Latest Post
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Mengapa Doaku Tidak Terkabulkan?

Doa peneduh jiwa yang sedang terbalut oleh kalut, sedih dan gundah. Ia memberi ruang tersendiri bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Akan tetapi, kadang kita mengira sesuatu yang dipanjatkan itu belum juga terpenuhi, sehingga dengan sendirinya hati pun bertanya-tanya dan berkata:
“Kenapa yah, doa-doaku tidak terkabulkan? Apa yang salah dalam diri ini? Bukankah aku telah menunjukkan kehambaanku kepada-Nya dengan doa-doa itu?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah dijawab dengan jelas kedua ayat berikut ini:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿٥٥﴾ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٥٦﴾
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf [7]: 55-56)
Hemat penulis, doa yang terkabulkan adalah doa yang mematuhi adab doa yang dijelaskan ayat di atas. Adab-adab tersebut dapat diuraikan sebagaimana berikut:
Adab pertama: Berdoa dengan penuh rendah diri dan suara lemah lembut
Para pakar tafsir berbeda dalam memaknai kata (التَّضّرُّعُ). Imam Ibn Jarir at-Thabari cenderung menafsirkannya dengan makna rendah diri, merasa hina, dan berupaya menghadirkan kedamaian hati di setiap doa.[[1]]
Penalaran ini disepakati kebanyakan penafsir yang datang setelahnya, seperti: al-Allâma Abu Hayyân, dan al-Hâfidzh Ibn Katsîr.[[2]]
Di lain pihak, al-Qâdhi Ibn Atiyyah menafsirkannya dengan doa yang terdengar jelas. Beliau berkata:
“Kata at-Tadarru’ (التَّضّرُّعُ) menghendaki kejelasan suara, karena kata itu sendiri tidak dipergunakan kecuali pada permintaan yang disertai dengan pelbagai isyarat dan gerakan tubuh.” [[3]]
Pemaknaan ini dilegitimasi al-Allâma Muhammad Thâhir bin Asyûr dalam pernyataannya berikut ini:
“(التَّضَرُّعُ) artinya: menunjukkan kerendahan diri dengan perihal tertentu. Olehnya itu (التَّضَرُّعُ) adalah doa yang disertai dengan suara yang jelas. Inilah penafsiran yang kami pilih karena menunjukkan keserasian makna (antonim) antara kata tersebut dengan kata (الحَفِيَّة), yang artinya: berdoa dengan suara yang lemah lembut. Olehnya itu, kata penghubung (الواو) huruf (Waw) yang sering kali diartikan dengan makna (dan), di sini ia berfungsi seperti (أَوْ) huruf (Aw), yang berarti atau. Artinya: Anda boleh memanjatkan doa dengan suara yang terdengar jelas atau dengan suara yang lemah lembut (tidak ada yang mendengarkannya kecuali Anda sendiri).”[[4]]
Hemat penulis, kata (التَّضَرُّعُ) meliputi kedua pemaknaan itu. Al-Qur’an sengaja menempatkan kata tersebut untuk menyuguhkan makna ini:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Berdoalah dengan penuh kerendahan diri dan kekhusyukan, baik di waktu berdoa dengan suara yang jelas, atau dengan suara yang lemah lembut.”
Hal ini dipertegas oleh kesimpulan Ustadz Muhammad Râsyîd Ridhâ di bawah ini:
“Kedua bentuk doa itu punya waktu tersendiri. At-Tadarru’ dengan suara yang jelas bagus dan tepat di waktu menyendiri, aman dari penglihatan orang lain, sehingga mereka tidak merasa terusik dengan suara itu, dan perhatian orang yang berdoa tidak disibukkan dengan mereka dari konsentrasi membujur kepada Allah SWT, serta doanya tidak rusak dengan ria dan ujub.
Sementara itu, At-Tadarru’ dengan lemah lembut (yang hanya didengar olehnya sendiri) baik dan tepat di tempat terbuka, atau saat berada di khalayak ramai, seperti: Masjid dan di tempat yang menghidupkan syiar-syiar agama, kecuali pada waktu yang dibolehkan mengangkat suara, seperti: talbiyah di haji, takbir di kedua shalat Id. Itu boleh karena pelaksanaan ibadah-ibadah seperti ini dikerjakan secara saksama dan jauh dari puji diri.” [[5]]
Olehnya itu, ayat ini ditutup dengan firman-Nya:
(إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ المُعْتَدِيْن)
Maksudnya, dalam kondisi bagaimanapun, Anda tidak dibolehkan melampaui batas yang wajar dalam berdoa. Di antara hal yang tidak diperbolehkan dalam berdoa telah dicontohkan alQâdhi Ibn Atiyyah berikut ini:
“Kalimat tersebut meskipun maknanya umum, tetapi karena ia dalam konteks doa, maka ia mengisyaratkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam berdoa. Di antara hal tersebut, seperti: berteriak-teriak meminta. Ini telah diperingatkan Rasul Saw kepada kaum yang terlalu membesarkan suara pada saat takbir, beliau bersabda: (Wahai manusia, rendahkanlah suaramu, sesungguhnya engkau tidak berdoa kepada yang tuli, atau kepada yang gaib).[[6]]Dan yang lainnya lagi, seperti: meminta kedudukan yang sederajat dengan nabi, atau meminta sesuatu yang mustahil terjadi, serta berdoa melakukan kemaksiatan.”[[7]]
Kata (المُعْتَديْن) yang melampaui batas dapat juga menjadi teguran terhadap mereka yang memahami bahwa doa itu tidak lain kecuali sarana memenuhi segala keinginan. Telaah mendalam seperti ini telah diperlihatkan Syekh Mutawalli as-Sya’râwî berikut ini:
“Hindarkan diri Anda untuk tidak berdoa kecuali ingin memenuhi hajat semata!
Yang wajib Anda lakukan berdoa dengan memperlihatkan kepada-Nya kerendahan diri, kehinaan dan kekhusyukan, karena seandainya saja Anda tidak berdoa, maka segala urusan Anda terjadi sesuai dengan garis ketentuan ilahi. Jangan pernah mengira bahwa Anda berdoa supaya terwujud harapan-harapan Anda, karena Allah SWT Maha Suci untuk Anda jadikan sebagai pegawai Anda. Inilah aturan baku yang Allah tetapkan dalam memenuhi tuntutan-tuntutan Anda sekalian.”[[8]]
Hematnya, tujuan doa memperlihatkan kehambaan kita kepada Allah SWT, diterima atau tidaknya doa tersebut itu permasalahan kedua. Karena jika ia terkabulkan, maka itu adalah karunia-Nya, dan jika tidak terkabulkan itu pun karunia-Nya. Di sana ada kemaslahatan di balik penerimaan, penolakan, dan penundaan dari terkabulkannya doa yang jauh dari pengetahuan manusia sendiri.
Adab kedua: Jangan melakukan kerusakan di bumi!
Al-Qâdhi Ibn Atiyyah berkata:
“Firman-Nya: (وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا)cakupannya sangat umum, meliputi segala bentuk kerusakan, baik yang besar atau kecil, setelah adanya perbaikan. Olehnya itu, tujuan pelarangan tersebut bersifat umum, dan tidak boleh dijustifikasi buta terhadap satu jenis kerusakan, karena hukum seperti ini menyalahi seruan tersebut.”[[9]]
Di antara bentuk kerusakan yang sering dipaparkan Al-Qur’an dalam konteks doa, perilaku sebagian kelompok yang kembali kepada kesesatan setelah doanya terkabulkan dari sebuah bencana dan kesulitan. Ini tercatat dengan begitu apik di ayat-ayat berikut ini:
Ayat pertama: “Dan ketika mereka ditimpa azab mereka pun berkata: (Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat mengangkat azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu). Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.” (QS. Al-A’raf [7]: 134-135]
Di ayat lain firman-Nya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus [10]: 12)
Hemat penulis, telah jelas bahwa faedah doa bukan hanya terbatas dari hajat yang terpenuhi seketika itu, tetapi bagaimana menjaga kemurahan dan karunia Allah tersebut supaya tidak pergi dengan sendirinya. Tentunya, tidak ada cara lain untuk menjaganya kecuali tetap berada di jalan Allah. Apalah artinya doa yang terkabulkan pada suatu waktu, tetapi di waktu-waktu lain kita kembali terjerumus dalam kemungkaran dan kemaksiatan. Faedah doa bukan hanya ingin dilihat hari ini dan esok, tetapi faedahnya ingin dipetik di akhirat. Doa yang berkah doa yang senantiasa mengatakan seperti ini:
“Wahai diriku yang terkabulkan doanya! Aku sebenarnya enggan menyuguhkan kenikmatan ini jika di lain hari engkau kembali mengingkari Tuhanmu. Jagalah nikmat ini dengan tidak kembali menengok dunia hitam, apalagi jatuh di lembah kemaksiatan! Aku ingin senantiasa dipetik hari ini, esok dan di akhirat, bukan hanya sehari, kemudian melupakan Sang Maha Pemberi yang telah menjadikan aku fasilitas gratis guna mendekatkan dirimu kepada-Nya.”
Adab ketiga dan keempat: takut doa tidak diterima dan berharap penuh dikabulkan
Makna ini dijustifikasi Syekh al-Alûsî sebagai makna yang banyak dipilih oleh pakar tafsir. Beliau berkata:
“Firman-Nya: (ادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا) artinya: berdoalah dengan penuh rasa takut dari doa yang tidak mustajab karena ketidaklayakan Anda untuk menjadi orang-orang yang doanya mustajab, dan jangan pernah putus asa untuk senantiasa berharap penuh terhadap jawaban-Nya sebagai karunia untukmu dari-Nya. Inilah pilihan kebanyakan mufassir.”[[10]]
Di lain sisi, Syekh Mutawalli as-Sya’rawî memaparkan makna yang cukup luas, beliau berkata:
“Di sini Al-Qur’an menjelaskan adab lain berdoa, yaitu: (ادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا) artinya: takutlah dari segala bentuk manifestasi nama-Nya (القَهَّارُ) yang Maha Menaklukkan, dan berharaplah dengan segenap harapan dari segala bentuk manifestasi nama-Nya (الغَفَّارُ) yang Maha Pengampun, dan (الرَّحِيْمُ) yang Maha Pengasih. Berdoalah dengan penuh rasa takut dari segala bentuk ketergantungan sifat keperkasaan-Nya, dan berharaplah mendapatkan karunia dari segala bentuk ketergantungan sifat keindahan dan kemurahan-Nya.” [[11]]
Hemat penulis, kedua teks tersebut saling melengkapi dalam memberikan sebuah pemaknaan. Karena jika doa terkabulkan, maka segala aneka karunia dan kenikmatan yang ada di khazanah sifat-sifat keindahan dan kemurahan-Nya tercurahkan dengan sendirinya melebihi volume curah hujan. Akan tetapi, jika doa tidak terkabulkan, maka dengan sendirinya pula turun azab yang datang dari keperkasaan dan keagungan-Nya.
Olehnya itu, kedua kelompok kata yang ada pada ayat itu mustahil dipisahkan, demi terciptanya pemaknaan yang apik dan sempurna. Maha Suci Allah yang telah memilih kosa kata Al-Qur’an dan menempatkannya di tempat yang layak untuknya, pemilihan dan penempatan yang jauh dari kesanggupan para ahli bahasa.
Di penghujung tulisan singkat ini, saya yakin pemerhati tema-tema keislaman dengan mudah menyimpulkan apa yang ada di atas dan berkata:
“Doa adalah otak ibadah, tetapi tidak semua doa punya ketinggian derajat seperti itu. Doa yang sampai ke derajat itu adalah doa yang mustajab. Doa mustajab doa yang dipanjatkan dengan penuh rendah diri dan khusyuk, takut tidak diterima serta berharap penuh dikabulkan. Doa mustajab itu bukan hanya hasilnya dipetik hari ini. Akan tetapi ia senantiasa dipetik hari ini, esok dan di akhirat. Carilah dengan doa karunia dan kenikmatan-Nya yang ada pada khazanah sifat keindahan dan kemurahan-Nya, dan hindari dengan doa pula azab-Nya yang ada pada sifat keperkasaan-Nya!”

Catatan Kaki:
[1] Lihat: Imam Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari, vol. 12, hlm. 485
[2] Lihat: al-Allâma Abu Hayyân, al-Bahru al-Muhîth, vol. 4, hlm. 312, dan al-Hâfidzh Ibn Katsîr, Tafsir Ibn Katsîr, vol. 6, hlm. 321
[3] Lihat: al-Qâdhi Ibn Atiyyah, al-Muharrâr al-Wajîz, vol. 2, hlm. 410
[4] Lihat: al-Allâma Muhammad Thâhir bin Asyûr, at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol. 8, hlm. 172
[5] Ustad Muhammad Râsyîd Ridhâ, Tafsir al-Manâr, vol. 8, hlm. 457
[6] Hadit ini dikeluarkan Imam al-Bukhârî di Shahîhnya dari Abi Musa al-Asyarî r.a, kitab as-Siyar wa al-Jihad, bab Mâ Yukrah min Raf’i as-Shawt fi at-Takbîr, hadits, no. 2992, hlm. 824
[7] Lihat: alQâdhi Ibn Atiyyah, Op.Cit, vol. 2, hlm. 410
[8] Syekh Mutawalli as-Sya’râwî, Tafsir as-Sya’râwî, vol. 7, hlm. 4174
[9] Lihat: alQâdhi Ibn Atiyyah, Op.Cit, vol. 2, hlm. 410
[10] Lihat: Syekh al-Alûsî, Ruhul Maânî, vol. 8, hlm. 140
[11] Lihat: Syekh Mutawalli as-Sya’rawî, Op.Cit, vol. 7, hlm. 4180


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16313/mengapa-doa-doaku-tidak-terkabulkan/#ixzz1evYCF9Ba
 
Nyamuk, hewan kecil itu memang nakal karena selalu mengganggu manusia yang terlelap tidur di malam hari. Namun adakah yang pernah berpikir bahwa ternyata seekor makhluk kecil yang seringkali merepotkan manusia itu merupakan suatu contoh akan kesempurnaan desain dalam penciptaan?

Sejak ia bertelur, nyamuk sudah menunjukkan kehebatannya. Dia dengan sendirinya bertelur dalam jumlah ratusan butir yang kesemuanya menyatu hingga menyerupai bentuk sampan. Sampan, karena memang telur tersebut diletakkan di atas permukaan air dan harus dapat mengapung. Seandainya ia bertelur satu persatu, tentunya telur itu akan tenggelam oleh riak air yang kecil sekalipun.

Tentu kita semua tahu, sang nyamuk mengawali kehidupannya dengan hidup di bawah permukaan air. Untuk bernapas ia menggunakan alat menyerupai pipa “snorkel” (biasa digunakan penyelam) yang berada di ujung tubuhnya. Dengan demikian ia dapat menghirup udara di atas permukaan air dan terus melangsungkan siklus hidupnya. Namun tantangan yang dihadapi belum berhenti. Untuk keluar dari air lalu terbang, juga memerlukan usaha yang tidak mudah, karena bila saja tubuhnya basah, maka ia tidak akan dapat terbang! Bayangkan, ternyata di ujung kakinya terdapat suatu senyawa kimia yang mampu meningkatkan tegangan permukaan air. Sehingga ketika keluar dari kepompongnya dan berdiri di atas permukaan air dengan kaki-kakinya, ia tidak terperosok dan tidak tenggelam.

Tidak sampai di situ. Agar nyamuk betina dapat menghisap darah, ia harus mampu mengenali lokasi pembuluh darah manusia di kegelapan malam. Untuk ini ia telah dilengkapi dengan sistem pengindraan inframerah yang mampu menemukan lokasi pembuluh darah berdasarkan suhu tubuh.


BAGAIMANA NYAMUK MENGINDRA DUNIA LUAR?
Nyamuk dilengkapi alat pengindra panas teramat peka. Nyamuk mampu mengindra benda-benda di sekelilingnya dalam berbagai warna yang ditentukan oleh panas yang dipancarkan benda-benda, sebagaimana tampak pada gambar. Karena penglihatannya tidak bergantung pada adanya cahaya, nyamuk sangat mudah menemukan pembuluh darah di kegelapan. Alat pengindra panasnya cukup peka untuk mengenali perbedaan panas sekecil seperseribu derajat Celcius. Sebagai pembanding, gambar di kiri bawah adalah penglihatan manusia.
Untuk bisa menembus kulit manusia sehingga mudah dalam menyedot darahnya, ia juga memiliki organ khusus yang disiapkan oleh Penciptanya. Organ itu berfungsi layaknya gergaji yang menggergaji kulit kita sehingga sobek. Sebab kulit manusia bagaikan kulit kayu yang tebal dan keras bagi nyamuk, hewan berukuran teramat kecil dibanding tubuh manusia. Juga, agar darah yang keluar tidak membeku, maka nyamuk juga telah menggunakan suatu enzim yang mencegah pembekuan darah.

Perhatikan, walau si kecil nyamuk tampak demikian jenius, namun ia tetaplah seekor nyamuk yang tak dapat berpikir untuk memperbaiki kualitas hidup. Ia tetaplah bukan profesor kimia maupun fisika atau bahkan dokter spesialis tranfusi darah sebelum ia dapat melakukan “tugasnya” keluar dari air untuk terbang dan menghisap darah manusia. Ia tetaplah seekor makhluk kecil yang diciptakan oleh Dzat Yang Maha Pencipta sebagai perumpamaan bagi kita agar mau berpikir.

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orangorang yang fasik (QS. Al Baqarah, 2:26)

 

BANGKIT dan TERPURUK!!!

BANGKIT dan TERPURUK !!!!

S7300131Terpuruk dan bangkit adalah warna kehidupan yang tidak pernah lepas dari sisi kehidupan kita. Dua-duanya adalah bumbu yang sedap jika kita menikmati setiap goresannya. Terlepas dari dangkal atau dalamnya keterpurukan itu, maka sesungguhnya setiap kita pasti pernah merasakan kepahitan, kekecewaan, kegagalan, bahkan lebih dari itu.

Terpuruk adalah hal yang biasa bagi kita, akan tetapi terkadang terpuruk itulah yang membuat kita menjadi luar biasa. Dengan keterpurukan kita bisa memahami hal-hal yang lalai dari kita, karena keterpurukan itu muncul sebagai akibat. Yang tentunya kita mengetahui tidak ada akibat sebelum sebab. Maka, terpuruk bisa memberikan cerminan bagi kita sendiri dalam menghadapi kehidupan kedepannya. Terpuruk bisa menjadi ‘kaca spion’ dalam hal-hal yang membelakangi kita. Terpuruk memberikan kita pantulan kekuatan untuk menjadi lebih baik lagi.

Segala puji bagi Allah...tiadalah keterpurukan itu menjadi baik kecuali dapat merangsang kebangkitan. Ya BANGKIT!!!. Karena Allah memberikan kita potensi untuk bangkit setelah mengalami keterpurukan. Maka, bangkit adalah anugerah. Akan tetapi bangkit disini dalam prakteknya adalah memerlukan ikhtiar yang memerlukan spirit, ketangguhan, dan juga cara pandang yang jernih. Bangkit tak akan bisa merasakan manisnya tanpa adanya pembandingnya yaitu pahitnya terpuruk!!!

Sahabat....

Bangkitlah,,,, sungguh tidak ada waktu lagi untuk berdiam diri. Terpuruk dan bangkit kembali adalah karunia Allah yang memberikan kekuatan kepada kita. Bergeraklah,,,tentukan perubahan pada diri kita. Ingatlah, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusianya. Ketika kita ditanya, apakah kita sudah bermanfaat bagi sesama kita? Atau apakah kita yang menyebabkan ketidakmanfaat bagi sesama kita? Atau sesama kita merasa tidak suka ketika bertemu dan Berinteraksi dengan kita??? Na’udzubillah....

Sahabat...

Ramadhan ini keberkahan cinta dari langit menyirami bumi-bumi tandus ini. Tentunya bukan hanya bumi nama planet ini. Juga bumi=bumi hati kita yang telah lama gersang oleh tetesan embun spiritual. Maafkanlah saya ketika berkumpul dan berinteraksi dengan kalian semua, malah merugikan kalian, malah tidak bermanfaat kepada kalian. Nasehati saya jika memang kesalahan keluar dari lidah atau sikap saya. Maafkanlah, sungguh saya mendapati keterpurukan yang nyata jika senyuman tulus memaafkan terpancar dalam sanubari kalian.

Semoga Allah memaafkan saya, kalian, dan orang-orang yang pernah terpuruk.

Ya Allah saksikanlah...

Dan Para Malaikat-pun menyaksikan.....

(Pagi yang menyibak keterpurukan, 5 Agustus 2011 : 05,30 a.m...)

 
Sya'ban, Bulan Diangkatnya Amal - Sya'ban 1432 H. Tiga hari sudah kita berada di dalamnya. Saat malam tiba, bulan sabit telah menghias langit. Begitu indahnya. Seakan ia mengumumkan kepada dunia: Ramadhan akan segera tiba. Dan diangkatlah amal-amalmu kepada-Nya.

Dalam akuntansi, kita mengenal istilah tutup tahun buku. Itulah ketika pembukuan tahunan dilaporkan, jurnal diangkat. Pemerintah -selama ini- terkesan banyak program di akhir tahun; menyerap sebanyak-banyaknya anggaran yang tersedia. Perusahaan biasa menggenjot omset, memperbesar laba. Agar tutup tahun buku menjadi akhir yang manis bagi perjalanan. Lalu bagaimana dengan kita?

Rasulullah memberikan contoh. Sang junjungan memberikan teladan.

أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya'ban." Rasulullah menjawab, "Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa." (HR. An-Nasa'i. Al Albani berkata "hasan")

Itulah Rasulullah. Dan semestinya, logika seperti itu juga dipakai oleh para pemburu akhirat. Maka ia akan lebih bersemangat menghabiskan waktunya di bulan Sya'ban dengan kebaikan melebihi semangat pemerintah menghabiskan anggaran. Ia lebih bersemangat mengejar keridhaan Allah dan pahala-Nya melebihi semangat perusahaan mengejar omset dan keuntungan.

Senada dengan hadits di atas, Imam Bukhari dan Muslim merekam kebiasaan Rasulullah menunaikan puasa Sya'ban sebagaimana dituturkan oleh Bunda Aisyah:

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya'ban. (HR. Bukhari)

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

Beliau berpuasa di seluruh Sya'ban, kecuali sedikit darinya (hanya beberapa hari tidak berpuasa). (HR. Muslim)

Syaikh Muhyidin Mistu, Mushthafa Al-Bugha, dan ulama lainnya mengomentari hadits di atas dalam Nuzhatul Muttaqin, "Berpuasa sunnah pada bulan Sya'ban memiliki keistimewaan tersendiri. Sekaligus untuk persiapan menghadapi puasa Ramadhan."

Sementara ada logika terbalik yang berkembang di masyarakat. "Mumpung belum Ramadhan," kata sebagian orang, "kita puas-puaskan bermaksiat." Na'udzubillah. Betapa jeleknya catatan amal orang yang seperti ini. Amalnya diangkat kepada Allah, sementara ia tengah berasyik masyuk dalam maksiat dan kedurhakaan kepada-Nya. Lebih mengenaskan lagi, jika kemudian ia mati tiba-tiba. Bukankah di zaman sekarang semakin banyak saja orang yang mati tiba-tiba? Koran nasional pagi ini juga memberitakan, seorang tokoh organisasi tertentu yang tengah berpidato, kelihatan sehat dan bugar, tiba-tiba saja ambruk dan meninggal seketika. Siapa yang menjamin kita selamat dari kematian yang tiba-tiba?

Bukankah seharusnya kita suka, di Sya'ban 1432 H ini, ketika amal kita diangkat kepada Allah, kita tengah beribadah kepada-Nya, berpuasa sya'ban, serta berbuat kebajikan. Dan kita pun bermohon kepada Allah, dalam keadaan beribadah dan mengerjakan kebaikan lah kita menghadap-Nya. Husnul khatimah. []

 

Ghuraba

Kita sering mendengarkan murattal dengan Qari` Sa’ad al Ghamidi. Para aktivis Islam era-80-90an mengenal beliau selain sebagai seorang Qari` yang cukup digemari juga adalah seorang munsyid, dengan nasyid bertema jihadi dan tanpa alat musik. Dua nasyid yang paling saya gemari adalah nasyid Ukhuwatuddin dan Ghuraba`, keduanya dari album ad-Damam. Berikut lirik nasyid ghuraba, nasyid yang selalu membuat hati tergetar dan rindu dengan suasana keislaman yang kental dengan perjuangan.

Laisal gharibu huwalladzi faraqad diyara wadda’al aan
Walakinnal ghariba huwalladzi yajiddu wan naasu min haulihi yal’abun
Wa yash-hu wan naasu min haulihi yanaamun
Wa yasluku darbal khairi wan naasu fii dhalalihim yatakhaththathun
Wa shadaqasy syaa’iru idz yaquul:
Qaala lii shahiibun araaka ghariiba
Baina haadzal anaami duuna khaliili
Qultu, kalla! Balil anaamu ghariibun, ana fii ‘aalami wa haadzihi sabiilii
Haadza huwal ghariib: Ghariibun ‘indal ‘aabitsiina minal basyar
Walakinnahu ‘inda rabbih, fii maqaamin kariim

Bukanlah orang asing itu mereka yang berpisah dari negeri
mereka dan mengucapkan selamat tinggal sekarang
Tapi orang asing itu ialah mereka yang tetap serius dikala manusia di sekelilingnya asyik bermain-main
Dan tetap terbangun ketika manusia disekelilingnya asyik tidur dengan lenanya
Dan tetap mengikuti jalan lurus dikala manusia dalam kesesatannya tenggelam
tanpa arah

Dan betapa benarnya sebuah syair ketika dia berkata
Berkata kepadaku para sahabat, ‘aku melihatmu sebagai orang
asing’
Di antara orang banyak ini engkau tanpa teman dekat
Maka aku berkata, sekali-kali tidak! Bahkan orang banyak
itulah yang asing, sedang aku berada di kehidupan dan inilah jalanku
Inilah orang asing itu
Asing di sisi mereka yang hidup sia-sia di antara manusia
Tetapi disisi Rabb-nya, mereka berada di tempat yang mulia

Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`

Ghurabaa` wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa` war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaah
Ghurabaa` wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa` war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaah

Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan
Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan

In tasal ‘anna fa inna laa nubaali bith-thughaat
Nahnu jundullaahi dauman darbunaa darbul-ubaa
In tasal ‘anna fa inna laa nubaali bith-thughaat
Nahnu jundullaahi dauman darbunaa darbul-ubaa

Jika engkau bertanya tentang kami, maka kami tak peduli terhadap para taghut
Kami adalah tentara Allah selamanya, jalan kami adalah jalan yang sudah tersedia
Jika engkau bertanya tentang kami, maka kami tak peduli terhadap para taghut
Kami adalah tentara Allah selamanya, jalan kami adalah jalan yang sudah tersedia

Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa` hakadzal ahraaru fii dunyal ‘abiid
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa` hakadzal ahraaru fii dunya-al ‘abiid

Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang
Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina

Kam tadzaakarnaa zamaanan yauma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi natluu-hu shabaahan wa masaa`
Kam tadzaakarnaa zamaanan yauma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi natluu-hu shabaahan wa masaa`

Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di sore hari
Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di sore hari

Qaala Rasulullahi Shallallaahu ‘alaihi was Sallam
Bada-al Islamu ghariiban wa saya’uudu ghariiban kamaa bada-a
Fathuuba lil ghurabaa`

Bersabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi was Sallam
Islam itu bermula dari asing, dan akan kembali asing seperti mulanya
Maka beruntunglah orang-orang yang asing
 

Energi harapan

Energi Harapan
Seorang Kakek tua menyusuri sebuah jalan. Jalan yang terasa berat baginya. Naik turun, belok kiri kanan dan jalan yang tak mulus. Jalannya masih berupa tanah yang banyak rerumputan diatasnya. Terkadang batu cukup besar-pun menghiasai jalan itu.
Kakek itu berjalan terus dan sesekali melihat ke sekelilingnya. Seperti lagi mencari sesuatu. Kemudian kakek itu berhenti di lahan yang cukup datar. Samping jalan yang tadi kakek lewati. Kakek itu diam sebentar dan mulai menggali sesuatu ke tanah itu. Setelah di gali, kakek itu menaruh sebuah biji yang berukuran kecil. Senyum merekah menghiasai wajahnya, dan tatapan matanya berbinar-binar. Lalu, tangannya diangkat seperti mau berdoa dan mulutnya mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar dari kejauhan. saya penasaran dibuatnya, dan saya memberanikan diri untuk menanyakan kepada kakek itu.
“Kek, saya perhatikan dari tadi, sepertinya kakek lagi menanan sesuatu. Kalau boleh tahu apa yang kakek tanam?” Tanya saya dengan penasaran.
“Oh, ni nak. Kakek menanam bibit pohon jati.” Singkat dan padat perkataan kakek itu.
Saya kaget dan tak habis pikir dengan apa yang dilakukannya. Kemudian saya bertanya lagi.
“ Maaf kek, pohon jati kan tumbuhnya lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Pasti kakek tidak dapat melihat nanti bahwa pohon jati itu besar. Kecuali Allah memberikan umur yang panjang kepada Kakek.”
Dan memang, kakek itu sudah berumur sangat tua, kira-kira 80 tahunan.
Kemudian, kakek itu melihat dan menatap mata saya dengan tajam. Sekilas menakutkan. Tapi, setelah itu seulas senyum kembali menghiasai wajah teduh itu. Rasanya kebijaksanaan ada di kakek itu. Kemudian kakek itu mengajak saya untuk duduk di sebuah dahan yang sudah roboh itu.
“Nak...” Sentuhan perkataan halus menyapa saya. Sejuk mendengarnya.
“...Kakek melakukan itu bukan karena kakek ingin melihat pohon itu tumbuh besar. Bukan karena kakek ingin membanggkan diri di hadapan manusia bahwa kakelah yang menanamnya...”
“ Tapi, kakek mempunyai harapan bahwa kelak kakek melihat banyak anak-anak yang bermain di bawah itu. Banyak petani-petani yang melepas lelah dari kepenatan selepas bertani. Bahkan kakek ingin burung-burung atau hewan lainnya memanfaatkannya. Itulah keinginan terbesar kakek. Itulah harapan kakek. Biarlah kakek tidak melihatnya mungkin. Tapi Allah akan melihat jerih payah kakek ketika itu.”
Desiran-desiran hati bergetar. Kalimat kakek itu menyadarkanku beberapa kali. Tanpa sadar, saya terisak menangis melihat kejelasan sang kakek itu.

.................

Betapa harapan akan sesuatu seringkali menimbulkan kekuatan bagi orang yang merasakannya. Harapan itu akan muncul ketika kita terbiuas oleh berbagai pengalaman hidup. Hikmah-hikmah yang terdapat dalam setiap moment kehidupan itu menjelma menjadi sebentuk berkas cahaya. Seberkas cahaya itulah yang kelak akan menjadi suatu harapan. Ketika kita tak kuasa mendapatkannya, ketika kita merasa lemah untuk meraihnya. Ketika kita tersadar bahwa waktu kita tak cukup untuk meraih suatu obsesi itu. Maka munculah harapan.
Harapan kakek itu sangat luar biasa. Kini ia tidak berharap sesuatu itu akan datang untuknya. Tetapi sesuatu itu untuk orang lain. Ia menanam bibit itu bukan untuk ia nikmati, tapi untuk orang lain. Kebesaran hati kakek seperti apakah yang ia lakukan?
Ia menemukan suatu rahasia selama kehidupannya. Ya, ia memaknai bahwa hidup itu bukan untuk dirinya saja. Kalau dahulu, ia merasa hidup hanya untuk dirinya saja tidak peduli orang lain.
Semboyan “Kita hidup hanya untuk memenuhi perut dan kemaluan saja” itulah membinasakan. Akan membuat penderitaan yang mencekam bersama laju semboyan itu. Karena, apabila kita gaungkan, maka kita akan lelah dan kepayahan melihat hasil kerja keras kita selama ini. mungkin kecewa, bahkan banyak yang kecewa. Karena kerja keras itu hanya untuk dirinya sendiri. Untuk nafsu sendiri. Dan nafsu itu selalu berubah-ubah. Dan kita juga mengetahui bahwa ia terkadang ingin ini, tapi terkadang ingin itu pula. Akibatnya ia selalu terkecewakan oleh nafsunya sendiri.
Tapi, lain lagi bagi orang yang paham dengan kehidupannya. Seperti yang dialami kakek itu. Jika Kakek itu memaknai hidup untuk dirinya sendiri, pasti kakek itu tidak akan pernah jalan kakek jauh dari rumah, tidak akan menanam bibit pohon itu, dan tidak akan pernah ulasan senyum terus menghias wajahnya. Namun, karena kehidupannya untuk orang lain, kerja keras kita akan luarbisa tersyukuri. Syukur-syukur jikalau kita merasakannya. Jika tidak sempat, maka kita bisa berdoa mudah-mudahan bisa membawa manfaat bagi orang lain.
Ada Ungkapan yang sangat indah dari seseorang ulama yang sangat berpengaruh pada masanya. Lewat karya-karyanya, beliau mendapatkan tempat yang layak bagi generasi islam yang merindukan kebangkitan saat itu. Bahkan ketika beliau dihukum gantung karena kedzaliman Presiden Mesir saat itu, beliau memberi bingkisan hidayah kepada dua algojonya yang akan mengeksekusinya. Beliau Sayyid Qutub.
Beliau mengatakan, “ Orang kerdil adalah orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri. Hingga ketika matipun ia tidak akan pernah dikenang. Sedang orang besar adalah orang yang hidupnya untuk orang lain. Ia akan dikenang sepanjang masa.”

Sungguh kehidupan bukan hanya untuk kita sendiri. Tapi hidup kita juga untuk orang lain. Apakah kita belum mendengar sesuatu yang keluar ketika Rasulullah akan wafat, “Ummati..Ummati...”. apakah kita tidak pernah mengetahui bahwa orang-orang besar dan orang-orang yang sukses dalam kehidupannya selalu di dedikasikan untuk orang lain? Apakah kita juga tidak tahu orang-orang sekaliber Hasan Al-Banna berjuang keras membuat proyek kebangkitan ummat pada masa itu, entah sudah berapa lama beliau dan teman-temannya tidak bisa tidur nyeyak lagi, entah berapa harga yang pantas mereka dapatkan dari kerinduan-kerinduan mereka terhadap kebangkitan umat ini? kini kita lihat hasil dari proyeknya yang sampai sekarang menjadi proyek yang paling tangguh dan paling berpengaruh saat ini.
Semuanya yang saya terangkan bersumber dari harapan. Kini lihatlah, harapan itu menumbuhan cinta, sayang, dan keinginan-keinginan. Kasih sayang, cinta, dan keinginan-keinginan itu akan melemah sesuai dengan segala kondisinya. Ia akan mengerucut, termakan oleh magnet-magnet yang akan melemahkan daya juang dan daya gerakknya. ketika mereka mulai melemah, bahkan sampai mencapai titik kulminasi, ia tidak akan bisa hidup lagi. Tidak ada yang bisa memberikan kekuatan untuk kembali kepada semangat yang dulu ia punyai. Tidak ada instrumen yang bisa menegakkannya lagi, kecuali Harapan.
Dengannya, kita mempunyai harapan bahwa kasih sayang, cinta dan keinginan-keinginan itu bisa lahir kembali. Harapan yang sangat menentukan dan menjadi titik dari gerakan itu. Harapan mempunyai bahan bakar yang sangat potensial untuk membakar segala apa yang disematkan kepadaanya. Ia pun akan melihat betapa kasih sayang, cinta, dan keinginan akan menjelma lagi. Akan bersemangat lagi.
Kakek itu mempunyai harapan, saya-pun mempunyai harapan, dan kalian-pun mempunyai harapan tentunya. Ingatlah karena harapan itu melahirkan Husnudzon kepada Allah. Dan Allah (sebagaimana dalam hadist qudsinya) sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jika seorag hamba yakin, maka Allah pun akan mengabulkan harapan itu menjadi kenyataan. Sangat mudah bagi Allah untuk melakukan itu semua. Sangat mudah...sangat mudah....

Allah, kuatkan kekuatan harapan itu... Segala puji hanya bagi Allah, Sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Rasulullah SAW.

( Di mesjid, selepas sholat asar berjamaah...bulan maulid-banyak berkat, dan 25 feb 2011)
 

Kekuatan Bicara

Imam Hasan Al-Banna suatu ketika hendak mengajarkan seseorang untuk berdakwah. Beliau melihat bahwa orang itu sangat menyukai burung dara. Mungkin sudah menjadi hobinya. Maka, beliau mencoba membeli sebuah buku tentang pemeliharaan burung dara dan macam-macamnya. Beliau memberikan buku itu. Kemudian beliau memintanya kembali. Dan ketika beliau selesai membacanya, dia datang kepada Imam Hasan Al-Banna untuk membahasnya. Namun justru sang imam menyarankan agar menemui ikhwan yang juga senang memelihara burung dara juga. Ketika ia mendatanginya, ia tercengang ternyata banyak sekali burung-burung dara disana. Lalu penyuka burung dara itu mulai memahami maksud sang Imam. Dan akhirnya ukhuwah itu mengikat kuat pada diri mereka.
......................
Selama hidup saya dalam jalan dakwah (Insya Allah), saya menyaksikan suatu hal yang selalu menjadi sorotan yang sangat tajam dalam mengisi peluh kehidupan saya ini. suatu hal yang selalu memaksa saya untuk menikmatinya. Dan adalah tidak salah jika saya mengatakan bahwa hal itu menjadi salah satu penyebab saya bertahan di jalan ini. Suatu hal itu adalah kata-kata. Saya menyaksikan bahwa kata-kata itu sungguh berpengaruh dan membekas kepada setiap orang yang mendengarnya. Namun, pengaruh itu sangat di tentukan oleh bagaimana seseorang itu berkata. Bagamana seseorang itu merangkai kata-kata. Tersusun, sangat indah, rapi dan menunjukan pikirannya yang ia haus untuk menularkan kepada yang lain.
...............
Adalah Ust Ali Kurniawan sang Murabbi saya semenjak di SMAN 3 Kuningan. Dan beliau sekarang kembali membina diri saya kembali setelah ada perputaran murabbi halaqah. Beliau (semoga Allah merahamatinya) adalah sosok perubah keadaan saya. Beliau yang membantu saya menemukan titik ledak saya ketika kelas tiga SMAN 3 Kuningan. Ketika mulai meledak, perubahan drastis terjadi pada hidup saya. Saya merasa ringan dengan Ibadah, haus dengan Ilmu Agama, Rasa Empati menggelegar dalam kehidupan saya ketika itu. Dan yang paling nyata adalah saya suka menangis. Air mata keinsyafan itu terasa terus mengalir dalam sela-sela hidungku. Dan memang Allah memberikan hidayah bagiku melalui beliau.
Ketika beliau berkata, anda akan dibawa kepada suatu dimensi dasar untuk menyelami keadaan yang akan diterangkannya. Ia mulai dengan menjelaskan tentang fenomena fakta yang terjadi, kemudian mencermati penyakit-penyakitnya, lalu mencari obatnya sebagai penawar penyakit itu. Dan selalu saja, ia menyanjung binaannya bahwa anda adalah orang-orang yang terpilih untuk mengambil obat itu dan memberikan kepada yang membutuhkan. Susunan perkataannya yang luar biasa menurut saya. Sebuah kata-kata yang mempunyai ruh yang sangat dalam bagi siapa yang mampu menangkap kata-katanya. Karena sebuah kata-kata yang terlontar pada diri seseorang itu adalah hasil input dari ilmu yang dimasukkan kedalah hati dan pikirannya. Karena beliau pun orang yang sangat hobi membaca buku. Buku apapun. Bahkan, “ Ketika masanya tidur, ust tidak pernah menutup mata sebelum kelelahan atau ketiduran ketika membaca buku. Tempat tidur ust sangat berantakan dengan buku-buku!” Kenagn Ust Ali. Itulah yang saya ikuti dan turuti dari beliau, bahkan secara tidak langsung, buku-buku yang telah saya ternyata hampir sama dengan bacaan yang beliau suka. Salah satunya adalah majalah Tarbawi yang sayarat dengan makna.
.......................
Dale Carnegie dalam bukunya How ti Win Friends and Influence people mengatakan, “ Jika anda ingin menjadi orang yang mampu menarik hati dan mempengaruhi orang lain setelah mereka meninggalkan anda, maka resepnya adalah jangan biarkan orang lain menyanggah ucapan anda. Terus yakinkan mereka tentang ide yang anda sampaikan. Jangan biarkan orang lain meragukan ucapan anda.”
Jangan biarkan orang lain menyanggah ucapan anda...” Kalimat ini menyaratkan kita untuk mempunyai seni dalam berbicara, menyusun kata-kata yang indah dan teratur, sehingga orang yang memperdengarkannya akan terhipnotis dan melupakan apa yang ia akan sanggah. Tuntutan yang primer adalah anda menguasai materi yang akan disampaikan. Hujjah/ dalil akan sangat berpengaruh terhadap materi itu. Jika anda tidak mempunyai alasan yang cukup kuat untuk melindungi materi itu, serta alasan yang anda kemukakan tidak cukup kuat dan lebih daripada alasan pendengarnya, maka akan timbul reaksi dan munculah sanggahan.
Kata-kata yang baik akan menjadi sihir yang berpengarh luar biasa. Ia akan mampu membuka suatu hati yang terkunci atau meningglkan kesan yang mendalam pada jiwa-jiwa yang keletihan.
Maka dari itu, Allah berfirman :
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS Ibrahim 24)

Para ahli sosiolog mengatakan,” Sesungguhnya kekuatan kata akan melampaui kekuatan apapun yang bisa mengahantarkan pesan kepada relung jiwa manusia. Ia ibarat nuklir atau tenaga Listrik.”
Orang bijak juga berkata tentang hal ini, “ Perkataan anda adalah kekuatan terbesar yang anda miliki. Jika anda mampu memolesnya dengan indah, mengarahkannya dengan baik, dan menempatkannya sesuia dengan posisinya, maka anda akan menjadi orang yang beruntung, karena meraih cinta manusia, kepercayaan mereka, dan akan terbuka dihadapan anda, jalan menuju kesuksesan.”

Adalah Muhammad SAW sang Maestro Dakwah ini adalah panutan segala hal. Anda tidak akan pernah mendapati panutan secara sempurna kecuali telah ada padanya. Mungkin kita terpukau dengan panutan-panutan (pemikir-pemikir barat) yang mereka berusaha keras untuk membuat panutan dalam hal sesuatu, tetapi kita akan lebih terpukau oleh Rasulullah SAW. Salah satunya dalam hal kekuatan bicara ini. Beliau memiliki karakter bicara yang sangat khas dan mempunyai daya pengaruh yang luar biasa, bahkan mengandung mu’jizat yang bisa melumpuhkan orang lain hingga tak mampu berkutik.
1. Ucapannya jelas dan mudah dipahami
Aisyah r.a mengatakan,” Ucapan rasulullah SAW adalah ucapan terperinci, yang bisa dipahami setiap orang yang mendengarnya.”
2. Ungkapan Proposional, tidak terlalu singkat, dan tidak terlalu panjang
“ketika Rasulullah berbicara, jika ada orang yang berusaha untuk menghitung ucpannya, maka ia pasti akan mampu menghitungnya.”
3. Berbicara penuh Cinta kepada Musuhnya sekalipun
Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang meminta izin kepada Rasulullah SAW, kemudian ketika beliau melihatnya, orang itu mengatakan, “Celakalah, saudara keturunannya. Celakalah anak dari keturunannnya.” Ketika orang tersebut duduk, maka wajah beliau berubah seri dan ceria. Dan ketikaorang itu pergi, Aisyah berkata,:” Wahai Rasulullah, ketika melihat orang tersebut mengatakan ini dan itu, baginda malah berseri dan ceria. Kemudian Rasullullah SAW bersabda,” Wahai Aisyah, sejak kapan engkau melihatku berkata kasar? Sesungguhnya sejelek-jelek manusia di sisi Allah pada hari Kiamat adalah dia yang ditingglkan oleh manusia untuk menghindar dari kejahatannya.” (H>R Bukhari)

Dan masih banyak sekali yang ingin saya ungkapkan tentang Rasulullah SAW dalam hal ini.

Mulailah anda untuk belajar bagaimana berbicara. Pahami materi yang anda akan ungkapkan. Janganlah anda memaparkan materi yang belum anda kuasai penuh jika anda tidak ingin banyak sanggahan dari orang lain. Ikatlah hujjah/ dalil-dalil yang kuat, agar ia akan membantu anda untuk membela terhadap apa yang anda paparkan. Dan ketahuilah, hujjah yang tidak pernah bisa terbantahkan adalah hujjah yang datang dari Al-Quran dan Hadist. Ia adalah sebaik-baik hujjah.

Belajarlah mulai dari sekarang, dan ketika mulai belajar, maka anda akan merasakan bahwa kekuatan bicara itu sangat penting bagi kehidupan anda. Apalagi bagi anda sebagai aktifis Dakwah. Ini mutlak harus dipelajari.

Segala puji bagi Allah, Shalawat dan Salam Tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW.
( 23 Feb 2011, Selepas isya- buka jahitan operasi akhir)
 

Group Oase Imani Laman Oaseimani.com Saudaraku yang sedang dalam Masa Penantiannya

ijinkanlah saya berbagi dalam goresan tulisan ini…
jika menurut teman-teman, baik…maka ambillah…
dan jika menurut teman-teman, buruk…maka tinggalkanlah….

saudaraku….

wanita muslimah…laksana bunga….yang menawan…
wanita muslimah yang sholehah….bagaikan sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya….
Begitu indah…
begitu berkilau…
begitu menentramkan…

teramat banyak yang ingin meraih bunga tersebut…
namun tentunya….tak sembarang orang berhak meraihnya….menghirup sarinya….

hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah…yang dapat memetiknya…
yang dapat meraih pesonanya…
dengan harga mahal yang teramat suci…
sebuah ikatan amat indah…bernama pernikahan…
karena itu…sebelum saatmu tiba….
janganlah engkau biarkan seorang muslimah layu sebelum masanya…
jangan kau menjadikan serigala liar membuatnya bahan permainan dalam keisenganmu…
Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta…

Ya…atas nama cinta…
jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta

Kau tau saudaraku…??
Jika seseorang jatuh cinta….maka cinta akan membungkus seluruh aliran darahnya…membekuknya dalam jari-jarinya…dan menutup semua mata…hati dan pikirannya….
Membuat seseorang lupa akan prinsipnya….
Membuat seseorang lupa akan besarnya fitnah ikhwan-akhwat…
Membuat seseorang lupa akan apa yang benar dan apa yang seharusnya ia hindarkan…
Membuat seseorang itu lupa akan apa yang telah ia pelajari sebelumnya tentang batasan-batasan pergaulan ikhwan akhwat…
Membuat seseorang menyerahkan apapun…supaya orang yang ia cintai…”bahagia” atau ridho terhadap apa yang ia lakukan…

Membuat orang tersebut lupa…bahwa….cinta mereka belum tentu akan bersatu dalam pernikahan….

Ya saudaraku….akhi fillah…

Jangan sampai cinta menjerumuskanmu dalam lubang yang telah engkau tutup rapat sebelumnya…

Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin…

Cinta begitu dasyat pengaruhnya…jika engkau tau….
Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya….

Berlarilah menjauhinya…menjauhi orang yang kau cintai….
Buat jarak yang demikian lebar padanya….

jangan kau berikan ia kesempatan untuk menjajaki hatimu…

Biarlah air mata mengalir untuk saat ini…
Karena kelak yang akan kalian temui adalah kebahagiaan…
biarlah sakit ini untuk sementara waktu…
biarlah luka ini mengering dengan berjalannya kehidupan…

Karena…cinta tidak lain akan membuat kalian sendiri yang menderita…
Kalian sendiri…

Saudaraku…. tentunya sudah mengerti dan paham…
bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta…
jika dia jauh..kita merasa sakit karena rindu…
jika ia dekat…kita merasa sakit…karena takut kehilangan….

padahal…ia belum halal untukmu…dan mungkin tidak akan pernah menjadi yang halal…

karena itu…jauhilah ia…
jangan kau biarkan dia menanamkan benih-benih cinta di hatimu….dan kemudian mengusik hatimu…
jangan kau biarkan dia mempermainkanmu dalam kisah yang bernama cinta…

maka…bayangkanlah keadaan ini…tentang istrimu kelak…

saudaraku…..
sukakah engkau..??
apabila saat ini ternyata istrimu (kelak) sedang memikirkan pria yang itu bukan engkau..???

sukakah engkau..??
bila ternyata istrimu (kelak) saat ini tengah mengobrol akrab…tertawa riang…becanda…
saling menatap…
saling menggoda…
saling mencubit…
saling memandang dengan sangat…
saling menyentuh…???
dan bahkan lebih dari itu…??

sukakah engkau saudaraku…??

sukakah engkau bila ternyata saat ini istrimu (kelak) sedang jalan bersama pria lain yang itu bukan engkau…??
sukakah engkau…??
bila saat ini istrimu (kelak) tengah berpikir dan merencanakan pertemuan berikutnya…??
tengah disibukkan oleh rencana-rencana…apa saja yang akan ia lakukan bersama pria itu…??

tidak cemburukah engkau temanku..??
bila saat ini istrimu (kelak) sedang makan bareng bersama pria lain…
istrimu (kelak) saat ini sedang digoda oleh pria-pria….
istrimu (kelak) sedang ditelepon dengan mesra…
istrimu (kelak) saat ini sedang curhat dengan pria… yang berkata…”aku tak bisa jika sehari tak mengobrol denganmu…”

tidak cemburukah…?? tidak cemburukah…?? tidak cemburukaaaaahhhhhhhh……???

tidak terasa bagaimanakah..
jika istrimu (kelak) saat ini tengah beradu pandangan…
bercengkrama..
bercerita tentang masa depannya…
dengan pria lain yang bukan engkau…???

sukakah engkau kiranya istrimu (kelak) saat ini tidak bisa tidur karena memikirkan pria tersebut…??
menangis untuk pria tersebut…??
dan berkata dengan hati hancur…”aku sangat mencintamu…aku sangat mencintaimu…???”
tidak patah hatikah engkau…???
sukakakah engkau bila istrimu (kelak ) berkata pada pria lain..”tidak ada orang yang lebih aku cintai selain engkau…??”
menyebut pria tersebut dalam doanya…
memohon pada Allah supaya pria tersebut menjadi suaminya…

dan ternyata engkaulah yang kelak akan jadi suaminya…..dan bukan pria tersebut…???

jika engkau tidak suka akan hal itu…
jika engkau merasa cemburu….
maka demikian halnya dengan istrimu (kelak)…

dan…Allah jauh lebih cemburu daripada istrimu….
Allah lebih cemburu…saudaraku…
melihat engkau sendirian…namun pikirannmu enggan berpindah dari wanita yang telah mengusik hatimu tersebut….

saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?

saudaraku….kalian percaya takdir bukan..?

apabila dua orang telah digariskan untuk dapat hidup bersama…
maka…
sejauh apapun mereka…
sebanyak apapun rintangan yang menghalangi…
sebesar apapun beda diantara mereka…
sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk menghindarkannya…

meski mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya…
meski mereka sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya…
meski mereka tidak pernah saling bertegur sapa…

PASTI tetap saja mereka akan bersatu….
seakan ada magnet yang menarik mereka…
akan ada hal yang datang…untuk menyatukan mereka berdua….
akan ada suatu kejadian…yang membuat mereka saling mendekat…dan akhirnya bersatu…

namun…
apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak berjodoh…
maka…
sebesar apapun usaha mereka untuk saling mendekat…
sekeras apapun upaya orang disekitar mereka untuk menyatukannya…
sekuat apapun perasaan yang ada diantara mereka berdua…
sebanyak apapun komunikasi diantara mereka sebelumnya…
sedekat apapun…

PASTI…akan ada hal yang membuat mereka akhirnya saling menjauh…
ada hal yang membuat mereka saling merasa tidak cocok…
ada hal yang membuat mereka saling menyadari bahwa memang bukan dia yang terbaik….
ada kejadian yang menghalangi mereka untuk bersatu…

bahkan ketika mereka mungkin telah menetapkan tanggal pernikahan…

namun…yang perlu dicatat disini adalah…
yakinlah…bahwa yang diberikan oleh Allah…
yakinlah…bahwa yang digariskan oleh Allah…
yakinlah…bahwa yang telah ditulis oleh Allah dalam KitabNya..
adalah…yang terbaik untuk kita….
adalah….yang paling sesuai untuk kita…
adalah…yang paling membuat kita merasa bahagia,,,,

karena Dialah…yang paling mengerti kita…lebih dari kita sendiri…
Dialah…yang paling menyayangi kita…
Dialah…yang paling mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita…
sementara kita hanya sedikit saja mengetahuinya…dan itupun hanya berdasarkan pada persangkaan kita…

dan….yang perlu kita catat juga adalah…
JIKA KITA TIDAK MENDAPATKAN SUATU HAL YANG KITA INGINKAN…ITU BUKAN BERARTI BAHWA KITA TIDAK PANTAS UNTUK MENDAPATKANNYA….NAMUN JUSTRU BERARTI BAHWA…KITA PANTAS…KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK DARI HAL TERSEBUT…
KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK…SAUDARAKU….
LEBIH BAIK….
meskipun saat ini…mata manusia kita tidak memahaminya…
meskipun saat itu…perasaan kita memandangnya dengan sebelah mata…
meskipun saat itu…otak kita melihatnya sebagai sesuatu yang buruk….

Tidak…jangan terburu-buru menvonis bahwa engkau telah diberikan sesuatu yang buruk….bahwa engkau tidak pantas….
karena kelak…engkau akan menyadarinya…
engkau akan menyadarinya perlahan…bahwa apa yang telah hilang darimu….bahwa apa yang tidak engkau dapatkan….bukanlah yang terbaik untukmu…bukanlah yang pantas untukmu…bukanlah sesuatu yang baik ,,,,untukmu….

karena itu…saudaraku…
jangan mubazirkan perasaanmu…air matamu…waktumu….
jangan kau umbar semua perasaan cintamu ketika engkau tengah menjalin proses taarufan…
jangan kau umbar semua kekuranganmu…jangan kau ceritakan semuanya…
jangan kau terlalu ngotot ingin dengannya…jika engkau mencintainya…
karena belum tentu dia adalah jodohmu…
pun jangan takut bila ternyata kalian tidak merasa cocok…
karena Allah telah menetapkan yang terbaik untuk kalian…

maka…memohonlah padaNya…
mintalah padanya diberikan petunjuk…dan dijauhkan dari segala godaan yang ada…
karena…cinta sebelum pernikahan…pada hakekatnya adalah sebuah cobaan yang berat…

Dan…percayalah…jodoh itu tidak ada kaitannya dengan banyak sedikitnya kenalan…banyak sedikitnya teman perempuan

sama sekali tidak…
karena jika laki-laki yang terjaga maka Allahlah yang akan mengirimkan pendamping untuknya…
karena laki-laki yang terjaga adalah laki-laki yang banyak didamba oleh seorang akhwat sejati…
jadi…jagalah dirimu…hatimu…kehormatanmu…sebelum saatnya tiba…

perbanyak bekalmu…dan doamu…
yakinlah…bahwa Allah yang akan memilihkan yang terbaik untukmu…
amien…

*Ya Allah…karuniakanlah kami seorang pasangan yang sholeh…
yang menjaga dirinya…
yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal baginya…
yang senantiasa memperbaiki dirinya…
yang senantiasa berusaha mengikuti sunnah Rasulullah…
yang baik akhlaknya…
yang menerima kami apa adanya…
yang akan membawa kami menuju Jannah Mu Ya Rabb…

kabulkan ya Allah…
amien…
dan segerakanlah…karena hati kami teramat lemah…dan cinta sebelum menikah adalah sebuah cobaan yang berat…
 

Lahirnya sikap

Terjebak dalam sikap seringkali dapat meruntuhkan image/citra yang kita rangkai pada hari masa lalu itu. Membuat pola yang aneh, mengacaukan, menindas bahkan melenyaokannya. Sikap yang diembel-embelkan dan dihiasi dengan indah, kini ketakutan. Bahkan sekedar mendongkakan kepala saja pun terasa enggan dan berat.
Sikap itu selalu muncul ketika hilangnya prinsip, ketika hilang ruh-ruh yang semestinya selalu mengalir di denyut-denyut nadi kehidupan. Sebuah sikap yang benar-benar menjelaskan makna dibalik sikap itu.
Karena sikap itu muncul setelah pertarungan pemikiran-pemikiran yang selalu melintas diantara gumulan pikiran positif dan negatif. Setelah terkumpul, menganalisa, hingga berakhir dengan sikap yang tercermin dalam suatu perbuatan sebagai hasil dari akhir pertarungan itu.
Dalam pertarungan itu, kejernihan dan kekotoran selalu saja membuat setiap orang khawatir. Sebab, setiap orang mempunyai naluri yang amat tajam terhadap fitrah. Fitrah semua orang adalah berbuat baik. Akan tetapi, jika disandarkan kepada fitrah itu, kenapa masih ada bahkan banyak yang dikalahkan oleh kekotoran itu. Bukankah kejernihan kebenaran itu lebih dekat dengan fitrah manusia?
Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya, namun manusialah sendiri yang mendzaliminya.
Bagaimana mungkin kebenaran akan sampai diterima dihati, menggerakan dan akhirnya melahirkan perbuatan sebagai hasil dari sikap itu, sementara hati kita menutup kedatangannya? Bagaimana mungkin akan bisa masuk, sedangkan pintu hati kita terkunci dan kita tidak mau membukannya? Seperti itulah, sungguh sebenarnya mereka sangat dekat dengan kejernihan, namun mereka terhalang oleh ‘sekat’ yang merasa jauh, padahal mereka sangat dekat. Bahakan nyaris sekali sangat dekat.
Diantara unsur pembentuk ‘sekat’ itu adalah kesombongan, egois dan keras kepala. Kesombongan tentu saja akan memacu orang yang memiliki sifat itu akan merendahkan orang lain, menganggap bahwa dia sendiri yang merasa paling benar, yang akhirnya sesuatu yang keluar dari lidah orang lain, tentu ia tidak akan diterima. Akibatnya pelajaran-pelajaran atau hikmah-hikmah yang terjadi tidak membuat mereka sadar tentang kenyataan itu. Sedangkan keegoisan dan keras kepala hanya akan membentuk seseorang menjadi jauh dari kebenaran, bahkan kebenaran itu enggan mendekati mereka.
Hidayah itu akan datang ketika hati siap menerimanya. Namun jika hati tidak siap menerimaya, walaupun mereka dihantam berjuta-juta kebenaran., tidak menghasilkan apa-apa.
Alangkah tercengangnya hati itu, gembira dengan keadaannya, tidak terpengaruh oleh tarikan jebakan syahwat, menembus asa yang paling tinggi. Suatu sikap yang paling tinggi, paling indah dan paling mulia.
Maka adakah sikap yang terpuji melebihi sikap itu???
Itulah sikap para pengemban risalah da’wah, pewaris nabi, dan mereka sikap mereka yang hidup didalamnya.
 

Jangan begitu Ummi..

Ada banyak orang tua yang tidak pernah mengikuti psikologi seorang anaknya. Banyak pula yang memahami bahwa kebahagiaan itu terletak di materi/keuangan ataupun jabatan yang bergengsi.
“ kerja dimana?” tanya ibu itu.
“ Di Bank Syariah Mandiri.” Jawab pemuda itu.
“ Tadinya, anak saya mau kuliahkan di jurusan akuntansi. Tapi sayang, di ga mau. Malahan dia berani mengambil keputusan untuk belajar ke Lembaga Tahfidz untuk menghafal Al-Qur’an. Ya, mau gimana lagi, itu kan keinginan anak saya,,”Ibu itu menjelaskan penyesalannya.”

Renyuh hati saya, sedih dan kecewa dengan sikap seorang Ibu itu. Di dalamnya, ada semacam teriakan yang menandakan bahwa Ibu itu orang awam. Tapi, sekali lagi saya katakan bahwa keluarga Ibu itu orang yang terpandang cukup religius. Lalu, kenapa Ibu itu bersikap seperti itu?
Seseorang, siapapun orangnya, bahkan walaupun dari komunitas agamapun tidak serta merta selalu mendukung bagiannya untuk melakukan sesuatu. Ibu itu dengan jelas memberikan pemahaman yang secara tidak langsung kepada kita bahwa kebahagiaan itu diukur dari apakah kuliahnya selesai, apakah dia mendapat pekerjaan dan apakah pekerjaannya itu bergengsi. Ibu itu tidak berpikir tentang kenyakinan tentang kebahagiaan bersama keimanan. Tidak memahami bahwa ketenangan itu akan ada dan tidak pernah habis sampai kita bertemu di Hari Akhir.
Lalu, apakah Ibu itu tidak mengetahui bahwa harta itu akan lenyap. Kegantengan itu akan pudar, dan jabatan itu akan lengser sedangkan Ilmu itu tidak akan pernah lenyap? Apakah tidak mengetahui bahwa banyak sekali orang yang mempunyai kondisi yang sesuai dengan harapan Ibu itu malah kecewa dan sedih karena mereka terpahami bahwa semuanya itu tidak berarti apa-apa ketika berhadapan dengan Ilmu agama, apalagi tentang Tahfidz Al-Quran? Apakah ibu itu mengetahui bahwa materi yang ia dapatkan dari anaknya itu hanya sementara, sementara do’a anak yang Sholeh itu akan terus tetap mengalir walaupun berbeda dunia? Apakah materi itu akan bisa menyelamatkan dari siksa yang Allah akan timpakan kepada orang dzalim?
Ibu itu tidak mengetahui, walau disampingnya ada tasbih, ada Al-Quran dan selalu tahajud.
“ Ya Umi, Alhamdulillah sekali umi punya anak yang menghafal Al-Quran. Banyak sekali irang yang iri dengan umi karena di karuniai anak yang sholeh seperti itu. Kalau saya boleh memlilih antara kekayaan yang banyak yang diberikan secara rutin dan jabatan yang bergengsi dengan seorang yang sederhana tpi dekat dengan Allah dengan Tahfidz Al-Quran, maka saya pasti memilih yang kedua. Saya tidak akan pernah bingung dan bimbang memilihnya. Karena saya tahu dia akan bermanfaat bukan saja di dunia, tapi di akhirat juga.” Jawaban seorang teman Ibu itu ketika ditanya tentang pembandingan anaknya.
Ibu itu diam saja, tidak bereaksi.
Bagi seorang anak yang lebih memilih untuk menghafal Al-Quran ketika dirinya harus melanjutkan kuliah atau tidak, tetapi ia malah memilih utuk belajar Al-Quran adalah luar biasa menurut saya. Di tinggalkan dunia demi akhirat. Dan satu lagi, ia akan mengangkat dan mempersembahkan jerih payahnya demi orang tuanya.
Anak itu sedih, menitikan air mata ketika Ibunya sendiri merasa tidak sudi jika ia meninggalkan kuliah dan hidup pas-pasan demi menghafal Al-Quran. Ia berteriak di dalam hati, apalagi jika ia dibanding-bandingkan dengan kakak-kakaknya yang menurut Ibu itu berhasil. Karena secara rutin mengirim uang untuk Ibunya. Gara-gara seperti itulah ibu itu memberi persepsi tentang kebahagian.
Anak itu dikeheningan malam duduk tafakkur, menahan tetesan air mata. Ia tumpahkan kepada Rabbul Izzati tentang kelemahannya dalam keluarga itu. Ia juga ingin seperti kakak-kakaknya, ia ingin memberi kebahagiaan berupa uang utuk Ibunya. Namun ia belum mampu, karena kini ia lebih menghabiskan waktunya untuk menghafal Al-Quran,
“ Rabb...” begitulah anak itu memulai pengaduaannya.
“Aku ingin membahagiakan orang tuaku. Aku ingin membahagiakan orang tuaku. Aku ingin bermanfaat bagi keduanya. Saat ini, jalan yang dipilih aku dengan yang lainnya berbeda. Tetapi perbedaan ini menjadi sesuatu yang sangat membebani diriku. Jalan yang aku pilih adalah menghafal Al-Quran. Sedangkan jalan yang lainnya adalah bekerja giat kemudian memberikan hasil jerih payahnya kepada orang tuanya. Tujuan jalan kami sebenarnya sama...”
anak itu mengatur nafas, kemudian melanjutkan kembali dengan suara yang mulai terisak-isak..
“Aku ingin memberi seperti kakak-kakaku, tapi aku belum mampu hari ini. Waktu ini. Akan tetapi aku yakin bahwa kelak suatu nanti, ibuku akan menyesal dan menyadari bahwa kebahagiaan itu berada dalam jerih payahku.”
“ Maka aku akan megatakan kepada Ibuku, ‘ Ummi, mungkin aku tidak bisa memberi seperti apa yang pernah diberi oleh yang lainnya. Tapi, demi Allah aku akan memberi Ummi kebahagiaan yang tida pernah terpikirkan, kebahagiaan yang tidak bisa terukur oleh ukuran duniawi. Kebahagian yangg jikalau berkumpul ummat ini semuanya, maka mereka akan berebut ingin mendapatkan kebahagiaan itu.”
“Ummi akan di istimewakan nanti di hari kiamat, ketika hiruk pikuk kengerian hari kiamat merajalela. Ketika yang lainnya sibuk dengan aibnya masing-masing. Ketika teriakan orang-orang yang menyesal dan ketakutan ia akan dijebloskan kedalam api neraka...Ummi dan Abi malah di spesialkan oleh Allah, di pakaikan pakaian yang paling Indah dan diduduki di sebuah kursi yang Allah telah pesiapkan untuknnya.”
Alangkah bahagianya mereka berdua. Sempurna sekali kebahagiaanya ketika keduanya diberikan sebuah mahkota yang lebih terang daripada matahari yang ada di Bumi. Ketika kenikmatan dan kebahagian yang tiada taranya, keduanya bertanya tentang kenapa mereka diistimewakan,
Lalu, Allah menjawab, “ Karena anakmu yang membaca Al-Quran, menghafal dan mengamalkannya. Karena anakmu itulah. Inilah kebahagian yang sesungguhnya.!!!”

Jika kemudian seperti itu, siapakah yang paling bangga dengan anak seperti itu, yang menyelamatkan dari huru- hara hari kiamat dan kengerian dari pembalasan Allah nanti???
Maka, orang tuanya itu seharusnya bangga dengan itu semua. Bahkan kebahagiaan itu tidak pernah tergantingkan oleh apapun.
Tetapi sekali lagi, adakah mereka tersadar???
Teruntuk anak yang memilih akhirat itu, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu. Nanti kita akan menyaksikan bersama kenyataan yang sejati ini. Jika tidak di dunia ini, maka kita akan menyaksikan di Akhirat Insya Allah...
Dari Umamh Al-Bahili ra; dia berkata,” Saya mendengar rasulullah SAW bersabda:
Bacalah selalu Al-Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi orang yang selalu membacanya.” (H.R Bukhari Muslim)/

Dan dari Mu’adz bin anas r.a, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa yng membaca Al-Quran lalu mengamalkannya, maka Allah akan memakaikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang sinarnya lebih bagus dari sinar matahari di dunia. Maka, bagaimana menurut kalian ganjaran orang yang mengamalkannya?” (H.R. Abu Dawud)

Segala Puji Bagi Allah, Sholawat dan Salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW.


 

TAFAKUR menjadi ULIL ALBAB


TAFAKUR menjadi ULIL ALBAB
Pada suatu hari, Bilal r.a mendapati Rasulullah sedang menangis tersedu-sedu diakhir malam. Tangisannya begitu meledak, begitu menghawatirkan seseorang yang mendengarnya, begitu membuat hati ini terkejut dan membuat penasaran ada apa gerangan terjadi. Adalah sama seperti yang dialami oleh Bilal bin Rabah, sahabat yang menjadi mulia setelah datang cahaya Islam. Bilal sungguh mencintai beliau dengan segenap perasaan, sepenuh cinta itu tidak mungkin tega melihat kekasihnya berada dalm keadaan kondisi seperti itu.
Kemudian memberanikan diri lalu bertanya dengan suara yang lembut,”Wahai Rasululloh, gerangan apakah yang membuat engkau menangis seperti ini? kemudian Rasulullah menjawab,”Baru saja jibril datang kepadaku dengan membawa wahyu dari Allah. Ternyata wahyu itu membuat Rasulullah menangis tidak seperti sebelumnya.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(lalu berdoa), ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab api neraka.’ (Ali Imran 3:190-191)

Begitu menghantam hati ini jika kita memahami ayat itu, begitu membuat hati bergetar…menyempit, nafas terasa sesak tidak karuan. Apalagi pemahaman Rasulullah tentu jauh melampau demensi keimanan itu yang kita terima
Kenapa Rasulullah terkesima dengan ayat itu?
Ada sebagian orang yang begitu dekat dengan agama, tekun membaca kitab-kitab gundul, mengahfal al-Qur’an dan hadist, tapi terkadang mereka lupa hakikat sebenarnya apa makna tersirat yang dimaksudkan Allah dalam semua perintah itu…
Ada pula sebagian orang yang mereka tidak sebegitu dekat seperti tipe pertama, tapi mereka memahami dengan jauh maksud Allah yang tersurat maupun tersirat yang Allah tunjukan…
Ada sebagian orang yang merasa puas dengan kondisi seprti tipe pertama, sehingga mereka mengacuhkan dan terus mencurahkan pikirannya dan terkadang mereka lupa bahawa Allah terkadang memahamkan seseorang itu melalui ayat kauniah…
Ada pula sebagian orang yang merasa puas tipe kedua sehingga mereka mengabaikan Al-Qur’an dan sunnah sehingga mereka berpikiran terlalu menghabiskan waktu untuk seperti itu…
Subhanallah….
Ya tafakkur…
Ilmu Allah adalah tidak ganjil,seimbang. Itu bisa mempertajam bidang yang lainnya, ia bisa menjadi hujjah antara ilmu satu dengan yan lainnya. Terkadang kita merasa puas dengan keadaan kita sekarang, puas dengan nikmat Allah yang telah diberikan, merasa puas dan kita sering berfikir salah terhadap sykukur itu. dan tentunya kita akan menjadi sholeh yang tidak sebatas diri sendiri, tapi juga membentuk keshalihan umat yang tentunya ilmu itu berguna bagi orang lain.
Aktivitas berpikir manusia mengarahkan perilaku dan tindakan luarnya. Apa yang dipikirkan, dirasakan, direspon dan diketahui manusia pada tingkat perasaanlah yang membentuk gambarannya terhadap kehidupan, mewarnai keyakinan dan nilai-nilai hidupnya dan mengarahkan perilaku-perilaku luarnya. Tiap sifat yang ada dalam hati akan menampakkan pengaruhnya pada anggota tubuh.
Jika kita menggabungkan semua unsur dalam bertafakur, maka terciptalah di mind kita sebuah gambaran yang menuntut suatu gerak, karena sebuah pikiran tidak sukses jika kita hanya megumpulkan tidak menyebarkan,…mejadi insane luar bisa.
Maksud inilah mungkin yang Allah inginkan pada hambanya, (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(lalu berdoa), ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab api neraka.
Orang yang beriman itu adalah selalu berpikir dalam tiap langkah kehidupannya, tiap detik, tiap helaan nafas, tiap kedipan mata tentang semua penciptaan langit dan bumi. Ketika mereka lihat ciptaan Allah, merenung mengapa ini diciptakan?mengapa ini ada? Semuanya itu akan berakhir dengan ucapan penghancur kesombongan, pengsadar akan hakikat jiwa bahwa,” Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab api neraka.
Mereka tersungkur tunduk pasrah,basah janggut dan jubah-jubah mereka, lidah mereka kelu, dan sungguh semakin tersadar bahwa penciptaan ini tidak sia-sia….
Saudaraku…
Jika kita mau belajar bertafakur, ada point-point yang tidak boleh dihilangkan untuk menjadi ulil albab. Begitulah Al-qur’an mengajarkan.
 Sisi pemikiran (fikri)
 Sisi perasaan (‘athifi)
 Sisi emosi (infi’ali)
 Sisi pengetahuan (idraki)

Keempat point diatas, mengantarkan dan menghasilkan sebuah pemahaman bagaimana langkah-langkah kita dalam berafakur, diantaranya:

 Tahap pertama : As-Syuhud (penyaksian)
Tafakur berawal dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi langsung, dengan panca indra. Juga dengan cara tidak langsung (seperti fenomena berkhayal)
Umumnya pengetahuan-pengetahuan ini tidak memiliki keterkaitan dengan segi-segi perasaan dan emosi.

 Tahap kedua : Tadzawwuq (merasakan, menikmati)
Yaitu bila manusia mencoba mengamati objek tafakurnya lebih jauh dengan memperhatikan keindahan karakternya, keapikan pen-ciptaannya, maupun kekuatan & keagungannya. Kadang hati berge-tar karenanya, tak peduli apakah itu hati orang mukmin atau kafir.
Rasa takjub akan keindahan dan keagungan ciptaan Allah maupun perasaan akan kelemahan fisik dan jiwa yang ada dalam diri manusia, adalah satu fitrah yang telah ditanamkan Allah dalam diri manusia agar ia mau memperhatikan langit dan bumi.
Tetapi kadang pula tadzawwuq itu bersifat emosional dan negatif sehingga tafakur terhadap hikmah dari pemandangan-pemandangan negatif tersebut justru membuat orang yang bertafakur ingin menjauhinya, merasa takut atau merasa jijik dengannya.
Pemandangan-pemandangan seperti itu mengajak manusia untuk bertafakur dan i’tibar (mengambil pelajaran) dengan cara yang berbeda dengan tafakur yang biasa menggunakan metode tadzawwuq yang penuh kedamaian. Dan bisa jadi pemandangan tersebut memberikan pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan metode tadzawwuq yang penuh kedamaian.
 Tahap ketiga
Yaitu apabila dengan perasaan diatas, manusia berpindah menuju Sang Khaliq, maka ia mendapat tambahan kekhusyukan mengenal Allah beserta seluruh sifat-Nya yang agung.
Pada umumnya, orang mukmin yang telah sampai kepada tahapan kedua, pasti akan bergerak – dengan segala perasaannya yang bergelora itu – menuju Sang Pencipta dan Pengatur Yang Mahasuci. Ia juga akan merasakan bahwa disinya hina dan kekuatannya begitu lemah di hadapan ayat-ayat kauni (alam) yang disaksikannya di langit dan di bumi.
 Tahap keempat
Yaitu dimana tafakur telah menjadi kebiasaan yang mengakar dalam dirinya. Sebelumnya, perenungan semacam ini hanya dapat ia peroleh karena adanya pengalaman-pengalaman yang berkesan dan kejadian-kejadian unik dari lingkungannya. Secara bertahap, seiring dengan makin banyaknya waktu yang ia habiskan dalam merenung, aktivitasnya ini akan makin menguat. Segala sesuatu yang dulunya tampak biasa, kini berubah menjadi sumber kekayaan baginya dalam berpikir, menghadirkan rasa khusyuk dan perenungan terhadap berbagai nikmat Allah.
Saat itu, bila pandangannya jatuh pada satu makhluk, maka makhluk itu menjadi petunjuk baginya untuk mengenal Penciptanya beserta seluruh sifat-Nya yang sempurna dan agung.




 

Agar tidak terfitnah


Assalamu’alaikum Warohmatulloh Wabarakatuh…
Segala puji bagi Allah yang senantiasa mengikatkan akan hakikat cinta, cinta yang murni, cinya yang mengandung kekuatan, cinta yang menghidupkan, cinta yang meninggikan, dan cinta yang nanti di akhirat kelak ada suatu tempat yang indah, bukan untuk para Malaikat, bukan pula untuk para Nabi, bukan pula untuk Para Ulama. Ternyata cinta itu Allah berfirman,”Untuk dua orang saling cinta mencintai karena Allah. Subhanallah!!!
Engkaulah Rasullulloh, sang pecinta sejati, Qudwah dalam hal cinta, cinta beliau sanggup menghidupkan, membuat mata kita terbasah ketika beliau diakhir hanyatnya beliau bukan memanggil anak,istrinya,sahabat-sahabatnya, tapi beliau menyebut,”Umati…Umati…!!!” semoga kita termasuk Umat yang merindukan luasnya cinta beliau kepada kita.
Saudaraku…
Ana pun bukanlah yang terbaik dari kalian, bahkan ana rasakan bahwa ana lebih buruk dari kalian. Dosa-dosa yang telah kutanam kini telah subur memberatkan punggungku ini. Dan jika saja ini bukan permohonan dari seseorang, tentunya ana malu untuk membuat surat ini. Tapi,”barangsiapa yang menolong orang dari kesusahan, pasti Akan ditolong oleh Allah di akhirat!!”
Saudaraku…
Umar r.a pernah berkata kepada Rasullullah,”Ya Rasul, sungguh saya mencintai engkau sebagaimana saya mencintai diri saya sendiri!!”. Rasululloh tersenyum lalu beliau berkata,”Engkau harus mencintai saya melebihi engkau mencintai diri sendiri”. Umar diam dan menunduk dan selang beberapa detik Umar berjata dengan lantang dan tersenyum,”Ya saya mencintai engkau melebihi cinta saya kepada diri sendiri!!!”. Subhanallah…
Cinta adalah sesuatu yang tidak perlu diucapkan dan dituliskan, karena cintalah yang menerangkan cinta. Fenomena sekarangpun terjadi, banyak orang mengkaji cinta dalam hal bahasa, tapi sungguhnya sedikit sekali orang yang memahami cinta secara hakikat. Indah sekali ungkapan Ust Anis Mata mengatakan,”cinta adalah pekerjaan, bukan perasaan yang kita pahami saat ni!”. Beliau pun mengutip dari hadist,”bagaimana mungkin cinta biasa berubah dalam sekejap kalau cinta itu perasaan???, maka dari itu saya menyimpulkan bahwa cinta adalah pekerjaan.
Saudaraku…
Terkadang pemahaman cinta seseorang menuntut apa yang dikerjakaanya adalah sesuai dengan pehaman itu.
Jika cinta adalah permainan, maka ia akan menyakiti hati wanita, mempermainkan cinta, mengotorinya, dan bahkan menjadikan ia layaknya barang, sudah using dibuang tanpa ditangisi…
Kika cinta adalah nafsu, maka tuntutannya adalah ia melampiaskan nafsu, memenuhi hajatnya,bahkan membuat obyeknya menjadi hina seperti pemahaman cinta menurut orang-orang yunani,Persia, Pnompei,dll.
Jika cinta adalah Pelarian, maka cinta itu terasa indah tapi menyakitkan. Hinggap disana dengan tujuan supaya “rasa yang dulu hilang”. Setelah itu mereka lari menjauh. Sungguh ini lebih menyakitkan…
Namun jika cinta adalah anugerah, visi dan misi…tuntutannya adalah mencintai, tidak menuntut apakah mereka mencintai kita, berusaha mengmbalikan fitrah suci “cinta”, membersihkan noda-noda yang tersemat disini, mengagungkan cinta, meninggikan kalimat cinta dan berusaha untuk tidak pernah sedikitpun melepaskannya…!
Saudaraku…
Cinta yang kita punya bukannya cinta sembarangan,bukan pula permainan,nafsu, dan pelarian . tapi jauh melampau itu semua “anugerah”
Apakah cinta yang kita miliki seperti halnya media massa gemborkan?apakah cinta yang miliki kita menuntut symbol-simbol yang itu hanya dibolehkan bagi dua orang yang telah mengikrarkan cinta ini dihadapan Allah?
Ketika mereka berpacaran kita tidak…ketika mereka senang berduan kita didampingi yang lain..ketika mereka berkomunikasi tengah malam khusyu kita becinta dengan Allah lewat Tahajud dan Tilawah kita..ketika mereka apabila rindu lalu bertemu, kita berdzikir dan melakukan agenda untuk umat…
Jika kita ditanya setelah penjelasan itu,”Apakah kita sama dengan mereka? Kita berharap tidak sama!!!.
Bergetar hebat hati ini jika kita pahami ayat dalam Ali-Imron,”katakanlah:jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi da mengampuni dosa-dosamu.Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS.ali Imron 31).
Jadi seolah-olah Allah mengatakan Jika kamu cinta Aku,bukan cinta apapun yang tersematkan dalam orang awam tapi cinta yang terpahami oleh orang-orang sholeh, murni cinta dengan semurnu-murninya, sejernih-jernihnya maka sejatinya adalah mengikuti rasululloh SAW. Beliau mengajarkan bagaimana cinta seharusnya terjadi, bagaimana cinta seharusnya bisa membahagiakan, bagaimana seharusnya cinta itu bekerja. Ketika kita bermujahadah dalam memahami cinta dari sang guru Rasullullah, kebarokahan mengalir deras, salju-salju kenikmatan turus menetes kedalam hati ini, dan kenikmatan ini nyata adanya dan akan tetap terkenang sehingga kita bertobat kemudian Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Saudaraku…
Jika kita butuh cinta untuk menggenapkan dien ini, carilah cinta yang disana kumpulan pecinta-pecinta sejati.Carilah cinta yang disana ada Allah dan RasulNya, walaupun semua orang menjauhi…
Carilah cinta dengan baik dan bijaksana..carilah cinta yang kita tidak berniat untuk mengotorinya..carilah cinta yang sebenarnya kita mencintai dia karena Allah…carilah cinta seseorang yang Allah RasulNya pun mencintai orang itu. Jauh sekali dengan ukuran dunia,ketampanan,harta,kedudukan…

Tapi terkadang saudaraku…
Syetan terkutuk selalu saja menggoda, bahkan syetannya jundi dakwah adalah lebih senior dan pengggodaanya lebih halus sekali. Selalu meng-kamuflasekan- hembusan syetan dengan atas nama Dakwah, sehingga seolah-olah kita yakin itu adalh da’wah ternyata…
Dalam Al-Qur’an banyak kata-kata syetan itu sendiri yang sebenarnya mereka telah memberikan warning bagi kia untuk tidak tergoda, coba lihat dalam surah Al-A’rof ayat 11 – 17. Di ayat 16 ada kata,”Laaqudanna” dan di ayat 17,”Laaatiyannahum”. Laa disana adalh taukid, sungguh-sungguh dan benar-benar. ,”Laaqudanna” berarti saya benar-benar akan (menghalang-halangi).. kata ,”Laaatiyannahum” berarti benar-benar pula akan mendatangi mereka…
Saudaraku…
Sering terjebak, dan sering pula kita lupa akan kenyataan yang ada. Ajakan-ajakan kebenaran ditinggikan, kita menyeru kembali Ke Al-qur’an Hadist, tapi…kiat pun terkadang menjauhinya. Padahal disana ada kehidupan, ada kebahagiaan,ada senyuman yang menawan. maka dari itu Terciptalah Sahabat sejati yang terkadang pula kita tersadarkan oleh mereka…
Anapun memnyesalkan pemahaman mereka terhadap sahabat sejati itu. Bukan sahabat jika kita salah mendiamkan,bukan sahabat ketika ada keinginan yang jelek tidak mencegahnya, buka pula sahabat ketika kita sedih menjauhi, dan bukan pula sahabat ketika kita kaya mendekati…
Keagungan makna sahabat itu tercermin pada masa Rasulullah, masa sahabat, masa tabiin…apakah kita tidak mendengar Umar selalu meminta izin untuk membunuh seseorang kepada Rasullah, tetapi (sahabat Umar)Abu bakar tidak mendiamkannya bahkan beliau selalu mencegah umar supaya tidak membunuh???Apakah kita tidak mendengar juga orang-orang salaf selalu memberi nasehat karena jiwa mereka biasa melakukan kesalahan…

Saudaraku…
Ingin kiranya kita mempunyai teman-teman yang selalu mengarahkan kita kedalam hal kebaikan…
Ingin kiranya kita mempunyai teman yang bisa membawa kita ke syurgaNya…
Ingin kiranya nasehat yang kita berikan atapun terima menjadi penyejuk jiwa bukan menghina kita.

Agama adalah nasihat…!
Berilah peringatan, sungguh peringatan itu berguna bagi orang mu’min….
Selayaknya menjadi sahabat sejati…
ITU SEMUA MEMBUTUHKAN KESUNGGUHAN DAN TEKAD BAJA SUPAYA….
UMAT INI TIDAK AKAN TERFITNAH DENGAN KITA…
BAGAIMANA MUNGKIN KITA MENDAKWAHKAN ISLAM SEDANGKAN KITA…
YA RABB. Maafkanlah aku….kita dan kaum muslimin semuanya !!!
Katakanlah:”jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaanya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari)berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan allah tiadk member petunjuk kepada orang-orang fasik (At-taubah :24)

(Ketika waktu Dluha…sang pemburu syurga menulis ungkapannya)

 

Sebenarnya


Assalamu’alaikum…
Allahlah yang menciptakan suatu roda kehidupan, menciptakan tuntutan untuk hidup sehingga kita bisa bertahan hidup hanya sebagai catur. Kehendak Allahlah semua apapun yang terjadi pada diri kita, seperti Allah menciptakan akal supaya kita bisa berpikir dengan matang dan jelas.
Inilah seorang hamba yang betapa dosa-dosa menutupi nuraninya,hamba yang tidak cukup berani mengatakan lantang ungkapan ini didepan kalian..,karena hamba yang fakir ini tahu, melalui sebuah tulisan mungkin akan sedikit menerima dan memberi kekuatan, karena ungkapan ini tidak bentrok dengan kondisi seseorang dikala itu….
Saudaraku…
Betapa Islam ini mengatur kehidupan kita, membimbing kita, mengarahkan kita agar kita kembali kepada-Nya, karena Allah Maha mengetahui bahwa kehidupan dunia ini menghancurkan akhirat, melupakannya, mencoba untuk menghapusnya dengan gemerlap dunia yang berlaku untuk orang kafir dan munafik.
Jalan yang kita tempuh saat ini adalah bisnis syari’ah, bisnis yang tujuan yang paling hakiki adalah turut membantu para jundi dakwah selama ini, namun penempuhan yang kita coba untuk memulai adalah disisi ini, bidang yang menurut kita bidang yang asa penyadaran umat ini akan cepat tersadar dan akhirnya mereka kembali kepada Allah…
Jika kita berprinsip seperti itu, maka tuntutannya adalah kita harus memahami seperti apa bingkai’bisnis syariat itu’???bagaimana esensinya??bagaimana aplikasinya??dll… Mungkin kita akan malu dihadapanNya saat kita memakai ‘simbol’ ini ternyata esensinya jauh dari hakikatnya, malah kita mencoba memeranginya, mencoba menggantikannya dengan teori-teori yang diciptakan barat, dan pelbagai argument yang menyebabkan kita tidak tersadar bahwa kita penikmat teori-teori itu…
Semua tuntutan, bahaya, dan argument, telah kita lihat di masa Rasulullah, sahabat, dan ulama salaf tentang bagaimana kita belajar dari sana.
Ketika Khalid bin walid menjadi panglima perang, umat Islam tidak pernah terkalahkan, sampai bukan hanya bangsa Arab saja, seluruh dunia kaget ternyata Islam kuat dan tidak ada yang menandinginnya…kegembiraan selalu terpancar diwajah umat muslim, bahkan ketika mau beperang mereka sudah memastikan bahwa mereka akan menang.Tapi Bashirah Umar bin khattab yang waktu itu sebagai khalifah sangat tajam, lalu beliau memerintahkan Abu Ubaidilah untuk menggantikan Khalid sebagai panglima perang.
Kalian tahu ketika amanah itu datang, Abu ubaidah merasa tidak enak jika ketika pertempuran yang sedang bergejolak membuat sakit hati Khalid bin walid. Abu ubaidah kemudian berfikir bahwa nanti saja setelah perang berakhir baru beliau katakan amanah itu…
Mungkin Abu ubaidah saat itu tidak memahami kenapa Umar memerintahkan untuk mencopot jabatan Khalid bin walid, padahal prestasinya membuat sejarah dan tidak pernah terlupakan. Tentunya kejahilan masa lalu, tidak membuat Umar menghilangkan itu..betapa kita ingat sewaktu perang yarmuk, kekuatan musuh berlipat-lipat ganda dibandingkan dengan kekuatan islam saat itu. tapi sejarah membuktikan islam menang telak, betapa Khalid bin walid semenjak masuk islam hampir tidak melakukan kesalahan-kesalahan….tapi kenapa Umar bersikap seperti itu???
Setelah perang usai, kemuadian Khalid didatangi abu ubaidilah seraya mengatakan dengan sedikit menunduk,” wahai syaifullah, sesungguhnya aku diperintahkan Umar bin Khattab untuk menggantikan engkau sebagai panglima perang”!. Ketika itu Khalid yang sedang bergembira, berkata marah(yang mungkin kita langsung persepsi salah Khalid apa??…Tapi saudaraku, khalid tidak seperti itu, lalu beliau melanjutkan,”kenapa engaku mengatakan seperti ini sekarang, padahal Umar telah memerintahkan untuk mencopot jabatanku sewaktu perang berkecamuk???.” Aku tidak ingin menyakitimu wahai saudaraku tercinta,ketakutan akan engkau sakit hati membuatku berfikir berulang mencari saat yang tepat untuk berkata.
Setelah itu, sang Khalid bin walid berkata dengan lantang,” aku bertempur,berperang bukan karena Umar, tapi karena Allah!!!” subhanallah, beliau rela dicopot jabatannya. Dengan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan. Setelah tabayun ke Umar, Umar berkata,” ketidakkalahan umat islam selama engkau pimpin telah menimbulkan fitnah besar. Aku khawatir engkau dituhankan, dipuji-dipuji, diagung-agungkan…aku khawatir umat islam jika engkau tetap seperti ini, fitnah itu bakal terjadi, aku khawatir engkau dilaknat Allah…jika aku copot jabatan engkau, umat Islam kan tersadar , siapa engkau, engkaupun bisa kalah dan umat nanti tersadar….” lembut umar.
Saudaraku…
Kita belajar bagaimana memahami proses kedudukan, jabatan, tidak berbeda walaupun sekelompok kedudukan kecil seperti smartzone ini. Umar saja begitu mengambil keputusan yang sangat cermat untuk menggantikan posisis Khalid karena khawatir, walaupun dalam segi moralitas masyarakat mungkin beranggapan ”tidak tahu terima kasih,dll”…tapi keputusan umar menyelamatkan Islam waktu itu. jika dalam akhlak yang bagus saja ada kekhwatiran, lalu bagaimanakah pendapat anda jika ada seseorang yang moralnya bermasalah tanpa kita tahu pembenaran pernyataan itu???
Kitapun teringat ketika Rasulullah menetapkan bahwa hukum mencuri itu dipotong tangannya, kemudian ada yang bertanya,”bagaimana jika ‘Aisyah(anak beliau) mencuri???,”jika anaku mencuri, aku akan memotong tangannya..!!!
Saudaraku…
Terhadap ujian kita kali ini adalah bagaimana memposisikan Iwan sebagai sekretaris,,,adalah benar kita jangan mengungkit kesalahan2 masa lalu, tapi kitapun harus sedikit paham untuk mengambil pelajaran…yang saya ungkapkan disini adalah kekhawatiran…
Kitapun tahu, aktifitas iwan luar biasa padat, berpayung lembaga2, dan kegiatan2 lainnya. Adalah sebagai suatu tanggung jawab, amanah yang kita terima adalah harus dilaksanakn dengan sebaik-baiknya…jika kita tidak melaksanakan, kita bersedih dan takut bagaimana nanti dihadapan Allah kelak. Kita khawatir Iwan tidak melakukan amanah di smartzone ini karena kesibukan diluar…khawatir jika nanti kedepan akan ada suatu masa yang akan kita sesali..dan yang penting kita khawatir bagaimana sang Iwan bertanggung jawab dihadapanNya.
Sungguh indah ketika Abdullah bin Abbas ketika meminta kepada Rasulullah suatu kedudukan, beliau tersenyum, kemudian berkata,”wahai pamanku,menyelematkan jiwa adalah lebih baik daripada menghitung-hitung dinar.”!!!
Kalau boleh saya meminjam kutipan itu, saya akan berkata,”wahai akhi, menyelamatkan sebuah jiwa adalah lebih baik daripada antum ada diposisi itu. kitapun khawatir engkau malah tersiksa dengan keadaan itu, walupun engkau belum tersadar dengan itu!!!”
Saudaraku…
Menyelematkan jiwa adalah lebik baik…
Walaupun mereka orang yang berpengaruh dimasyarakat
Menyelematkan jiwa adalah lebik baik…
Walaupun tutur katanya begitu memukau, bisa melunakkan hati objek konsumen
Menyelematkan jiwa adalah lebik baik…
Walaupun kita merasa kasihan dan merasa perhatiaan
Menyelematkan jiwa adalah lebik baik…
Walaupun kita terbeli dengan kebaikan-kebaikan beliau itu kepada kita.
Dan… Menyelematkan jiwa adalah lebik baik…
Sebagai pertanggung jawaban kita semua Kelak…

Itulah keputusan saya sebagai pimpinan kalian, dan ini hanyalah sebuah harapan yang tidak pernah terjadi jika kalian tidak sependapat dengan saya…syuro adalah keputusan tertinggi. Dan inilah pikiran saya sekarang ini. Saya berlindung kepada Allah dari keputusan syahwat ataupun hawa nafsuku,,,tiak ada kaitannya dengan masalah internal kita…saya berharap kalian tidak su’udzon terhadap saya. Saya adalah orang yang paling khawatir ketika ini semua terjadi…dan saya bertanggungjawab dalam hal ini. Mungkin ada diantara kalian mengatakan,”sok paham.sok hafal, telalu berlebihan dalam menyikapi suatu masalah, ataupun apapun yang kalian sangkakan kepada saya. Jika kalian berkata terlalu mempersalahkan ini, kenapa kita tidak memberlakukan iwan sebagaimana mestinya…apakah dengan digantikan posisi iwan, beliau malah mundur dari pengurus???kenapa tidak seperti halnya khalid bin walid???…dan itu adalah sebaik-baiknya kebijaksaan…kebijaksanaan yang walaupun mungkin iwan tidak merasa bersalah, tersakiti, tapi sungguh kita sebenarnya menyelamatkan Iwan. Biarlah kita tidak memaksakan beliau harus paham waktu dekat ini. Mudah-mudahan beliau paham dan meyadarinya, entah kapan…
Jika ternyata kalian tidak sependapat dengan ini semua, berarti saya gagal…dan jika gagal tidaklah pantas direktur ini disematkan di diri saya. Itu sebuah harga yang paling pantas terucapkan bagi seorang muslim (sampai detik ini pikiran saya,) sebagaimana telah kita ketahui bagaimana sikap seorang muslim ketika saya memahami ini semua…bukan pengecut, tapi kebijaksanaan…
Saya harap ketika kalian baca surat ini, satu pemintaan untuk saya, pilihan mana yang harus kalian tempuh, pilihan pertama dan pilihan kedua kemudian setelah itu kita syuro….
Indahnya kebijaksaan, keputusan dan penyelamatan jiwa….
Afwan jiddan, inilah imam sebenarnya..ekstra ordinary
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh….

 

Surat terbika


Assalamualikum…
Segala puji bagi Allah, sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Kenyataan yang ada saat ini adalah kita ingin mengenal lebih jauh tentang kondisi seseorang, kita maupun orang lain, bagaimana kita mengenal mereka tidak sebatas penglihatan fisik semata, tapi penglhatan Bashirah akhirnya. Namun bagaimana kita mengenal bashirah itu, jika kita tidak pernah masuk kedalah rukunnya???
Hanya orang-orang yang bijaklah yang sanggup menembus itu,,,keimanan mereka diluar batas logika manusia-manusia biasa…yang akhirnya timbullah cahaya yang menyejukkan, mendamaikan, dan membuat enggan untuk tidak dekat dengan mereka…
Merekalah orang-orang yang sanggup menyelam kondisi seseorang, bagaimana seharusnya mereka berbuat, bahakan mereka mampu mengambil mutiara-mutiara lebih banyak dan lebih dalam dari yang empunya. Akhirnya kondisi seseorang itu dapat terlihat oleh orang yang mempunyai kekuatan itu dan mencoba untuk menuntun langkah yang empunya supaya mengenal lebih dalam…
Tapi berkedok dan bertameng baja mereka egois, sombong dan akhirnya mengeluarkan senjata pamungkas,”aku lebih tahu keadaanku daripada engkau!!!. Inilah yang sering membuat orang-orang terpedaya dengan slogan, be your self!!!.
Slogan macam apakah yang mereka yang mengusung dengan hawa nafsu???slogan jauh dari fitrahnya, slogan yang dibuat untuk menghancurkan sendi-sendi keimanan, sehingga pundi-pundi amal itu sedikit demi sedikit terkikis sudah dan syetan siap berpesta ria. Bagi mereka yang mengusung slogan itu, tidak berlebihan jika bisa dibilang mematikan cahaya…cahaya perubahan, cahaya kehidupan, sinar yang dapat menembus air minyak yang cahayanya bertebaran kemana-mana. Cahaya Allah…bagaimana mungkin seorang mu’min mencintai slogan itu,,,,
Mereka menghancurkan firman Allah: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Mereka juga mengingkari Rasulullah,”Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.” Dan menghancurkan sendi-sendi lain…
Wahai orang-ornag yang beriman, slogan jadilah dirimu sendiri adalah mempunyai karakteristik tersendiri, diantaranya adalah tidak mau berubah, mempunyai prinsip dengan nafsu, tidak mau untuk menjadi lebih baik, tidak mempunyai teladan sedikitpun dan mereka mengatakan,”TERSERAH GUE, YANG NGELAKUEN GUE…!!!
Engkaupun akan tahu bagaimana watak orang yang kesehariaanya bersama-sama manusia dengan orang bersama benda-banda mati(computer,dll). Cobalah lihat dengan bashirah kita perbedaannya…akan sangat jelas perbedaannya…jauh lebih baik jika kesehariaanya bersama manusia…
Tidak ada jalan lain bagi orang yang ingin menempuh bashirah itu selain dekatkan kepada Allah, kenali sifat-sifatNya, perintahNya, dan Larangan-Nya. Jika kepada kita ditanyakn, apa yang terjadi jika kita masuk kedalam penjagaan Allah???
Entahlah rasanya sangat gampang mencari teori-teori yang dicipta oleh manusia pembangkang…tapi sungguh tidak ada teori selain merujuk kepada Al-Qur’an.
Mari selami tujuan Allah dalam surat al-hujurat:13
 ••           •      •    
13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Laki-laki sungguh beda dengan perempuan, tentunya tidak hanya fisik melainkan unsure-unsur yang sengaja Allah ciptakan. Tidak semua insur laki-laki ada diperempuan begitupun sebaliknya…semunay hamper bersifat membutuhkan satu sama lain..
Tekadang kita begitu kaget tentang seseorang..dan kita terlalu risau dengan seseorag itu, padahal telah jelas bagi siapa yang mengetahui. Akibatnya timbulah permasalahan-permasalahan berwawla dari sini, dikarenakan kita tidak mengetahui dengan pasti seperti apakah keinginan, harapan, ketakuatan dan sejenis itu sehingga kita begitu sulit uantuk mencari cara menuju pemecahan masalah…
Memang hidup ini hanyalah permainan, dan seolah-olah Allah memberi pengarahan jika kita ingin mengetahui, segeralah berkumpul dan berbangsa-bangsa. Supaya saling mengenali satu sama lain, bukan hanya terlihat tapi jauh tentang kondisi seseorang….
Dan setelah kita tahu kondisi seseorang, barulah kita tahu siapa yang terbaik bagi kita, slogan apakah yang akan kita usung, kita tinggikan dan kita banggakan…makanya setelah itu Allah berkata,Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu….
Inilah sesungguhnya sloga yang pantas untuk para pencari hidayah, slogan ini jelas mempunyai khas, memberi harapan, menghancurkan pesimis, menguatkan yang lemah, meningkatkan semangat dan yang paling indah adalah meciptakan cahaya yang sempet padam.
Hanya slogan inilah yang menghantarkan para pemilik cacat menjadi luarbiasa. Bahkan lebih baik dari orang yang Sempurna!! Hanya slogan inilah yang membuat sejarah kisah-kisah orang sukses didunia maupun akhirat…hanya slogan inilah yang mampu menampung slogan-slogan yang searah dengan ini…hanya slogan inilah yang sejatinya menampung Arahan-arahan dalam Islam bersumber dari dua sumber hukum….
Andai aku, anda, semua merindukan itu…mengharapakn itu…mencintai itu, niscaya apa-apa yang kita harapkan selam ini akan membuahkan hasil yang menawan,,indah dan melenakan…

Dan hanya orang-orang anehlah yang berjuang bersama untuk meminta harapan itu, hanya orang-orang asinglah yang menitikan air mata kerinduan untuk merasakan apa yang mereka usahakan…hanya orang-orang Ghurobalah yang membawa kehidupan kita menjadi lebih baik….
Dan kita akan dipertanyakan, kelompok ini membutuhkan pejuang-pejuang utnuk meneruskan misi mereka…misi yang berupa cinta, cinta visi dan misi,,,namun perjuangn itu amatlah sulit..
Apakah engkau berani seperti istri,anak-anak, pambantu fir’aun dimasukan kedalam kuwali yang panas hidup-hidup???
Apakah engkau mau seperti nabi Nuh yang berdakwah siang dan malam hampir seribu tahun tanpa henti, tetapi hidayah itu datang hanya sedikit orang??? Beliau juga ketika berdakwah, orang-orang pada lari sambil menutup telinga mereka dengan jari-jari mereka. Apakah engkau siap seperti itu???
Apakah engkau sanggup berani dan tabah seperti Ibrahim yang benar-benar tidak kuasa ketika akan dibakar api???apakah kita akan teguh dan bersabar ketika jibril mau membantu beliau, tapi Ibrahim menolak,”Aku butuh pertolongan Allah, bukan engkau???
Apakah engkau siap menerima perlakuan seperti Yusuf yang karena ketampanannya membuat kesengsaraan bagi dirinya, menahan nafsu ketika nafsu itu tebuka dengan lebar dan menahan derita ketika dipenjara,,,,???
Apakah engkau ingin seperti nabi Isa yang penuh kemalangan itu???
Apakah engkau ingin seperti Rasulullah yang ketika sholat, seorang kafir menaruh tai onta ketika bersujud???
Apakah engkau ingin seperti seseorang yang ditimbun diatas pasir yang panas kecuali kepalanya, kemudian kepalanya digergaji dengan sangat ngeri???
Apakah engkau bisa seperti abu bakar yang selalu terhimpun segala kebaikan dari dirinya???
Apakah engkau bisa membuat malaikatpun malu seperti para malaikat bertemu dengan Usman bin affan???
Apakah engaku sanggup seperti kisah-kisah mengharukan imam-imam madzhab bagaimana perjuangannya???
Apakah engkau siap untuk berjuang, sedikit tidur, qiyam dan memikirkan persoalan umat seperti halnya imam Syahid Hasan Albana???
Atau Sayyid qutub berakhir ditiang gantungan karena bisa membuat sejarah membahayakan orang-orang penjajah dan kafir????
Dan orang-orang extra ordinary lainya yang tidak mungkin dijelaskan…
Jika engkau siap untuk itu, maka sesungguhnya Engkau telah termasuk jalan ini. Jika sebaliknya kehinaan bagi mereka yang meninggalkan mutiara-mutiara di jalan ini.
Yang lebih indah, lebih bijak, lebih menghidupkan adalah jangan pernah bermain otak,”itu kan para nabi, para sahabat,ulama-ulama???” jika kita dipaksa slogan ini, maka tidak layak untuk ada disini…dijalan ini…
Semuanya adalah mampu,,,dan bisa,,,dan ada batasan-batasan yang kita tidak boleh msuk kedalam batasa rahasia itu,,,,,
Bisa, Semangat Allahu Akbar!!!!

Assalamualaikum….

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Syah Dasrun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger