Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Perjalanaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanaku. Tampilkan semua postingan

Konsep diri manakah anda?

Ketahuilah, kebijaksanaan terbesar dan teragung dalam kehidupan adalah bermanfaat bagi orang lain. Tentunya kita ingin ketika berada dalam suatu lingkup, kita bisa berkontribusi sekecil apapun. Kita ingin mempersembahkan sesuatu yang kita miliki untuk orang lain. Karena sejatinya, kebahagiaan seseungguhnya adalah bukan terletak dari kita menolong diri sendiri. Akan tetapi kebahagiaan itu terletak ketika kita menolong orang lain, bermasalahat bagi orang lain.
Sunggguh Indah pesan Rasulullah SAW,
“Sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain”
Maka dari itu, sebelum kita ingin bermanfaat bagi orang lain, kita harus mempersiapkan sesuatu yang mutlak kita harus ketahui. Dan ini adalah kewajiban yang mendasar untuk mencapai tujuannya. Kita harus memahami KONSEP DIRI.
“Konsep diri adalah...” Anis mata menjelaskan akan hakikat ini, “...syuatu kesadaran pribadi yang utuh, kuat, jelas, dan mendalam tentang visi dan misi hidup; pilihan jalan hidup beserta prinsip dan nilai yang membentuknya; peta potensi; kapasitas, dan kompetensi diri; peran yang menjadi wilayah aktualisasi dan kontribusi; serta rencana amal dan karya unggulan. Konsep diri menciptakan perasaan terarah dalam struktur kesadaran pribadi kita. Keterarahan adalah salah satu mata air kemerlangan.”
Begitulah pengertian seorang Anis mata tentang Konsep diri dalam buku hebatnya ‘8 mata air kemerlangan’. Lalu bagaimanakan pengertian konsep diri jika kita sandingkan dengan konsep diri muslim? Berikut adalah jawaban dari beliau:
“Konsep diri manusia muslim adalah kesadaran mempertemukan Allah dengan kehendak-kehendaknya sebagai manusia; antara model manusia muslim yang ideal dan universal dengan kapasitas dirinya yang nyata dan unik, anatara nilai-nilai islam yang komprehensif dan integral dengan keunikan-keunikan pribadinya sebagai individu; antara ruang aksi dan kreasi yang disediakan oleh Islam dengan kemampuan pribadinya untuk beraksi dan berkreasi; dan antara idealisme islam dengan realitas kemampuan pribadinya.” Tandas beliau.


Suatu konsep diri itu tidak pernah berlepas dari 3 hal :
1. Aku diri
2. Aku sosial
3. Aku ideal

Mari kita perjelas secara terperinci.
Aku diri adalah suatu konsep diri yang pertama. Ia punya karakter sendiri dan sangat khas. Percaya diri yang sangat tinggi itulah khas yang mencolok dalam konsep Aku diri. Tak hanya itu, rasa angkuh, pragmatis, dan tertutup selalu menyatu dalam konsep Aku diri ini. Terkadang narsis begitu melekat dalam diri ‘Aku diri’, sekadar untuk ‘memunculkan’ jati diri sendiri supaya mendapat perhatian yang cukup. Memang, begitulah kondisinya. Akibat dari ciri-ciri khas yang telah kita sebutkan tadi, maka akan muncul egoisme yang kuat. Terkadang sulit untuk merendahkan hati, karena memang orang tipe ini merasa paling ‘wah’ dari segala ‘wah’. Orang yang mempunyai tipe seperti ini cenderung tidak disukai oleh orang lain, karena jika ada orang yang dekat sama orang ini, apalagi menjadi bawahannya, biasanya mereka akan terus tersakiti yang akhirnya meninggalkan orang seperti ini. Begitulah memang, orang ini juga sulit diajak kerjasama dalam hal apapun, kecuali ada hal-hal yang mendesak dan menguntungkan.
Jika ‘aku diri’ cendung melihat kedalam diri sendiri, lain halnya dengan konsep kedua yaitu ‘aku sosial’. Orang ini bertipe selalu melihat keluar diri, ke arah sekitar atau masyarakat, selalu melihat kondisi dan situasi. Akibat selalu cenderung melihat keluar, orang ini lupa dan tidak fokus terhadap diri sendiri. Ia ‘melupakan’ bahwa orang ini mempunyai potensi dahsyat. Akan tetapi ia merasa tidak merasa percaya diri dalam menghadapi sesuatu. Akibatnya ia selalu menyandarkan diri kepada sesuatu diluar dirinya sendiri. Kepada orang lain ataupun kepada lingkungan! Orang ini cukup ingin bernafas enak dalam zona nyaman, dan tidak mau terjun kealam zona tidak nyaman. Jika orang ini selalu menyandarkan diri kepada luar dirinya, maka jiwanya tidak diasah, yang lama kelamaan akan melemah, akan terjadi pula suatu rasa merasa enak ada orang lain, hingga puncaknya adalah ia tidak bisa mandiri dalam segala hal. Orang tipe ini sangat gampang diajak bekerjasama, bahkan merasa nikmta jika ada orang lain. Akan tetapi, orang tipe seperti ini adalah orang yang tidak berpengaruh apa-apa dalam kehidupan!!!
Sedangkan konsep terakhir yaitu.’aku ideal’ adalah suatu konsep yang berlari dan terlempar dari arah kedua konsep yang telah kita sebutkan sebelumnya. Ia jauh pergi kelangit-langit untuk mengambil sesuatu. Ia seorang pemimpi. Akan tetapi terlalu bermimpi! Ia mempunyai angan-angan yang sangat panjang tanpa ada alur gambaran yang terikat dengan ‘aku diri’dan ‘aku sosial’, sehingga munculah ide yang sanat gila. Biasanya diluar batas perencanaan logika biasanya. Tidak realistis selalu khas tersemat dala dirinya. Memang semangatnya luar biasa, akan tetapi semangatnya stidk panjang, bahkan cenderung sangat pendek. Ia berambisi yang kuat untuk merealisasikan impiannya itu. Namun, jika tidak ditopang oleh rukun-rukun merealisasikan mimpi itu, maka ia akan melemah dan seketika itu rasa ‘ciut’ mulah melemahkan. Satu ‘hentakan’ saja dari luar terhadap obsesi mimpinya, maka ia akan takut dan kaget. Rasa melemah mulai ia rasakan dan akhirnya ia tidak bisa untuk mempertahankannya. Ia mundur secara perlahan-lahan dengan niatan supaya ia tidak dicemooh yang banyak orang, dan ketika ia merasa sudah punya alasan alasan yang cukup untuk menutupi kelemahannya, orang yang bertipe seperti ini berhenti. Bahkan secara total!!!

Begitulah...
Ketika kita condong terhadap salah satu 3 konsep itu, maka kita akan merasakan dampak yang cukup membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk ‘menambal’ kekecewaan kita. Bukan hanya terhadap kita sendiri, akan tetapi kita akan berupaya mencari ‘kambing hitam’ untuk menuntaskan kelalaian kita selama ini.
Maka dari itu, pergunakanlah diri kita sebaik mungkin untuk bisa berada pada ketiganya. Kita harus belajar untuk menyeimbangkan anatar ketiga konsep itu. Karena sejatinya, Allah telah menganugrahkan kita memiliki ketiga konsep itu, Cuma terkadang antara mereka saling serang dan saling igin menonjol diantara yang lainnya.
Mohonlah petunjuk kepada Allah, pejamkan mata kita dari ‘pusaran dunia’, gerakkanlah lidah bersamaan dengan kehendak hati untuk melemahkan diri dihadapan-Nya. Angkatlah tangan-tangan kita sebagi bentuk keseriusan dalam berdo’a. Dan berdo’alah dengan sangat dan harap!!!
Jika sudah seperti itu, maka kita aka terkejut dengan keajaiban-keajaiban yang Allah ciptkan untuk kita. Keajaiban yang selalu kita idamkan,
Bermanfaat bagi orang lain.....!!!!
(Selasa, 15 Nov 2011. Panas-sentuhan-kesibukan-dan nasehat)
 

PENJUAL IKAN SEGAR

 

Di pasar itu, suasana pagi yang sangat sejuk. Terik matahari yang tidak panas namun menghangatkan, menerpa diriku yang mulai bersemangat kala pagi itu. Terkadang saya menyenangi udara pagi dipasar itu. Tentu jika udara di pemandangan sawah yang bebas polusi lebih saya sukai. Akan tetapi ada hal yang begitu saya sukai, walaupun polusi udara di Pasar amat menyiksa. Ada serba bau yang tercium di hidungku. Hmmm

Selalu saja kebahagiaan nampak diraut wajah-wajah pedagang itu. Rasa harapnya besar sekali. Semangatnya men-jaja-kan dagangannya terasa kuat dan panjang. Saya mengetahui bahwa mereka mulai berdagang di pagi buta itu. Sekitar jam satu-an mereka sudah meramaikan jual beli menengak keatas itu. Seakan-akan mereka tidak habis semangat dan berharapnya. Setiap hari rutinitas mereka memang seperti itu. Mungkin saja banyak yang tidak laris pada hari ini. Akan tetapi semangat dan harap mereka tidak lantas besoknya tidak berdagang atau sengaja datang ke pasar itu sewaktu subuh!

Namun, yang saya bicarakan kali ini bukan masalah itu. Ada peristiwa yang cukup lucu sekaligus memaksa saya merenungi peristiwa itu. Itu erat kaitannya dengan jalan yang telah saya pilih, yaitu berdakwah insya Allah...

Pagi itu, ada seseorang penjual ikan. Ia terlihat ragu-ragu. Kayaknya ia baru mau berjualan disini. Ia menoleh kesana kemari dengan penuh perkiraan. Sepertinya ia ingin mencari tempat yang cocok dan strategis utuk berjualan, supaya dagangannya laku. Setelah ia mendapatinya, kemudian ia mengeluarkan ‘papan’ yang ada tulisannya. “Disini Jual Ikan segar”. Begitu isi tulisannya.

Tak lama kemudian datanlah seseorang pengunjung yang cukup umur, lalu menanyakan tulisannya itu...

“Mengapa kau tuliskan kata ‘DISINI’? bukankah semua orang yang berlalu di depan kau sudah tahu bahwa kau berjaualan disini, bukan DISANA?”

“Benar juga ya!” pikir sipenjual itu. Lalu tak lama kemudian ia menghapus kata DISINI. Dan tinggalah tulisan JUAL IKAN SEGAR.

Tak lama kemudian, pengunjung yang kedua datang dan menanyakan tulisannya.

“Mengapa kau pakai kata SEGAR? Bukankah semua orang sudah tahu kalau kau jualan ikan segar bukan ikan busuk? Lagian siapa yang mau beli jika itu bukan ikan segar?”

“Benar juga”. Pikir penjual ikan itu. Kemudian dihapuslah kata SEGAR itu dan kini tulisannya menjadi JUAL IKAN.

Sesaat kemudian datanglah pengunjung yang ketiga dan juga menanyakan tulisannya,

“Mengapa kau tulis JUAL? Bukankah semua orang sudah tahu bahwa ikan ini dijual bukan untuk di pamerkan?”

“benar juga ya, saya jadi bingung” pikir penjual itu sambil mengaruk-garuk kepalanya. Lalu dihapusnya kata JUAL hingga tulisannya kini menjadi IKAN.

Beberapa saat kemudian datang lagi pengunjung yang ke-4 yang juga menanyakan tulisannya,

“Mengapa kau tulis kata IKAN? Bukankah kau tahu bahwa ini IKAN bukan DAGING?”

“Benar juga...”. Dan akhirnya penjual itu bingung, lalu menurunkan ‘papan’nya dan pulang dalam keadaan bingung!

Itu peristiwa yang luar biasa menurut saya. Manusia itu tidak akan pernah terlepas dari omongan, kritikan, hingga celaan orang yang suka mencela. Anda, saya, dan mereka-pun memaklumi itu. Kita lari sejauh mungkin dari ‘ketakutan itu’, akan tetapi kita bukannya lega dengan pelarian itu, malah kita berjumpa dengan ‘ketakutan yang lainnya’ yang mungkin lebih asing dan menguras energi kesabaran kita.

Maka dri itu, selayaknya bagi kita adalah menerima dan memperbesar kelapangan hati kita untuk menerima itu. Sejauh apapun kita, pasti tidak akan pernah terlepas dari itu. Biarlah ketakutan itu menyerang kita, akan tetapi tidak harus semuanya harus diterima dengan hati dan pikiran. Seleksilah mana yang harus diterima dan yang arus dibuang. Jangan pernah engkau menerima itu semuanya jikalau kita tidak ingin lintaan-lintasa pikiran itu malah memberatkanmu, menindihmu, dan membuatmu’stres’ dengan itu.

Sungguh, seorang aktifis dakwah akan lebih merasakan ‘kekhawatiran’ itu. Mereka diserang dengan sengit, kritikan tidak membangun, propoganda yang menakutkan, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu selalu saja mereka dapatkan setiap hari, atau bahkan lebih dari itu.

Namun, tidak lantas mereka berhenti, dan mundur dari niatan dan azzam mereka. ‘Ghirah’ mereka terlalu kuat dan kebal untuk terlukai. Ya, walaupun banyak yang terlukai, tapi ‘obat keimanan’ itu terlalu cepat untuk menyembuhkannya.

Ia begitu terpengaruh oleh shirah Rasulullah, kisah sahabat dan ulama-ulama salaf maupun yang khalaf akan ketegaran mereka diatas jalan ini. Jangan pernah merasa aman disini, sebab yang ‘kelompok kebathilan’ akan mencoba untuk mematahkan bahkan memadamkan cahaya Allah yang dibawa mereka.

Mereka mengetahui, bahwa ujian itu bukan melemahkan mereka, justru membuat mereka tambah kuat, lebih solid dalam perjuangannya. Yang akhirnya ‘kelompok kebathilan’ itu menyadari akan hal itu. Namun, mereka tidak bisa melakukan apa-apa melainkan melancarkan serangan ‘metode dulu’ yang tidak bisa dirubah. Mereka kebingungan akan hal ini, tetapi Iblis telah ‘memanis-manis’ metode itu supaya mereka tetap melakukannya.

Ketika Syaikh Ahmad yasin, pendiri HAMAS di Palestina itu di ‘rudal’ oleh helikopter Yahudi ketika beliau mau melakukan shalat subuh di mesjid dengan kursi rodanya, beliau menemui kesyahidan. Kesyahidan yang sangat ia idam-idamkan. Yahudi berpesta pora melihat pemimpinnya meninggal. Karena mereka menyakini bahwa ketika pemimpinnya meninggal, maka anggotannya akan rapuh dan melemah, sehingga dengan snagat mudah untuk menghancurkannya.

Akan tetapi ‘kelompok bathil’ tidak bisa disamakan dengan ‘kelompok haq’. Ketika Syaikh Ahmad Yasin wafat, lalu pengganti beliau bermunculan dan mengatakan dengan lantang kepada Yahudi laknatullah...

“ Walaupun syaikh kami syahid, itu tidak menyurutkan langkah kami. Ketika beliau wafat, maka kami akan melahirkan ‘Syaikh Yasin-Syeih Yasin yang baru dalam tubuh HAMAS!!!”

Gentar dan khawatir Yahudi mendengarnya. Dan akhirnya mereka (Yahudi) sangat menyesal dengan target merea, karena setelah itu, mereka dihinggapi ketakutan yang sangat akan kenyataan yang terjadi setelah hari itu!

Untuk para aktifis, Sungguh kemuliaan itu akan tersemat dalam dirimu. Peganglah dan kuatkan dirimu sehingga kalian merasa ‘kebal’ dengan ‘kekhawatiran’ itu.

Ayolah berjuang, bangkitkan islam di persada alam ini, Bermujahadahlah kamu dalam hal ini. Dan setelah itu, bertawakalah kamu kepada Allah dengan sebaik-baik Taqwa.

Dan setelah itu...

Tunggulah keputusan Allah untuk kita.

Allahu Akbar!!!!

 

Jalan kehidupan saya

Terdampar tak bertepi, kericuhan hati yang tak menetramkan, kekesalan dan kekewaan seringkali menghiasi lembaran –lembaran hari-hariku saat ini. semangat yang dulu pernah berkobar, kini harus berhadapan dengan semangat yang loyo dan tanpa arah. Betapapun kesabaran ini mudah-mudahan masih membekas dalam diri ini, sehingga dengannya keresahan, kerincuhan, kekesalan dan kekecewaan bisa teratasi dengan baik. Mungkinkah hanya sabar yang bisa membungkam itu semua?
Tetapi, apakah saya harus termenung, diam, dan mencoba ‘hanya memelas dada’ melihat keburaman ini? apakah saya harus terdiam pahit melihat kenyataan ini? Sungguh apalah artinya keimanan ini jika hanya bisa melihat dan mendengar dengan nanar dan naas, melihat ketidak sadaran sahabat-sahabat saya yang asyik dengan kesibukannnya masing-masing. Asyik dengan amal-amalnya, asyik berdakwah kesana-kemari, menyebarkan fikrah yang diyakini kebenarannya.
Akan tetapi, adakah mereka mempunyai keimanan yang tidak pernah surut? Adakah mereka merasakan bahwa amal-amal mereka tidak menyentuh masyarakat, sehingga tumpulah apa yang diusahakan untuk mereka? Berarti, ada yang salah pada diri kita. Demi Allah, janganlah kita mengurangi amal-amal umat, karena melihat surutnya amal kita, tetapi bukan karena amal-amal itu melainkan karena diri kita sendiri.
Bagai terjebak dalam lingkaran kelalaian, wilayah ketidaksadaran itu memberhangus jiwa yang selalu sadar. Hingga, ketika mereka sadar, kesadarannya pun hanya sesaat. Pernah mereka ingin mengerutkan dan menelusuri kesadaran itu, tetapi niat mereka tidak pernah rampung, nafas mereka habis ditengah jalan, pikiran ketidak sadaran mereka liar yang dnegan dipenuhi nafsu mereka berontak. Sehingga mereka kembali pulang ke kampung halaman ketidak sadaran itu. lebih senang berada dalam zona aman daripada memaksa diri untuk berhijrah ke zona ketidaknyamanan. Padahal, tidak pernah ada orang-orang yang sukses yang hidupnya hanya berada di zona aman itu. dari dulu, sampai sekarang dan akan datang pun!
Mencoba untuk menyadarkannya, membantu untuk menemukan setiap masalah-masalah yang dihadapi oleh teman-teman adalah komitmen saya. Karena sungguh, ketiadaan teman dalam berjuang sangat melelahkan, sangat membosankan, dan sangat tidak bergairah. Pertemanan adalah keniscayaan. Akan tetapi, bagaimana jika teman yang telah terpilih kemudian menjadi tidak sadar akan kelalaiannya. Kelalalaian yang justru Allah dan Rasul-Nya menghinakannya? Mungkinkah saya akan bisa berjuang, sedang kelalaian dan kesadaran tidak mungkin berada dalam satu tempat dan satu fase waktu. Tidak akan pernah bisa mencapai target-terget yang kita canangkan sedang kita malah dipersulit oleh penyatuan jiwa antara sadar dan kelalaian ini. sungguh. Nanti kita akan menemukan banyak hal yang ganjil tentang amal kita, bahkan kita akan terfokus dengan penyamaan diri kita daripada fokus ke target.
Maka, keteguhan sayapun harus diuji disini. Komitmen akan penyadaran harus saya temukan disini. Tetapi kadangkala saya berhenti ketika memikirkan hal ini. sebuah resiko. Resiko yang sungguh saya tidak bisa bermain logika disini, karena ini adalah hak Allah, dan saya tidak boleh melanggarnya. Resiko itu menggambarkan sebuah tendangan, sebuah cacian dan sebuah penghinaan yang sangat nyata. Tetapi setelah sesaat merenungi pemikiran itu sambil terus mengingati hujjah –hujjah, maka saya simpulkan bahwa saya tidak boleh berhenti untuk itu.
Banyak sekali orang yang sadar karena sesuatu. Ada yang tersadar oleh alam, ada yang tersadar oleh musibah, ada yang tersadar oleh Al-Qur’an dan Hadist bahkan banyak juga ada yang terdasar oleh teman masing-masing.
Tersadar oleh teman itu membutuhkan kekuatan. Kekuatan yang bersumber dari cinta kasih, kebaikan, kerinduan, dan penyatuan jiwa. Tanpa kekuatan itu, ia akan cacat seumur hidupnya. Kekuatan itu kemudian membungkus dari dan jiwanya sehingga kuat dan kebal menghadapi resiko yang akan terjadi. Ia merasakan bahwa saat ini ia fokus dengan teman yang terlalaikan itu, ia menangkis serangan pikiran dirinya sendiri tentang ajakan yang berupa pertanyaan,” lalu, bagaimana dengannmu, kamu akan tersakiti, tersiska, dan hati kamu akan membara dengan tuduhan-tduhan yang mereka lancarkan. Sudahlah, susah untuk menyadarkannya, lebih diam saja dan berdoa saja. Biarlah Allah yang mengurusinya. Karena dengan berdo’a, sungguh kamu sudah berbuat sesuatu dengannya.” Namun, pertanyaan itu saya sangkal, “ Biarlah saya tersakiti, tersiksa dan apapun yang dia tuduhkan atas saya. Biarlah saya menikmati ini. sungguh saya lebih sakit dan kecewa jika ketika kita berjalan, berjuang bersama, namun sejatinya kita bermusuhan. Karena tidak mungkin sadar berteman dengan kelalaian. Adalah lebih membuat menderita jika saya harus menahan getir perasaan yang ingin membuncah ini. Sungguh saya tidak suka untuk mematikan penahanan deraian air mata ini jika tidak tahan. Karena saya mempunyai harapan yang kuat. Yaitu saya merindukan bahwa kelak suatu saat dia menjadi sadar yang kembali menyatu dengan jiwa saya untuk berjuang bersama-sama lagi. Biarlah kapan dia akan tersadar, hari ini atau yang akan datang. Bagiku itu tidak penting. Yang penting mudah-mudahan Allah membukakan hatinya untuk kembali tersadar dan kembali mengasah kapak keimanan dia sendiri. Dan sungguh, saya merindukan itu.”

Dan memang, hujatan, kekesalan, dan kebakaran jenggot dia menampar hatiku. Munculah panas, tidak bergairah, dan muncul pula nafsu yang ingin bergejolak. Biarlah mereka semua muncul, tetapi saya akan coba mengendalikan nafsu itu. nafsu itu sangat berbahaya bagi saya. Sok memvonis, sok lebih baik, sok lebih bersih muncul terus memerangi saya. Tiada habis. Tidak pernah beristirahat dari hujatan itu. karena bukan hatinya yang berperang, bukan dirinya yang menyerang, sekali lagi bukan. Tetapi yang menyerang adalah nafsunya yang dikendalikan syetan. Merekalah yang menyerangnya.
Mungkinkah ia akan menerima dengan hati ketika saya lari-lari kemudian berteriak lantang membangunakan dia yang lagi tertelap tidur dan terbuai dengan mimpinya sedang rumahnya terbakar dengan api yang sangat besar? Apakah dia akan menerima teriakan saya sebelum dia mengetahui bahwa rumahnya terbakar api? Tentu tidak....dia akan marah dan segera melancarkan hujatannya kepada saya karena dia merasa dibangunkan dengan paksa dan membuyarkan mimpi-mimpi indahnya.
Maka, dia akan meminta maaf dan sangat berterimakasih dengan setinggi-tingginya jika ternyata ia mengetahui bahwa ada bahaya yang sedang mengancamnya. Ada api yang siap melahapnya. Bahkan iapun akan mengatakan,’ terimakasih, sungguh kamu telah menyelamatkan saya. Saya berhutang budi besar kepada kamu.’

Allah,,,
Berilah saya kekuatan,
Perbaharuilah kapak keimananku,
Terangilah jalan-jalan saya yang amat buram dalam pandangan saya,
Dan berilah kesadaran diatas kesadaran atas saya, teman saya dan kepada manusia seluruhnya.
Sungguh, saya mencintai mereka layaknya saya mencintai diri sendiri...
 

Duhai Penjaga Shalat

Suatu ketika, Abdul Aziz bin Warman mengutus anaknya Umar bin Abdul Aziz untuk pergi ke Madinah untuk menuntut ilmu. Abdul Aziz bin Marwan menulis surat kepada Ulama Madinah yang benar-benar dipercayainya. Namanya Sholeh bin Kisan. Isinya adalah tentang pengambilan sumpah setia agar beliau (Sholeh bin Kisan) menjaga anaknya, mendidiknya, dan memperhatikan dalam urusannya.
Umar bin Abdul Aziz pergi ke Ubaidilah bin Abdillah bin Atabah untuk belajar ilmu darinya. Sementara hal yang dilakukan oleh Sholeh bin Kisan adalah selalu memperhatikan tentang sholatnya.
Pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz terlambat dalam sholatnya. Kemudian Sholeh bin Kisan pergi mendatanginya dan berkata:” Apa yang menyebabkanmu terlambat Sholat?”
“Sisirku menyeimbangkan dan menyeimbangkan rambutku.” Jawaban Umar bin Abdul Aziz dengan nada menyesal.
Berdesir hati Sholeh bin Kisan. Begitupun dengan Umar bin Abdul Aziz. Jiwanya seakan-akan meringkih kesakitan dikarenakan masalah itu.
Tetapi Sholeh bin Kisan dengan cepat merubah perasaanya. Beliau marah. Marah karena keterlambatan itu.
“ Saya telah mendidikmu, apakah rambutmu rambutmu merepotkan sholatmu???”.
Selanjutnya Sholeh bin kisan memberitahukan kepada ayahnya perihal ini melalui sebuah surat. Setelah menerima surat itu, ayahnya melakukan sesuatu yang sangat bijak sekali dengan mengirimkan seseorang kepada anaknya. Ya, mengirimkan seorang tukang cukur untuk menggunduli anaknya. Supaya fitnah itu, tak akan pernah terjadi lagi. Supaya sisir rambut itu tidak akan perah lagi menjadikan shalat berjamaahnya terlambat.

Saudaraku...
Saya tidak bisa memikirkan bagaimana jika Abdul Aziz bin Marwan dan Sholeh bin Kisan hidup dizaman sekarang. Entah kesedihan apa yang akan bergemuruh didada mereka melihat orang-orang yang mengaku muslim lalai dari sholatnya. Jangankan mereka yang awam dalam masalah agama, bahkan seorang kiyai-pun seringkali melalaikan shalat. Alasan yang mereka kemukakan tidak mendasar dan tidak sesuai dengan syariat agama ini.
Sehabis saya mengisi materi pada acara maulid nabi SAW yang diadakan oleh GEMMA Syiarul Islam kuningan, saya langsung mengambil air wudlu karena setengah jam lagi adzan Dhuzur berkumandang. Saya berencana untuk menunggu Dzuhur dengan tilawah dan muroja’ah hafalan. Tiba-tiba datang seseorang laki-laki yang tepat disamping saya pada barisan shaf pertama. Sosok ini tidak seperti kita, itu bisa saya lihat dari kepincangan kaki kirinya. Kaki kirinya sangat pendek dan melengkung. Apalagi ketika orang itu sujud dan duduk dalam sholat, kaki kirinya ditekukan kedepan, sampai sejajar dengan tumit kaki kanan (ketika duduk tasyahud akhirnya, kaki kirinya berhadapan dengan telunjuknya tangan kanannya).
Tetapi sosok itulah yang selalu kurindukan. Sosok itulah yang selalu saya dapati ketika ada kesempatan berjamaah di mesjid SI itu. Ajaibnya, seolah-olah sosok itu selalu menjaga sholatnya. Pasalnya saya selalu mendapati sosok itu ketika disana. Ada seberkas rasa penasaran saya mengapa sosok itu selalu menjaga shalat berjam’aahnya di mesjid. Padahal, beliau itu cacat dan mungkin alasan kecacatan itu bisa menjadi keringanan dalam berjamaah di mesjid. Tetapi, saya tidak mendapatkan seperti. Dan memang tidak ada alasan untuk tidak berjama’ah di mesjid.

Dialog Rasullah SAW dengan seorang sahabat nabi yang buta, Abdullah bin ummi maktum mengajari kita tentang ketiadaan alasan untuk tidak shalat berjama’ah di mesjid.
Suatu hari, beliau mendatangi Rasulullah dengan kepayahan. Beliau berjalan dengan bantuan tongkat untuk sekedar ‘mensasar’ jalan. Keinginan untuk bertemu dengan rasulullah SAW itu amat kuat sekali, karen beliau mendengar kabar tentang kewajiban memenuhi seruan adzan itu. Setelah bertemu dengan Rasulullah, beliau berkata kepada Rasulullah tentang adakah keringanan untuk tidak sholat berjama’ah di mesjid baginya karena kebutaan yang ia alami. Lalu Rasulullah mengangguk dan mengiyakannya. Gembira hati Abdullah bin Ummi Maktum, ternyata ada Rukhsah (keringanan) baginya, hingga ia tidak perlu susah payah mengerjakannya. Ketika ia pamit pulang, ia berjalan sedikit demi sedikit menjauhi Rasulullah, ia pulang dengan hasrat yang begitu puas dengan jawaban yang di berikan oleh Rasullah itu.
Tapi, tiba-tiba Rasulullah memanggilnya kembali. Pikiran Abdullah bin Ummi Maktum buyar dan kaget. Tidak biasanya Rasulullah memanggil seperti ini. kemudian Rasulullah mengatakan,
“Apakah engkau mendengar adzan?”
“Iya Ya Rasul....” Jawab Abdullah.
Lalu sebuah jawaban melayang keras menghantam ke hati Abdulloh,
“Kalau begitu, penuhilan panggilan itu!!!”
Titik.
Rasa kemanusiaan Rasulullah tidak lantas melahirkan rasa iba dan cinta kepada sahabat yang satu ini. tapi, sungguh itu perintah Allah. Bukan lagi ketentuan Rasulullah dengan sendirinya. Maka dari itu, sudah selayaknya rasulullah mengenyampingkan rasa iba dengan tunduk dan taat pada perintah-Nya. Abdullah bin Ummi Maktum kemudian menerima sesungguhnya taat kepada Allah itu sebuah kewajiban. Iapun yakin bahwa kewajiban itu mengandung hikmah yang luarbiasa. Ia pun lalu menjalankan perintah itu dengan segenap kemampuannya.
@@@@@@@@@@@@@

Tidakkah engkau mendengar adzan itu saudaraku? Jika iya, mengapa engkau tidak segera menyambut seruannya? Seharusnya ketika mendengar adzan itu, segala kegiatan harus diberhentika terlebih dahulu dan segera menunaikan kewajiban shalat berjama’ah. Tetapi mengapa kebanyakan dari kita ‘cuek bebek’ mendengar adzan itu. Menganggap seperti pengumuman biasa. Melanjutkan kegiatan yang kita lakukan. Tidak segera menyambutnya. Lebih naas lagi ketika ada adzan mereka mengatakan, “Kok udah dzuhur lagi, cepet banget ya”. Ada pula yang segelintir orang yang mengaku orang-orang pesantren malah ketika mereka ada di mesjid, ketika mendengar adzan mereka malah pergi meninggalkan mesjid, dengan alasan baju mereka kotor. Itu adalah alasan yang dibuat-buat untuk mereka. Padahal kenapa mereka tidak shalat dulu, kan bajunya hanya kotor bukan najis. Itulah alasan mereka.

Sejenak mari melihat lagi tentang kewajiban shalat berjama’ah di mesjid bagi laki-laki
Tidak ada satu perkara pun yang melalaikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari beribadah dan berbuat ketaatan. Apabila sang muadzin telah mengumandangkan azan; "Marilah tegakkan shalat! Marilah menggapai kemenangan!" beliau segera menyambut seruan tersebut dan meninggalkan segala aktifitas duniawi.

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid ia berkata: "Aku pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha: 'Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di rumah?' 'Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan azan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat)." (HR. Muslim)

Tidak satupun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat fardhu di rumah, kecuali ketika sedang sakit. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pernah terserang demam yang sangat parah. Sehingga sulit baginya untuk keluar rumah, yakni sakit yang mengantar beliau menemui Allah shallallahu 'alaihi wasallam.

Disamping beliau lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap umatnya, namun beliau juga sangat marah terhadap orang yang meninggalkan shalat fardhu berjamaah (di masjid). Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sungguh betapa ingin aku memerintahkan muazdin mengumandangkan azan lalu iqamat, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri shalat jamaah, untuk membakar rumah-rumah mereka." (Muttafaq 'alaih)

Saudaraku...
Mari berusaha untuk selalu shalat berjama’ah di Mesjid. Tahanlah kesabaran kalian, hancurkan kemalasan kalian, karena sesungguhnya banyak sekali manfaat yang akan di datangkan oleh Allah kepada orang yang menjaga shalatnya. Lihatlah Rasulullah, Umar Bin Abdul Aziz, Orang yang cacat itu, dan tokoh-tokoh yang menorehkan tinta emas kejayaan islam selalu bermula dari sini, yaitu dari sholatnya.
Mari saudaraku,
Apakah engkau belum pernah mendengar juga seorang ulama salaf pernah mengatakan kepada seseorang, “ Jika ketika seorang muadzin mengatakan ‘Hayya ‘alassholah’ sedang anda tidak mendapati saya berada dalam barisan shaf terdepan, maka CARILAH AKU DIKUBURAN!!!!”. Subhanallah, belajarlah bersama-sama denganya, itu berarti beliau selama hidupnya belum pernah ketinggalan shalat berjama’ah.
Mari saudaraku,
Berjuang dan bermujahadah bersama-sama. Semoga Allah membantu kita semua.
Segala puji Bagi Allah, Sholawat serta salam kepada Rasulullah SAW.
 

TUNDUK KEPADA HAWA NAFSU...

TUNDUK KEPADA HAWA NAFSU...
Berapa banyak orang yang terlena dengan nafsu? Berapa banyak pula orang yang tersesat gara-gara hawa nafsu?
Kitapun hari ini, menyaksikan hawa nafsu merusak akal manusia. Mengalahkan dan mengotori akal mereka. Maka, setelah aakal berhasil dikuasai, maka hatipun akan menjadi sasarannya. Bila ia benar-benar akan menguasai hati, maka hati-hatilah terhadap perasaan hati/ sanubari. Karena sungguh ia sudah terkuasai, sudah terkotori dan fitrah itu hilang. Berhati-hatilah jika menanyakan sesuatu kepada hati, karena kita tidak mengetahui apakah fitrah itu masih ada ataupun sudah lenyap.
Seseorang teman keluaran dari pesantren tradisional kembali ke kampung halamannya. Ia telah mengahabiskan selama 7 tahun berada disana. Berkutat di dalam ilmu yang ia pelajari. Lalu, terpandanglah ia di desanya. Walaupun masih muda, banyak orang yang menyebutnya ‘Kiyai’ muda. Tetapi ada yang mengganjal di hati saya, setelah lama berinteraksi dengannya, saya selalu mendapati hal-hal yang seharusnya ia jauhi. Bukan hanya dia, tapi seseorang yang mengaku muslim.
“Kenapa banyak yang mengaku muslim, punya pengetahuan di bidang agama tetapi mereka banyak hal-hal yang di langgar, apalagi ini masalah serius. Misalkan saja, suka berkata yang jorok, tidak sopan, bahkan berbicara yang orang awampun tidak pantas apalagi seseorang yang dijadikan panutan.”
Maka, iapun menjawab dengan sangat enteng,
“Ya, memang kebanyakan orang seperti itu. Karena setiap orang pasti mempunyai kesalahan. Walaupun orang panutan. Yang penting ibadahnya getol.!
Titik...
Ya Rabb, manusia macam apakah ini? Boleh kebanyakan orang seperti ini, karena memang saya saja yang tidak mengetahui???

Semuanya terjadi sesuai kehendaknya. Karena yang menguasai mereka adalah hawa nafsu itu sendiri. Karena ia tidak mungkin dipisahkan dengan kita. Tetapi ia sangat berbahaya. Jika kita tidak mengusainya, bersiap-sipalah untuk menjadi budaknya.

Kuasailah hawa nafsu, maka engkau akan sukses. Ia selalu mengajak kepada suatu kondisi yang dimana kita merasa nyaman, malas-malasan, senang kepada kenikamatan dan selalu tuidak ingin ada sesuatu yang memperbudaknya. Akan tetapi, di jiwa seorang muslim yang bersungguh-sungguh, hawa nafsu ini akan di kalahkan oleh aturan yang dijadikan prinsip seorang muslim. Prinsip yang tanpanyalah kita tidak berarti apa-apa. Al-Quran dan hadist prinsip itu.
Bahkan, perhatikanlah sabda Rasululloh ini,
Dari Abu Muhammad, Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiallahu 'anhuma, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang telah aku sampaikan”. (Hadits hasan shahih dalam kitab Al Hujjah)
Jika engkau mau, sungguh hawa nafsu itu akan tunduk. Jika engkau tidak mau, maka hawa nafsu itu tidak akan pernah tunduk kepada siapapun.
 

Ada banyak orang yang terluka disini

Ada banyak orang yang terluka disini.
Terluka,,,terluka,,,terluka,,,. Banyak yang terluka disini. Disekitar kita. Bahkan mungkin saja orang yang terdekat dengan anda pun terluka. Karena kita tidak perlu mencari psikiater untuk menemukan orang-orang yang terluka ini. Karena itu pula, akan menjadi banyak orang lain yang akan terluka oleh yang terluka. Akan banyak orang yang tersakiti. Sejatinya, orang teluka itu mempunyai watak yang amat berperasaan, ‘membuat orang lainpun terluka!’.
Pada abad ke -19, Filsuf Arthur Schopenhauer mengilustrasikan manusia dengan landak yang berkerumun pada malam dingin yang menyakitkan:
“Semakin dingin diluar, semakin kita berkerumun untuk mencari kehangatn; namun semakin dekat kita satu sama lain, semakin kita menyakiti satu sama lain dengan duri panjang kita yang tajam. Dan, pada malam dingin yang sepi di bumi pada akhirnya kita mulai hanyut terpisah dan berjalan sendiri-sendiri serta membeku sampai mati dalam kensunyian kita.”
Memang seperti itulah kenyataannya. Orang yang terluka seringkali selalu membuat yang lainnya terluka. Tak ayal, jika kita dekat dengan orang yang terluka, kita akan merasakan kita terluka oleh mereka. Biasanya berjenis dan tipe yang sama. Melancarkan serangan seperti orang lain yang menyerangnya. Ini semacam ‘supaya orang lain merasakan penderitaan seperti kita’ alasan mereka seperti itu.
Saya mempunyai seorang teman. Dia berubah drastis sejak patah hatinya dengan seseorang yang begitu ia cintai. Jangankan ibadahnya, sifat-sifatnyapun berubah ke arah negatif. Itu disebabakn oleh wanita yang begitu ia cintai ternyata tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya. Kemudian wanita itu pergi jauh ke luar negeri untuk mengabdi di Rumah Sakit. Saya rasa habislah kisah itu, ternyata ia masih panjang. Teman saya begitu terpukul, dan ia terluka. Hingga akhirnya teman saja berhubungan tidak sehat dan berniat lain dengan orang lain. Akhirnya justru ia telah melukai wanita-wanita lain dengan memainkan perasaanya. Modus rayuan, mengajak menikahpun ia lakukan. Dan begitulah hati seorang wanita. Ia mudah termakan oleh rayuannya. Ketika wanita-wanita itu termakan dan percaya, saat itulah ia maki-maki wanita itu, menyebutkan kekurangannya di depannya dan akhirnya teman saya pergi meninggalkan wanita itu. Wanita itu terluka, sakit hatinya. Hingga antara mereka menyisakan benci yang sangat mendalam. Bahkan ada diantara mereka yang taruma dekat dengan seorang laki-laki sampai sekarang.
Awalnya, saya tidak habis pikir kenapa ia melakukan seperti itu kepada wanita-wanita yang dekat dengan dia. Tetapi setelah saya membaca buku “Winning with Peple” karya John Maxwell, saya baru mengerti kenapa seperti itu. Jawabanya sangat sederhana “KARENA IA TERLUKA”.
Ia terluka oleh wanita yang ia cintainya. Ketika ia tidak mendapat cintanya, lukaknya menganga. Dan ia ingin agar orang lain merasakannya pula. Sebenarnya saya mengetahui ketika ia melukai wanita-wanita lain, ia menjadi sangat terluka lagi. Ia mengetahui bahwa ia salah. Namun, ada kekuatan yang selalu mendorong ia harus melakukannya. Ia haus dengan itu, yang akhirnya ia terkalahkan oleh kekuatan itu.


Jika terluka hati kita, niscaya badan kita pun akan terluka. Bukan seorang muslim yang ia tidak merasa risih dengan keterlukaanya melukai orang lain.
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya Allah barangsiapa menguasai salah satu urusan umatku lalu menyusahkan mereka maka berilah kesusahan padanya." Riwayat Muslim
Jika kita merasa bahwa kita tersakiti dan merasa ingin menyakiti orang lain lagi karena ingin menyebarkan perasaan itu, pertanda bahwa kita belum memahami takdir dan ketetapan Allah. Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya, justru hambanya sendiri yang mendzalimi dirinya sendiri. Tidakkah kita tahu bahwa Allah menyiapkan yang terbaik bagi kita? Ya, kita mengetahui. Tetapi kita sadar bahwa apa yang terjadi pada kita pada akhirnya berujung pada kebaikan, walaupun terasa pahit oleh kita. Walaupun terasa berat oleh kita.
Ketika sakit, tidakkah kita harus minum obat yang pahit demi kesembuhan kita nantinya??? Jika kita tahu, kenapa engkau tidak begitu yakin terhadap keteteapn Allah ini???
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Albaqarah 216).
Dan sekali lagi, itulah kelemahan kita. Dan saking Allah mencintai kita, Allah menyiapkan ujian-ujiannya. Dan ujian yang diberikan oleh-Nya berpusar ke arah sana, di kelemahan kita. Kenapa disana? Allah ingin, supaya kelemahan kita menjadi kuat!
Indah sekali ucapan Ust Rahmat Abdulloh dalam salah satu memoar dakwahnya,
“Allah akan menguji di titik terlemah antum. Sampai Allah mengetahui bahwa antum sudah menjadi kuat.”
Berusahalah, bermujahadahlah, selalu husnudzan kepada-Nya. Minta maaflah kepada orang-orang yang telah disakiti dan beristighfarlah..
Setelah itu, Allah melihat pekerjaan itu dan menyiapkan sesuatu yang lebih baik sebagai penggantinya.
 

*Afwan Akhii, Kau Saudaraku Tapi Bukan Mahramku*


Akhii, kutuliskan risalah ini bagimu. Bukan karena apa. Kau adalah saudaraku, Akhii fillah. Karena Allah Ta’ala, bukan Akhii fii nasab yang mengharamkan pernikahan dan menghalalkan hubungan mahram.1

Akhii, sesungguhnya hati manusia ada di antara jari-jemari Ar Rahman. Maka beruntunglah orang yang dihadapkan hatinya pada ketaatan pada Allah Ta’ala. Sungguh benarlah doa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam panjatkan, “Allahumma musharrifal quluub, sharrif quluubanaa ‘alaa tha’atika” (Ya Allah, Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkan hati kami di atas ketaatan pada-Mu)2

Akhii, sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah3. Manusia, ya Akhii. Tak terkecuali. Laki-laki maupun wanita.
Tahukah kau wahai Akhii, panutan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan kita dalam sabdanya yang artinya, “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih membahayakan kaum laki-laki daripada fitnah wanita.”4

Dan agama kita yang mulia juga telah mengajarkan adab-adab bergaul dengan lawan jenis yaa, Akhii. Bila kita tapaki perjalanan salaful ummah, kita akan temukan betapa mereka menjaga adab-adab tersebut.

Maka tidak layak bagi kita untuk bermudah-mudah dalam bergaul dengan lawan jenis. Janganlah bermain-main dengan kehormatan, yaa Akhii. Allah Ta’ala selalu mengawasi kita di manapun dan kapanpun. Apatah itu dalam kamar tertutup rapat, ketika kau sedang asik ber-SMS dengan wanita yang bukan mahrammu tanpa keperluan yang mendesak. Sama sekali bukan untuk hal yang membawa mashlahat, hanya untuk mengatakan,
“Ap kbr, Ukhti? Lg sbk ap skrng?”
“Smgt ^_^”
“Ttp senyum nggih :-) ”

Atau untuk sekadar mengirimkan nasehat. Entah itu terjemah Al Qur’an, potongan hadits, atau perkataan ulama. Apa maksud yang ada dalam hatimu, yaa Akhii? Banyak teman-teman ikhwan yang lebih berhak kau beri perhatian dan nasehat. Na’am, murni perhatian dan nasehat, tanpa tendensi apapun.

‘Afwan ‘Akhii, bukannya kami terlalu sombong untuk menerima nasehat darimu. Akan tetapi, bagi kami, cukup teman-teman shalihah tempat untuk berbagi rasa. Cukup bagi kami, para asatidz dan asatidzah5 yang mendakwahi kami. Cukuplah majelis-majelis ilmu dan buku-buku dari para ulama tempat kami mencari tahu tentang agama.

Tahukah yaa Akhii, terkadang syaithan menghiasi keburukan sehingga menjadi tampak indah. إن الشيطان ليفتح للعبد تسعة و تسعين بابا من الخير يريد به بابا من السوء
“Sesunggunya setan benar-benar akan membukakan 99 pintu kebaikan bagi seorang hamba, untuk tujuan membuka satu pintu keburukan”6

Akhii, Ibnu Taimiyah pernah berkata yang artinya, “Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, saat dijual dan saat berpisah dengan bapaknya. Sebab hal-hal ini terjadi di luar kehendaknya, sehingga tidak ada pilihan lain bagi hamba kecuali sabar menerima musibah. Tapi kesabaran yang memang beliau kehendaki dan diupayakannya saat menghadapi rayuan istri tuannya, kesabaran memerangi nafsu, jauh lebih sempurna dan utama, apalagi di sana banyak faktor yang sebenarnya menunjang untuk memenuhi rayuan itu, seperti keadaan beliau yang masih bujang dan muda, karena pemuda lebih mudah tergoda oleh rayuan. Keadaan beliau yang terasing, jauh dari kampung halaman, dan orang yang jauh dari kampung halamannya tidak terlalu merasa malu. Keadaan beliau sebagai budak, dan seorang budak tidak terlalu peduli seperti halnya orang merdeka. Keadaan istri tuannya yang cantik, terpandang dan tehormat, tanpa ada seorang pun yang melihat tindakannya dan dia pula yang menghendaki untuk bercumbu dengan beliau. Apalagi ada ancaman, seandainya tidak patuh, beliau akan dijebloskan ke dalam penjara dan dihinakan. Sekalipun begitu beliau tetap sabar dan lebih mementingkan apa yang ada di sisi Allah.”7

Yaa Akhii, tidakkah kau ingin meneladani Yusuf ‘Alaihis Salam? Seorang pemuda yang menjaga iffah-nya yang dijanjikan mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya.8

Yaa Akhii, mungkin kau sudah pernah mendengar sebuah hadits dari Nawas Ibni Sam’an radiyyallahu anhu yang artinya, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: “Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.”9

Yaa Akhii, kebahagiaan sejati tidak akan diperoleh dengan cara yang haram. Percayalah itu. Cara ini hanya akan menimbulkan kesusahan dan kerusakan pada diri serta terbuangnya harta dengan sia-sia. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.10

Terakhir yaa Akhii, saya akan nukilkan perkataan Salman Al Farisi radiyyallahu ‘anhu dari Ja’far bin Burqan yang artinya, “Ada tiga orang yang membuatku menangis dan tiga orang lagi membuatku tertawa. Aku tertawa melihat orang mengejar dunia sedangkan kematian telah mengintainya, orang berbuat lalai berbuat padahal dirinya tak pernah dilupakan, dan orang banyak tertawa, sedangkan ia tidak tahu apakah Allah murka ataukah ridha kepadanya. Dan aku menangis karena kepergian orang-orang yang dicintai, yaitu kepergian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pengikutnya, kedahsyatan yang sangat mengerikan saat berada di pintu kematian, dan saat berdiri di hadapan Rabb semesta alam, yaitu ketika aku tidak mengetahui apakah aku akan dikembalikan ke surga atau ke neraka.”11

Kuharap risalah ini memperberat timbangan amal kebaikanku kelak. Pada hari di mana harta dan anak takkan berguna kecuali orang yang menghadap Allah Ta’ala dengan hati yang selamat.12
Wallahul musta’an.

1. Mahram adalah orang-orang yang haram dinikahi, bisa karena nasab, persusuan, atau pernikahan. Di Indonesia, istilah ini rancu dengan muhrim. Padahal istilah yang tepat adalah mahram, karena muhrim berarti orang yang sedang berihram (-pen).
2. HR Muslim no. 2654 dari Shahabat ‘Abdullah bin’Amr bin Al Ash Radiyallahu ‘Anhuma
3. Lihat QS An Nisaa: 28
4. HR. Al-Bukhari dalam An-Nikah (5096), Muslim dalam Adz-Dzikr (2740)
5. Jamak dari ustadz dan ustadzah (-pen)
6. Perkataan Hasan bin Shalih rahimahullah
7. Perkataan ini dinukil oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah dalam Madarijus Salikin
8. Lihat HR Bukhari no 660, Muslim 1031 dari Abu Hurairah radiyyallahu anhu, yang artinya, “Tujuh golongan yang kelak akan dilindungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dengan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu dalam keadaan demikian dan berpisah pun dalam keadaan demikian pula, laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah namun ia menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya, hingga kedua matanya bercucuran air mata.”
9. HR Muslim, dimuat dalam Bulughul Maram, Kitabul Jami’ bab adab
10. Terjemah HR Ahmad V/78,79
11. Atsar ini tercantum dalam kitab Rauhuz Zaahidiin yang merupakan ringkasan dari kitab Hilyatul Auliyaa’
12. Lihat QS Asy Syu’aara’: 88-89

http://arnida.blog.ugm.ac.id/2009/11/23/%E2%80%98afwan-akhii-kau-saudaraku-tapi-bukan-mahramku%E2%80%A6/

by: Ummu Zahratin Nisa As-Sundawiyah
 

*HP-mu = HARGA DIRIMU*


“Tetap istiqomah, Ukhti… Selamat berjuang. Semoga Allah menyertai anti.” Sender : Ikhwan +62817xxx

Senyum timbul dari cakrawalanya dengan malu-malu. Serasa ada hangat menyelusup dada dan membuat jantung berdegup lebih cepat. Otaknya pun sekejap bertanya, “Ada apa?”, “Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya senang karena ada saudara yang menyemangatiku.” Si akhwat menyangkal hatinya cepat-cepat. Dan ia bergegas meninggalkan kamarnya, ada dauroh. Ia berlari sambil membawa sekeping rasa bahagia membaca sms tadi yang sebagian besar bukan karena isinya, melainkan karena nama pengirimnya.

“Ana lagi di bundaran HI, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan ini.” Sender : Ikhwan +628179823xxx

Untuk apa dia memberitahukan ini padaku. Bukankah banyak ikhwan atau akhwat lain? Nada protes bergema di benaknya. Tapi di suatu tempat, entah di mana ada derak-derak yang berhembus lalu. Derak samar bangga menjadi perempuan yang terpilih yang di-sms-nya.

Pagi itu, handphone kesayangannya berbunyi. “Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti.”

Dada membuncah hampir meledak bahagia. “Dia bahkan ingat hari lahirku!” Dibacanya dengan berbunga-bunga. Tapi pengirimnya… Sender : Akhwat +6281349696xxx

Senyum tergurat memudar. Tarikan napas panjang. Kecewa, bukan dari dia. Ringtone-nya berbunyi lagi.

“Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti.” Sender : Ikhwan +628179823xxx

Dia!Semburat jingga pagi jadi lebih indah berlipat kali. Senyumnya mengembang lagi. Dan bunga-bunga itu mekar-lah pula.

Cerita di atas tadi selurik gerak hati seorang akhwat di negeri antah berantah yang sangat dekat dengan kita. Gerak hati yang mungkin pernah bersemayam di dada kita juga. Bisa jadi kita mengangguk-angguk tertawa kecil atau berceletuk pelan, “Seperti aku nih,” saat membacanya. Hayo… ngaku! He he…

Mari kita cermati fragmen terakhir dari cerita tadi. Kalimat sms keduanya persis sama, yang intinya mengucapkan dan mendoakan atas hari lahir (mungkin mencontek dari sumber yang sama hehe…). Sms sama tapi berhasil menimbulkan rasa yang jelas berbeda. Karena memang ternyata lebih berarti bagi si akhwat adalah pengirimnya, bukan apa yang dikatakannya.

Namun sebenarnya, apakah Allah membedakan doa laki-laki dan perempuan? Mengapa menjadi lebih bahagia saat si Gagah yang mendoakan? Semoga selain mengangguk-angguk dan tertawa kecil, kita juga berani memandang dari sudut pandang orang ketiga. Dengan memandang tanpa melibatkan rasa (atau nafsu?), kita akan bisa berpikir dengan cita rasa lebih bermakna.

Konon, cerita tadi terus berlanjut.

Suatu hari yang cerah, sang akhwat mendapat kiriman dari si ikhwan itu. Sebuah kartu biru yang sangat cantik. Tapi sayang, isinya tidak secantik itu. Menghancurkan hati akhwat menjadi berkeping-keping tak berbentuk lagi. Kartu biru itu adalah kartu undangan pernikahan si ikhwan. Dengan akhwat lain, tentu saja. Berbagai Tanya ditelannya. Mengapa dia menikah dengan akhwat lain? Bukankah dia sering mengirim sms padaku? Bukankah dia sering me-miscall ku untuk qiyamull lail? Bukankah dia ingat hari lahirku? Bukankah dia suka padaku? Mengapa…mengapa…

Dan air mata berjatuhan di atas bantal yang diam. Teman, jangan bilang, ya… dia hanya tidak tahu, ikhwan itu juga mengirimkan sms, miscall, mengucapkan selamat hari lahir dan bersikap yang sama ke berpuluh akhwat lainnya!

Ironis. Sedih, tapi menggelikan, menggelikan tapi menyedihkan. Sekarang siapa yang bisa disalahkan? Akhwat memang seyogiyanya menyadari dari awal, sms-sms yang terasa indah itu bukan tanda ikatan yang punya kekuatan apa-apa. Siapa yang menjamin bahwa ikhwan itu ingin menikahinya? Bila ia berharap, maka harapanlah yang akan menyuarakan penderitaan itu lebih nyaring.

Tetapi para ikhwan juga tak bisa lari dari tanggung jawab ini. Allau’alam apapun niatnya, semurni apapun itu, ingatlah, sms melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Putih si pengirim, tak menjamin putihnya juga si penerima. Bisa jadi ia akan berwarna merah muda. Merah muda di suatu tempat di hati atau menjadi rona di pipi yang tak akan bisa disembunyikan di depan Allah.

Bagi perempuan, sms-sms dan bentuk perhatian sejenis dari laki-laki bisa menimbulkan rasa yang sama bentuknya dengan senyuman, kedipan menggoda, dan daya tarik fisik perempuan lainnya bagi laki-laki.

Menimbulkan sensasi yang sama. Ketika perempuan bertanya berbagai masalah pribadinya padamu, seringkali bukan solusi yang ingin dicari utamanya. Melainkan dirimu. Ya, sebenarnya perempuan ingin tahu pendapatmu tentang dia, apakah dirimu memperhatikannya, bagaimana caramu memandang dirinya. Dirimu, dirimu, dan dirimu… dan kami –kaum hawa- sayangnya, juga memiliki percaya diri yang berlebihan, atau bisa dibahasakan lain dengan ‘mudah Ge-Er’. Jadi, tolong hati-hati dengan perhatianmu itu.

Paling menyedihkan saat ada seorang aktivis yang tiba-tiba berkembang gerak dakwahnya atau semangat qiyamul lailnya karena terkait satu nama. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Ketika kita menyandingkan niat tidak karena Allah semata, maka apalah harganya! Apa harganya berpeluh-payah bukan karena Dia, tapi karena dia. Seseorang yang sama sekali bukan apa-apa, lemah seperti manusia lainnya.

Laki-laki dan wanita diciptakan berbeda bukan saling memusuhi, bukan juga saling bercampur tak bertepi, tapi semestinya saling menjaga diri. Secara fisik, emosional, atau kedua-duanya. SMS tampak aman dari pandangan orang lain, hubungan itu tak terlihat mata. Tapi wahai, syetan semakin menyukainya. Mereka berbaris di antara dua handphone itu. Maka dimanapun mereka berada, syaitan tetaplah musuh yang nyata!

Wahai akhwat, bila kau menginginkan sms-sms itu, tengoklah inbox-mu. Bukankah disana tersusun dengan manis sms-sms dari saudarimu. Saudari-saudarimu yang dengan begitu banyak aktivitas, amanah, kelelahan, dan kesedihan yang sangat memerlukan perhatianmu. Juga begitu banyak teman-temanmu yang belum mengenal Islam menunggu kau bawakan sms-sms cahaya untuk mereka.

Ada saatnya. Ya, ada saatnya nanti handphone kita dihiasi sms-sms romantis. Sms-sms yang walaupun hurufnya berwarna hitam semua, tapi tetap bernadakan merah muda. Untuk seseorang dan dari seseorang yang sudah dihalalkan kita berbagi hidup, dan segala kata cinta di alam semesta.

Cinta yang bermuara pada penciptaNya. Cinta dalam Cinta. Bersabarlah untuk indah itu.

“Ummi, abi lagi ngisi ta’lim di kampus pelangi. Di depan abi ada beribu bidadari-bidadari berjilbab rapi, tapi tak ada yang secantik bidadariku di istana Baiti Jannati. Miss u my sweety.”

“Abi, yang teguh ya, pangeranku…rumah ini terasa gersang tanpa teduh wajahmu. Luv ya”

Ya, hanya untuk dia kita tulis the Pinkest Short Massage Services. Sms-sms paling merah muda.
 

Extra Ordinary


Assalamu’alikum wr.wb
Segala puji bagi Allah, karenaNya kita masih mempunyai energy keimanan ini
karenaNya,aura kesholehan sahabat-sahabat, temen-teman masih dapat kita rasakanmeskipun sedikit demi sedikit buyar…
karenaNya, masih diberikan nafas-nafas ruhani yag menghantarkan jantung kita menjadi lapang, tidak sesak oleh ambisi kita…
karenaNya, kenikmatan berjama’ah itu kita bisa rasakan, syukur kita mengalahkan segalannya…
karenaNya, kita menjadi orang-orang asing, orang-orang aneh, extra ordinary,,,karena dalam lingkungan itu kita bias menemukan cahaya diatas cahaya,,,
dan karenaNya pula, saya bias menulis tulisan ini untuk seseorang yang begitu dikagumi banyak orang. Mudah-mudahan Allah selalu menutupi aib-aibnya dan merahmatiNya…
Rasulullah,,,,sholawat dan salam tercurahkan tetap tercurahkan kepadamu, begitu suri tauladanmu membuat diri membatasi dari orang-orang yang tidak mengikuti sunahmu.

Saudaraku….
Banyak orang yang tidak mau berubah, tidak mau menjadi lebih baik, stagnan, terserah gue, dan yang paling jahil adalah mereka mengaungkan semboyan,”Be self : jadilah diri sendiri”. Jangn turuti orang lain. Merekalah yang hidupnya hanya utuk dirinya sendiri. Tidak ada tempat bagi orang lain untuk diam dan mendekati orang yang diharapkan ada manfaatnya. Itulah mereka yang sayyid qutub katakan sebagai orang kerdil, orang kecil, dan orang lemah. Jangan tanyakn arti hidup, karena kalimat itu sangat asing bagi mereka. “Perut dan kemaluan” itulah hidup mereka. Walaupun tameng dan selimutnya kegiatan social, masalah umat dsb jika ada oppurtunis(keuntungan bagi dirinya), mereka akan melakukanya. Karena yang pikirkan hanyalah dua hal tadi.
Saudaraku…
Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin, segalanya sudah tersedia, betapa syari’at-syariatnya begitu menawan hati, begitu masih misteri, bahakan orang-orang barat mulai meneliti islam, mereka dibuat penasaran tentang apa yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadist…bukti-bukti kebenaran mulai terkuak. Jika saja orang-orang non Islam begitu semangat untuk mempelajari,,,kenapa kita umat Islam tidak bangga dengan kebahagiaan ini…kenapa kita tidak jaga kenikmatan ini..kenapa tidak kita lebih giat untuk menguak misteri al-islam ini…
Saudaraku…
Perubahan adalah segalanya,,,tanpa perubahan, lalu apa bedanya kita dengan hewan yang tidak mempunyai otak utuk berpikir???
Dan tentunya perubahan positif, kearah yang benar dan jalan lurus…
Dan inilah yang mendorong saya untuk mengklaim , menjusttifikasi dan ingin menyebarkan apa uang menjadi prinsip-prinsip perubah yang totalitas yang diwariskan oleh Rasulullah, sahabat-sahabat, salafu shaleh dan ulama-ulama yang benar…EXTRA ORDINARY. Ungkapan yang kedengarannya aneh,,,dan memang dari ungkapan saja terasa aneh apalagi jika kita masuk kedalamnya.

Bismilah, inilah singkat berdasar pada apa yang ada di hati ini…
Keterasingan…
Sebuah kata yang ketika anda mendengarnya pun, image yang terkuak dari kata itu meluncur deras. Dijauhi orang, dibenci orang, tidak wajar, beda sama orang lain, aneh, bahkan bias dikatakan gila atau stress, dan pelbagai celaan negative merayap kata yang kokoh itu. Sebenarnya, jika kita mempunyai cahaya penglihatan yang bersumber dari hati akan terkuaklah sebuah fenomena yang benar-benar terbalik, image itu tetap ada yang kemudian dengan sendirinya akan tersaring dengan sebenar-benarnya saringan dengan sangat menawan andai jika kita bisa melihatnya.
Keterasingan…
Adalah kata yang akan melemahkan, berfikir negative, takut dikucilkan, takut menderita, takut celaan orang-orang yang suka mencela, takut tawaan orang-orang yang suka menertawakan diperuntukan bagi mereka yang tidak mempunyai iman dan taqwa. Kepada mereka saya katakan,”Silahkan anda menjauhi kami, mungkin anda tidak butuh kebaikan, karena mungkin anda banyak kebaikan,yang dirasa akan menyelematkan anda dari siksa api neraka!!!”
Keterasingan…
Adalah kata yang menguatkan, memberi nafas kehidupan, menyegarkan, membuka tirai cahaya hati, memberi semangat, membuat tubuh terhuyung menjadi tegap, membuat mata kantuk ini segar, membuat hati ini terhapus dosanya, membuat tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya membawa kemaslahatan ini diperuntukan bagi mereka yang Beriman dan Bertaqwa. Dan tentunya keimanannya adalah sebenar-benar iman. Bukan hanya lisan, bukan hanya teori, bukan hanya pengalaman. Kepada mereka saya katakan,” Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu. Dan tetap berpegang teguhlah dan bertaqwalah, niscaya kamu beruntung!!!”

Ekstra ordinary…
Ekstra bisa diartikan lebih,terlalu. Sedangkan ordinary bisa diartikan aneh, over, tidak wajar, dll. Jadi secara istilah ekstra ordinary adalah orang-orang yang luar biasa, tidak lazim, diluar kebiasaan, orang aneh.
EO tidak terlepas dari dua jenis:
1. Diluar kebiasaan. Gila,stress, tidak tahu malu termasuk katagori ini. Dan ini EO yang negative harus dijauhi.
2. Luar biasa. Prestasi yang diatas rata-rata, berhasil mencapai puncak, outstanding performent. EO positif yang harus didekati.
Adalah tidak berlebihan hanya dua katagori. Karena jika dibahas maka semuany akan mengerucut kedalah dua hal itu.
Lihatlah…
Nuh a.s yang berdakwah tidak kenal lelah, siang malam, bertaqwa dan berilmu ternyata orang-orang menjauhinya dengan tidak lazim(menyakitkan) lari dengan menyumbat telinga-telinga mereka! Sempat beliau pesimis, tapi Allah meneguhkannya sehingga optimis kembeli berkibar…EO kah Beliau???
Ibrahim a.s dianggap aneh karena semua orang diwaktu itu menyembah berhala patung, lata, uzza, manna, dan salwa sedangkan Ibrahim a.s lebih senang menyendiri dan lebih condong mencari Tuhan yang didapat dari malam, bulan, sampai matahari…dan akhirnya menemukanNya,EO kah beliau???
Lihatlah Ismail a.s sebelum Allah memberikan karunia yang melimpah, ayahnya Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya Ismail. “ Ayah, jika itu datang dari Allah, turuti perintahnya, sungguh aku termasuk orang yang sabar.” EO kah Ibrahim dan Ismail???
Rasulullah SAW yang ketika akan wafat. Sejatinya beliau mengumpulkan keluarganya untuk berwasiat tentang harta, istri dan anak-anaknya, tapi..”Ummati..ummati…bagaimana umatku kelak??? EO kah beliau???
Umar bin Khattab selama kekhalifahan beliau setiap malam meronda…lalu ketika mengambil makanan di baitul mal untuk orang yang didapatinya kelaparan sampai hanya menggoreng dan menanak batu dengan dipanggul keatas bahunya yang sekarang mulai rapuh dengan jarak yang sangat jauh. “Maukah engkau menanggung dosa-dosaku kelak di akhri nanti???” tegas Umar ketika pembantunya menawrkan bantuan. Eo kan beliau???
Ulama-ulama salaf bergembira ketika malam datang, karena mulai meninggalkan dunia dan bercengkrama dengan Allah. Bahkan ada salah seorang di tempat shalatnya ada sundutan api. Ketika kantuk mulai merayap mata mereka, langsung disundutkan ke tangannya dan berkata,” apakah api neraka itu tidak membuat engkau melek dan terjaga???”
Dan sampai….

Saudaraku….
Orang yang bermental miskin tidak akan bermental kaya, orang yang bermental kaya tidak akan bermental miskin, dan FASILITAS TERBAIK DIBERIKAN TIDAK DIBERIKAN KEPADA ORANG BERMENTAL EKONOMI!!!
Bagaimana keutamaan-keutamaan dalam Al-Qur’an dan hadist itu dilupakan begitu saja oleh EO?
Contoh: kita tahu berjama’ah, di mesjid, dan shaf yang paling depan adalah pahalanya berlipat ganda. Adakah mereka memburu itu?bukankah mereka malah sholat dirumah, munfarid, bahkan ketika dimesjid shafnya ingin dibelakang atau pojok saja??? Apakah mereka lupa atau mereka bermental pahala sedikit???
Saudaraku…
Mungkin penjelasan tentang EO yang sedikit itu bisa menambah image dan hakikat kita tentang itu. Dan pemahaman itu akan bertambah sesuai dengan kurun waktu, kerja keras, mengimplementasikan Al-Qur’an, dan pengalaman-pengalaman yang syarat dengan makna.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang berhasil saya rumuskan. Ingatlah ini diperuntukkan jika mereka mau…!
Adapun indicatornya supaya lebih cepat didingat : CARE
• Commitment
Komitmen/istiqomah adalah bermula segalanya. Jika kita lihat islam, maka jelaslah yang akan dibanggkannya adalah komitmen. Ia akan muncul ketika prinsip Al-Qur’an dan hadist selalu dipegang teguh dan berupaya dilaksanakan. Tidak ada sesuatu yang mustahil,,,jika kita percaya Allah.
• Achievment past oriented
Allah melihat proses bukan hasilnya. Dimana saja berada, waktu kapanpun orang-orang ini selalu menikamati episode-episode kehidupannya. Tuntutannya adalah jangan menuntut hasil apa yang dikerjakan tapi apa yang telah saya berikan untuk pekerjaan ini. Ia menikmati betul perjalanannya. Intinya,,,bekerja,,,lakukanlah,,jangan banyak bicara.!!!
• Responbility
Sebuah kemampuan bertanggung jawab dalam segala hal. Dan ini adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin. Kemampuan untuk merespon berbagai tindakan, berbagai pandangan. Dan respon itu akan positif jika kita tidak segera cepat bertindak, mengklaim, tanpa kita mendengar dan memahami itu semuannya.
• Enthutiastic
Timbul energy, vitalitas, semangat itu akan mempengaruhi aura kita. Inner beauty(kecantika tersembunyi) akan mengalahkan kecantikan luar, akan kekal. Pernahkah kita melihat seseorang (walaupun baru kita lihat) ada kenyamanan, ketenangan, dam kedamaian dekat dengannya??? Selalu memberikan kita semangat baru…
Karena sesungguhnya mereka itu mengirimkan sinyal-sinyal positf dan kita menerimannya.

Saudaraku…
Alhamdulillah, akhirnya terselesaikan juga. Afwan bila ada kesalahan-kesalahan. Jika itu kebaikan, datangnya dari Allah, dan jika itu kejelekan, datangnya dari hamba dhoif dan fakir ini.
Semoga bermanfaat, dan semoga EO-EO bertebaran membawa warna yang sangat agung dalam hidup ini, bahkan saya harap warna agung-agung itu akan diperebutkan, akan diharapkan…

Assalamu’alaikum Wr Wb

 

TAFAKUR menjadi ULIL ALBAB

Pada suatu hari, Bilal r.a mendapati Rasulullah sedang menangis tersedu-sedu diakhir malam. Tangisannya begitu meledak, begitu menghawatirkan seseorang yang mendengarnya, begitu membuat hati ini terkejut dan membuat penasaran ada apa gerangan terjadi. Adalah sama seperti yang dialami oleh Bilal bin Rabah, sahabat yang menjadi mulia setelah datang cahaya Islam. Bilal sungguh mencintai beliau dengan segenap perasaan, sepenuh cinta itu tidak mungkin tega melihat kekasihnya berada dalm keadaan kondisi seperti itu.
Kemudian memberanikan diri lalu bertanya dengan suara yang lembut,”Wahai Rasululloh, gerangan apakah yang membuat engkau menangis seperti ini? kemudian Rasulullah menjawab,”Baru saja jibril datang kepadaku dengan membawa wahyu dari Allah. Ternyata wahyu itu membuat Rasulullah menangis tidak seperti sebelumnya.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(lalu berdoa), ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab api neraka.’ (Ali Imran 3:190-191)

Begitu menghantam hati ini jika kita memahami ayat itu, begitu membuat hati bergetar…menyempit, nafas terasa sesak tidak karuan. Apalagi pemahaman Rasulullah tentu jauh melampau demensi keimanan itu yang kita terima
Kenapa Rasulullah terkesima dengan ayat itu?
Ada sebagian orang yang begitu dekat dengan agama, tekun membaca kitab-kitab gundul, mengahfal al-Qur’an dan hadist, tapi terkadang mereka lupa hakikat sebenarnya apa makna tersirat yang dimaksudkan Allah dalam semua perintah itu…
Ada pula sebagian orang yang mereka tidak sebegitu dekat seperti tipe pertama, tapi mereka memahami dengan jauh maksud Allah yang tersurat maupun tersirat yang Allah tunjukan…
Ada sebagian orang yang merasa puas dengan kondisi seprti tipe pertama, sehingga mereka mengacuhkan dan terus mencurahkan pikirannya dan terkadang mereka lupa bahawa Allah terkadang memahamkan seseorang itu melalui ayat kauniah…
Ada pula sebagian orang yang merasa puas tipe kedua sehingga mereka mengabaikan Al-Qur’an dan sunnah sehingga mereka berpikiran terlalu menghabiskan waktu untuk seperti itu…
Subhanallah….
Ya tafakkur…
Ilmu Allah adalah tidak ganjil,seimbang. Itu bisa mempertajam bidang yang lainnya, ia bisa menjadi hujjah antara ilmu satu dengan yan lainnya. Terkadang kita merasa puas dengan keadaan kita sekarang, puas dengan nikmat Allah yang telah diberikan, merasa puas dan kita sering berfikir salah terhadap sykukur itu. dan tentunya kita akan menjadi sholeh yang tidak sebatas diri sendiri, tapi juga membentuk keshalihan umat yang tentunya ilmu itu berguna bagi orang lain.
Aktivitas berpikir manusia mengarahkan perilaku dan tindakan luarnya. Apa yang dipikirkan, dirasakan, direspon dan diketahui manusia pada tingkat perasaanlah yang membentuk gambarannya terhadap kehidupan, mewarnai keyakinan dan nilai-nilai hidupnya dan mengarahkan perilaku-perilaku luarnya. Tiap sifat yang ada dalam hati akan menampakkan pengaruhnya pada anggota tubuh.
Jika kita menggabungkan semua unsur dalam bertafakur, maka terciptalah di mind kita sebuah gambaran yang menuntut suatu gerak, karena sebuah pikiran tidak sukses jika kita hanya megumpulkan tidak menyebarkan,…mejadi insane luar bisa.
Maksud inilah mungkin yang Allah inginkan pada hambanya, (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(lalu berdoa), ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab api neraka.
Orang yang beriman itu adalah selalu berpikir dalam tiap langkah kehidupannya, tiap detik, tiap helaan nafas, tiap kedipan mata tentang semua penciptaan langit dan bumi. Ketika mereka lihat ciptaan Allah, merenung mengapa ini diciptakan?mengapa ini ada? Semuanya itu akan berakhir dengan ucapan penghancur kesombongan, pengsadar akan hakikat jiwa bahwa,” Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab api neraka.
Mereka tersungkur tunduk pasrah,basah janggut dan jubah-jubah mereka, lidah mereka kelu, dan sungguh semakin tersadar bahwa penciptaan ini tidak sia-sia….
Saudaraku…
Jika kita mau belajar bertafakur, ada point-point yang tidak boleh dihilangkan untuk menjadi ulil albab. Begitulah Al-qur’an mengajarkan.
 Sisi pemikiran (fikri)
 Sisi perasaan (‘athifi)
 Sisi emosi (infi’ali)
 Sisi pengetahuan (idraki)

Keempat point diatas, mengantarkan dan menghasilkan sebuah pemahaman bagaimana langkah-langkah kita dalam berafakur, diantaranya:

 Tahap pertama : As-Syuhud (penyaksian)
Tafakur berawal dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi langsung, dengan panca indra. Juga dengan cara tidak langsung (seperti fenomena berkhayal)
Umumnya pengetahuan-pengetahuan ini tidak memiliki keterkaitan dengan segi-segi perasaan dan emosi.

 Tahap kedua : Tadzawwuq (merasakan, menikmati)
Yaitu bila manusia mencoba mengamati objek tafakurnya lebih jauh dengan memperhatikan keindahan karakternya, keapikan pen-ciptaannya, maupun kekuatan & keagungannya. Kadang hati berge-tar karenanya, tak peduli apakah itu hati orang mukmin atau kafir.
Rasa takjub akan keindahan dan keagungan ciptaan Allah maupun perasaan akan kelemahan fisik dan jiwa yang ada dalam diri manusia, adalah satu fitrah yang telah ditanamkan Allah dalam diri manusia agar ia mau memperhatikan langit dan bumi.
Tetapi kadang pula tadzawwuq itu bersifat emosional dan negatif sehingga tafakur terhadap hikmah dari pemandangan-pemandangan negatif tersebut justru membuat orang yang bertafakur ingin menjauhinya, merasa takut atau merasa jijik dengannya.
Pemandangan-pemandangan seperti itu mengajak manusia untuk bertafakur dan i’tibar (mengambil pelajaran) dengan cara yang berbeda dengan tafakur yang biasa menggunakan metode tadzawwuq yang penuh kedamaian. Dan bisa jadi pemandangan tersebut memberikan pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan metode tadzawwuq yang penuh kedamaian.
 Tahap ketiga
Yaitu apabila dengan perasaan diatas, manusia berpindah menuju Sang Khaliq, maka ia mendapat tambahan kekhusyukan mengenal Allah beserta seluruh sifat-Nya yang agung.
Pada umumnya, orang mukmin yang telah sampai kepada tahapan kedua, pasti akan bergerak – dengan segala perasaannya yang bergelora itu – menuju Sang Pencipta dan Pengatur Yang Mahasuci. Ia juga akan merasakan bahwa disinya hina dan kekuatannya begitu lemah di hadapan ayat-ayat kauni (alam) yang disaksikannya di langit dan di bumi.
 Tahap keempat
Yaitu dimana tafakur telah menjadi kebiasaan yang mengakar dalam dirinya. Sebelumnya, perenungan semacam ini hanya dapat ia peroleh karena adanya pengalaman-pengalaman yang berkesan dan kejadian-kejadian unik dari lingkungannya. Secara bertahap, seiring dengan makin banyaknya waktu yang ia habiskan dalam merenung, aktivitasnya ini akan makin menguat. Segala sesuatu yang dulunya tampak biasa, kini berubah menjadi sumber kekayaan baginya dalam berpikir, menghadirkan rasa khusyuk dan perenungan terhadap berbagai nikmat Allah.
Saat itu, bila pandangannya jatuh pada satu makhluk, maka makhluk itu menjadi petunjuk baginya untuk mengenal Penciptanya beserta seluruh sifat-Nya yang sempurna dan agung.





 

Antara harapan dan kenyataan

Harapan adalah sesuatu yang sangat indah,sesuatu yang memiliki optimisme yang tangguh,sesuatu yang mampu membuat orang terhenyak kemudian mentertawakan sehingga teremehkan.

Karena harapan adalah sebuah racun atau virus yang akan menggoyahkan sebuah doktrin yang telah lama diagungkan oleh bangsa-bangsa bejat. Sebuah doktrin yang sebenarnya membekukan pikiran dan akhirnya jika kita akrab,maka ketahuilah kita akan terbawa oleh doktrin itu.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Syah Dasrun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger