentramkan hati mereka. Buah hati kita itu amat bangga terhadap keperkasaan kita. Mereka begitu mendamba perhatian dan kehadiran kita. Namun mereka tak pandai merangkai kata tuk mengungkap cinta. Mereka juga tidak mengerti cara membisikkan rasa rindunya. Mereka mencintai kita para ayah dengan bahasa yang sering tak mampu kita mengerti.

Mereka menyayangi kita dengan gaya yang sering tak bisa kita pahami. Karena itu kita sering tak menyadari bahwa ada makhluk-makhluk kecil yang begitu mencintai dan membutuhkan kita.

Apakah ini yang pernah dan masih kita lakukan :
1. Saat mereka mendekat, kita sering merasa terusik.
2. Ketika mereka mengajak bicara, kita sering merasa terganggu.
3. Waktu mereka bertanya, sering hati kita merasa tak nyaman.
4. Tangisan mereka seperti suara petir bagi telinga kita.
5. Teriakan mereka bagai badai yang menerjang jiwa kita.

Padahal seperti itulah cara anak-anak mencintai kita. Begitulah cara mereka menyayangi kita. Dengan cara seperti itulah mereka ingin menyampaikan bahwa mereka amat membutuhkan kita. Hanya cara seperti itulah yang mereka mengerti untuk menyentuh cinta kita.

Boleh jadi kita belum mampu menjadi ayah yang indah untuk anak-anak kita. Saat mereka menangis kita malah membentaknya.
Ketika mereka bertanya kita tidak menggubrisnya.
Waktu mereka belajar, kita tidak ada di sisi mereka. Mereka sakit tanpa ada kita di sisinya. Mereka sedih tanpa ada yang menghiburnya. Mereka jarang kita belai. Mereka jarang kita cium. Kadang pekerjaan kita membuat kita tak menyadari bahwa ada yang menanti-nanti kedatangan kita hingga tertidur di depan pintu

Sudah tiba saatnya bagi kita para ayah untuk mengerti bahasa cinta anak-anak kita. Kita harus memahami gaya mereka dalam mencintai kita.
Dengan demikian kita bisa menjadi seperti yang mereka pinta. Kita mesti berupaya menjadi seperti yang mereka harapkan. Kita harus menjadi pendengar yang menyenangkan saat mereka berbicara. Ketika mereka mendekati kita sehasta, kita mendekati mereka sedepa. Sewaktu mereka menangis, kita akan mendekapnya dengan penuh cinta. Kita juga tak akan pernah lelah tuk berbisik mesra, ”Nak, ayah mencintaimu,”.

Dikutip dari : Ust. Hamy Wahyunianto
 

TV...Oh TV

Sejak kelahiran anak pertamaku-agar lebih fokus mengurusnya- maka aku merasa perlu memiliki pembantu. Nah, sejak anak pertama ku lahir, hingga kini, paling top pembantu bertahan di rumahku selama 6 bulan.

Setiap pembantu yang masuk rumah, pasti mereka berkomentar. Si A berkata,”Rumah kok nggak ada TV-nya.”

Si B berkata,”Bu, TVnya lagi rusak yaa?”

Si C celingak-celinguk sebelum akhirnya bertanya,”Bu, TVnya emang di taruh dimana?”

….

Baik orangtua maupun kerabat dan handai tolah memberiku wejangan, yang rata-rata ungkapannya seperti ini,…”Pembantu mana ada yang betah kalo di rumah nggak ada TV. Mereka kan bosan, seharian kerja nggak ada hiburan.”

Dilematis? sedikit. Pengen sih membuat pembantu merasa terhibur, tapi…haruskah dengan break our own rules? Harapannya sih dapat pembantu yang paham dan tidak bermasalah dengan tidak adanya TV di rumah.

Kalau kata abinya anak-anak sih,…”It’s not about TV. Sesungguhnya rezeki Allah yang mengatur. Jika Allah tetapkan seseorang mendapatkan rezeki lewat kita, maka Allah akan antarkan orang tersebut memasuki rumah ini. Kalau dia tidak lagi ingin bekerja di rumah ini, sesungguhnya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia dan sesungguhnya memang rezekinya Allah pindahkan lewat jalur lain.”

….

Kondisi tidak ada TV di rumah cukup memberi issue kontroversial, pada awalnya, di mata kerabat dan tetangga maupun teman-teman. Yang baru pertama kali datang, pasti bertanya,”Emang kenapa nggak ada TV?”

Susah-susah gampang ngejelasinya. Memang, TV tidak selalu berdampak negatif, walaupun mudharatnya lebih banyak. Jadi kami hanya menjawab bahwa tidak adanya TV di rumah lebih kepada kesadaran kami akan lemahnya iman kami. Wong nggak ada TV aza ibadah masih gitchu deh,…apalagi ada TV,…wuaah kosentrasi bisa kebagi-bagi. Dan agaknya TV bakalan menang. Makanya kami merasa lebih baik nggak ada TV.

Walaupun bisa diatur, nontonnya acara-acara yang manfaat aza, tapi lama kelamaan pasti, pas lagi BT, setel TV, pas lagi stress setel TV, pas lagi iseng setel TV. Walhasil pas lagi ngapain aza pengennya sambil nonton TV. Jadi, daripada dihadapkan pada “ujian” yang tak terhindarkan lebih baik cari jalan aman. No TV at home.

Syetan itukah da’wah mengajak pada keburukannya 24jam. Dan mereka(syetan-syetan) benar-benar sabar dan gigih dalam mengajak, tak akan bergeming sampai usahanya berhasil. Bisik-bisik syetan,”Dah liat aza TVnya, cuma berita kok.” Besoknya,”Liat tuh bagus, acara nyanyi-nyanyi doang.” bisik syetan lagi. Akhirnya tanpa sadar semua acara jadi bagus di mata kita. Hmm,…TV itu sihirnya memang luar biasa.

….

Pernah ibu dari teman sekolah Tk anak-ku Ali bertanya,”Memang anak-anak tidak pernah “ribut” nggak ada TV di rumah?”

Pernah juga sih, …tapi karena sejak mereka bisa melihat dan mendengar, sudah tidak ada TV di rumah, jadinya lebih mudah memberi mereka pengertian.

Tidak ada larangan bagi mereka untuk menonton TV (acara khusus untuk mereka tentunya)ketika berkunjung ke rumah Nyai, Mbah atau saudara. Hanya peraturan di rumah memang tidak ada TV.

Alhamdulillah,…so far kami baik-baik aza. Ada yang bilang nanti ketinggalan zaman donk,..ah.. zaman tidak akan meninggalkan kita, kitalah yang meninggalkannya dengan tutup usia. Lagipula, masih banyak media lain untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Alhamdulillah,…jadinya sebagian waktu mereka dihabiskan dengan mendengar aku membacakan buku-buku cerita. AKu juga, jadinya punya waktu untuk membacakan mereka cerita. Alhamdulillah lagi, anak-anak jadi bisa menikmati ketika diajak pergi ke toko buku.

Alhamdulillah,…pendengaran anak-anak jadi lebih terjaga.

Alhamdulillah,…pandangan anak-anak jadi lebih terjaga.

Alhamdulillah,…sikap anak-anak jadi lebih terjaga.

Alhamdulillah,…ucapan-ucapan anak-anak jadi lebih terjaga.

Manfaat lain, anak-anak tidak konsumtif. Mereka jarang melihat iklan-iklan di TV. Jadi, no TV lebih hemat. Hemat listriknya, hemat pengeluaran karena pengaruh iklan-iklan di TV.

Tulisan ini bukan propaganda untuk tidak menyediakan TV di rumah,…hanya curhatan manfaat yang bisa dipetik dengan tidak adanya TV di rumah.

Ummu Ali
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Syah Dasrun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger